London akan dipimpin seorang Muslim?

10835389_10152633077549775_6453310742762415751_o

Menciptakan sejarah adalah tantangan terbesar bagi seorang anak supir bis imigran asal Pakistan di Kota London, Inggris, seiring kompetisi politik pemilihan wali kota sudah menunggu di depan mata.

Pemilu yang akan digelar pekan depan, tepatnya 5 Mei 2016, akan menentukan tak hanya siapa yang menjadi orang nomor satu di London, tapi juga mematok sejarah baru di mana seorang Muslim bisa memimpin kota besar di negeri Barat untuk pertama kalinya.

Adalah Sadiq Khan (45), pria kelahiran Tooting, di kawasan London bagian selatan. Dikutip dari laman resminya http://www.sadiq.london, ia menjelaskan keluarganya pindah ke London dari Pakistan di tahun 1960-an.

Ayah Sadiq bekerja sebagai supir bis selama 25 tahun dan orang tuanya tinggal di rumah subsidi pemerintah sehingga mereka bisa menabung untuk membeli rumah sendiri.

Sadiq menjelaskan semua saudara kandungnya mendapatkan pendidikan yang sangat bagus di sekolah negeri dan tidak menciptakan tumpukan hutang biaya sekolah yang “segunung”.

Kehidupan yang jauh dari kata mewah tidak memupuskan semangat Sadiq menimba ilmu. Awalnya ia berniat untuk menjadi dokter gigi. Namun seorang guru menyarankannya untuk mempelajari Ilmu Hukum, menimbang sifat Sadiq muda yang sangat senang berargumen dan menggandrungi program televisi “LA Law”. Pilihan pun jatuh ke jurusan hukum di Universitas London Utara, demikian dikutip publikasi “The New Statesman” (11/3).

Selepas kuliah, Sadiq menjadi pengacara dan membuka firma hukum bersama mitranya Louise Christian. Firma “Christian Khan” itu beroperasi sejak 1997 hingga 2005 dan mempekerjakan sekitar 50 orang pegawai.

Memilih karir sebagai pengacara hak azasi manusia, Sadiq tercatat menangani kasus-kasus gugatan terhadap polisi, perselisihan urusan perburuhan, hukum yang diskriminatif, dan kejahatan terhadap kelompok minoritas.

Karir politik di tingkat nasional mulai dibangun pada tahun 2005 ketika ia memenangkan pemilu untuk Partai Buruh di daerah pemilihan Tooting. Di tahun yang sama, ia diganjar penghargaan “Pendatang Baru Terbaik” dalam pemilihan anggota parlemen tauladan versi majalah “The Spectator”.

Karir politik Sadiq cukup dibilang melejit bila bukan meledak, sebab di era Perdana Menteri Gordon Brown (2009), ia dipercaya menjadi Menteri Transportasi sekaligus Muslim dan keturunan Asia pertama yang masuk ke dalam kabinet pemerintahan Inggris.
Sadiq pun berhasil mempertahankan daerah pemilihannya di Tooting dalam pemilu 2010 dan 2015, meskipun tahun 2015 adalah masa sulit Partai Buruh.

Dengan prestasi yang gemilang di dunia politik, suami Saadiya Ahmed itu pun akhirnya dianugerahi penghargaan “Politisi Terbaik tahun 2016” oleh British Muslim Awards (http://asianworldnews.co.uk).

Pemilu wali kota London tahun ini membawa warna yang berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya, karena seorang kandidat Muslim di berbagai survei menunjukkan posisi yang sangat diunggulkan.

London dalam delapan tahun terakhir dipimpin oleh Boris Johnson, dan saat ini Boris mendukung kampanye pesaing terdekat Sadiq yakni Zac Goldsmith dari Partai Konservatif.

Dukungan politik buat politisi Muslim disebut-sebut kian menguat terutama karena susunan demografi Kota London yang unik. Satu dari tiap delapan warganya adalah penganut agama Islam. Dengan kata lain, 12,5 persen populasi London adalah pemilih potensial berbasis keagamaan untuk Sadiq. Selain itu, penduduk kulit putih keturunan Inggris di London hanya separuh dari total populasi.

“Saya ingin menjadi Muslim Inggris yang menaklukkan ekstrimisme dan radikalisasi,” ujar Sadiq seperti disitir dari laman http://www.ABC.net.au.

Persaingan politik di London kali ini akan menyandingkan kompetisi antara anak supir bis dan anak bilioner. Hal ini tak lain karena Zac Goldsmith (41) adalah anak dari keluarga kaya raya Inggris, yang pernah bersekolah di Eton, seperti halnya Pangeran William dan Perdana Menteri David Cameron.

Sebagai orang yang datang dengan latar belakang Muslim dan imigran, Sadiq mencatat justru London adalah kota terbaik untuk hidup sebagai seorang Muslim.

Di publikasi majalah politik berusia lebih dari 500 tahun, “The Spectator” (www.spectator.co.uk), ia menegaskan anak-anaknya sudah sangat tepat tumbuh besar di London karena “…hukum di sini melindungi mereka dari tindakan diskriminasi.”

“Hukum di sini telah melindungi hak-hak saya bisa misalnya saya ingin berwudhu dan sholat. Saya bisa memanjangkan janggut, dan bila istriku memang berkehendak ia bisa saja menggenakan hijab” tanpa harus mengalami diskriminasi atau intimidasi, ujar pria berambut putih tersebut.

“Kita harus menjelaskan kepada masyarakat di negara dengan mayoritas Muslim bahwa saya adalah representasi Barat, dan bila mereka membenci Barat, berarti mereka membenci saya,” tambah dia.

Tapi “kartu agama” yang menjadi salah satu senjata politik sekaligus pencitraan Sadiq tidaklah elok bila terus-terusan diusung. Sebab pemilu bukan semata soal agama atau latar belakang kehidupan para kandidat. Pemilih akan memilih siapa yang menawarkan program kerja terbaik, solusi paling realistis buat tumpukan masalah mereka.

London masih menghadapi persoalan angka pengangguran yang tinggi yaitu sekitar 6,3 persen, setara dengan 291.000 orang di Februari 2016 (www.data.london.gov.uk). Angka ini lebih buruk daripada kondisi nasional Inggris yaitu 5,1 persen.

 

*Tulisan ini telah tayang di:

  1. http://www.antaranews.com/berita/557506/london-akan-dipimpin-seorang-muslim
  2. http://sp.beritasatu.com/home/sadiq-khan-muslim-pertama-di-bursa-walikota-london/114531
  3. http://kabar24.bisnis.com/read/20160427/19/542118/sadiq-khan-muslim-pakistan-wali-kota-london
Advertisements

Kost2an ala Australia

image

Ada air mancur di depan rumah, laporan foto saya kirim ke agen setelah urusan listrik  kelar.

Sebuah mimpi buruk dan absurd membangunkanku dari tidur di ranjang bertingkat di sebuah hostel murah di pusat Kota Adelaide. Sinar matahari menusuk masuk dari sedikit celah di kaca sisi ujung ruangan berukuran sekitar 6×3,5 meter. Ternyata cahaya matahari persis menyorot bagian bantalku, seolah menjadi pemaksa, pengusir malas dan kantuk. Dan aku pun terbangun dengan kombinasi rasa marah di mimpi dan gelisah sinar matahari yang sudah memanas.

Tak seberapa lama, kurang dari lima menit kurasa, HP pun bergetar. “Papano” tertulis tampil di layar 5,5 inchiku. “A! Tumben dia telpon duluan”, pikirku. Dan kalimat keduanya setelah bertanya kabar adalah kalimat paling darurat dari Perth.

“Manda, parah Manda! Listrik semua mati, kecuali lampu. Gimana ini ya?” ujarnya.

Kejadian listrik padam di bagian semua colokan di rumah sudah pernah terjadi sebelumnya. Persis waktu yang sama, yaitu saat Mami sedang berada di Perth. Tapi bedanya saya sedang di luar kota sekarang, long weekend karena Seninnya ANZAC Day.

Di komplek tempat kami tinggal, semua saklar listrik utama terletak di dalam semacam gardu di belakang garasi dan dikunci oleh agen pengelola properti. Kalau saklar colokan mati, opsi yang tersedia cuma hubungi agen dan berharap dia segera datang menaikkan lagi saklar di ruang kecil itu. Kasus yang sekarang agak berbeda, sebab kejadiannya di hari Minggu dan libur hingga kantor masuk lagi normal hari Selasa. Tetangga Vietnam pernah cerita dia mengalami kasus serupa dan yang datang adalah tukang listrik sebab listrik padam di hari libur, kemudian ia kena tagihan 200 dolar hanya untuk menaikkan saklar “cek-klak”! 😉

Berangkat dari pengalaman buruk si tetangga, kami pun memutuskan uk menunda kabari agen, dan titip daging ke tetangga2 terdekat. Sempat pula numpang masak, hahaha…semua karena takut kena “denda” 200 dolar manggil tukang listrik ke rumah!

Tapi pagi ini adalah ujian kesabaran buat kami serumah. Email ke agen sejak Senin malam tidak dibalas, telpon tidak diangkat, dan terpaksa saya harus hampiri kantornya sendiri. Saya harus tanya dan minta dia datang. Jam 12 dia email, dan katanya dia tidak jadi datang ke unit, melainkan tukang listrik akan periksa apakah ada kerusakan korslet di alat2 listrik rumah kita.

Tukang listrik yang sopan dan ramah datang sekitar pukul 2.15, saat2 kami sudah bersiap ke kantor agen dan minta penjelasan kapan tukang listrik akan datang? Penolong kami di urusan saklar akhirnya menjelaska  bahwa 200 dolar hanya akan dikenakan kepada si-penghuni kalau memang ada alat korslet di unit kita. Sementara unit kami, setelah si tukang listrik tunggu beberapa lama dan lihat2 saklar tidak turun lagi, akan langsung dia laporkan kepada agen sebagai bukan kesalahan penghuni. Jadi, bebaslah kami dari ongkos 200 dolar tadi hahaha… Kalau ditanya kenapa saklar jeglak? Entah, kami tdk pasang heater, tdk pun pakai kipas angin atau alat listrik yg berpotensi rusak atau korslet.

Sekitar jam 2.30 suasana rumah kami kembali normal, bisa masak dan bisa recharge baterei laptop, dll. Mami juga riang gembira. Saya khusus bawakan segelas kopi hangat dari perpustakaan setelah rapat singkat dgn supervisor di ruangannya. Ya, rapat minta tanda tangan saja. Dia berpesan, “Sekarang kamu mulai deh fokus nulis. Gak usah presentasi2 lagi dulu.” Iya pak. Siap kerjakan pak.

Hahaha… riangnya hati ini 🙂 Sebab tukang listrik juga sudah benahi lampu luar komplek yang beberapa pekan sempat padam, membuat malam menjadi super gelap gulita, lebih2 suasana desa.

KIPI Adelaide

Ibarat perempuan hamil yang kemudian melahirkan setelah sekitar 9 bulan, maka hari ini adalah hari saya melahirkan KIPI setelah lima bulan mempersiapkannya. Sebuah konferensi akademik yang digelar Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia (PPIA) dan rutin digelar setiap dua tahunan. Untuk KIPI tahun ini, saya terlibat sebagai Streering Committee karena posisi saya sebagai ketua divisi akademik. Ini pun terjadi karena kebetulan saya mendapat limpahan dari ketua sebelumnya.

Tema tahun ini adalah tentang masyarakat digital menghadapi milenium baru, memaksimalkan peluang. Topik yang menurut saya sangat pas dan relevan untuk Indonesia dari berbagai sudut pandang ilmu. Sangat hangat beririsan dengan sektor kebijakan, realitas lapangan, serta riset akademik.

Berlokasi di kampus Flinders University, Adelaide, KIPI 2016 menghadirkan berbagai narasumber kunci di antaranya Duta Besar Indonesia untuk Australia, Pak Nadjib Riphat, perwakilan bos urusan sosial media Departemen Luar Negeri Australia, Menteri Perdagangan negara bagian Australia Selatan, Jembatan Flinders, profesor di bidang sosial media, dan VP Freelancer.com.

Dari dua sesi diskusi panel, banyak informasi yang dipaparkan oleh narasumber, termasuk diplomasi digital Indonesia dan Australia yang sebagian saya jadikan berita di Antara. Ada juga bahasan tentang kajian akademis pemanfaatan sosial media di dunia politik. Dan situs menyedia info lowongan kerja buruh lepas yang konon bisa mengubah peta pencarian pekerja dan pekerjaan. Semua itu terangkum dalam satu hari yang panjang, yang ditutup dengan acara santai di kantin berbangunan megah dan futuristik. Acara nyanyi-nyanyi dan makan nasi kuning. Tapi seru juga ada kegiatan seduh kopi khas Indonesia! Saya menikmati beberapa varian bijih kopi yang belum pernah saya minum sama sekali, dan memantik ide untuk belajar jadi barista!

Mount Lofty

image

Tiap kali ke taman botani, saya selalu merasakan udara yang bersih, kesejukan, dan rasa tenang. Terhampar “ijo royo-royo” di sepanjang mata memandang dari ketinggian sehingga bisa melihat dengan jarak hingga belasan bahkan puluhan kilometer.

Rejeki saya dan dua teman baru saya hari ini adalah berkunjung ke Mount Lofty Botanical Garden. Untuk menuju ke tempat ini, kita harus menempuh perjalanan sejauh 16 kilometer. Jalan tol yang menghubungkan negara bagian Australia Selatan dan Victoria ini saya duga keras membelah bukit cadas. Sempat saya berkelakar bahwa kita sedang jalan2 di tol Cipularang!

image

Langit Adelaide yang didominasi awan hari ini membuat cuaca lebih sejuk, dan angin sedikit terasa lebih kencang. Menurut sumber dari bacaan di Internet, taman botani Mt Lofty ini merupakan bagian dari wilayah yang dinamakan oleh Matthew Flinders di tahun 1802. Di tahun 1860-an, konon kawasan ini sudah punya institut/sekolah mekanik sendiri, ada sekolah, dan seorang hakim yang juga memiliki perkebunan anggur. Bahkan, di tahun 1872 pernah dikabarkan turun salju lebih dari tujuh sentimeter lho!

image

Apa sih yang khas banget dari taman botani Mt Lofty? Tak lain tak bukan ternyata daun pohon yang berwarna-warni yang dipercantik lagi ketika bertahap rontok dan berserakan di tanah. Hal ini hanya terjadi di musim gugur, mulai 1 April hingga 31 Juli. Beruntung, kami berkunjung ke tempat ini di musim gugur.

image

Karena terletak di bukit, kontur taman ini juga ada yang melandai dan mencuram. Anak-anak kecil sangat menikmati berguling-guling dari atas hingga ke bawah. Siap menunggu mereka di bawah adalah orang tua yang mengabadikan aksi dengan foto atau video.

Selain musim gugur, hari saya berkunjung ke Mt Lofty bertepatan dengan pekan liburan sekolah. Banyak anak kecil tampak bersama orang tua atau kakek nenek mereka berkunjung ke sana. Ada sebagian menggelar piknik, karena memang suasana taman sangat cocok untuk aktifitas santai bersama keluarga. Di bagian lain dari taman botani adalah danau yang dihuni oleh segerombolan angsa hitam, terdiri atas anak dan induk. Keceriaan pengunjung sangat jelas terpancar ketika memberikan makanan buat para angsa. Danaunya kecil, tapi berperan sangat cantik bak oase di atas bukit. Ada semacam jalan beraspal untuk pengunjung berjalan ke sisi seberang danau.

image

Suasana romantis segera menyergap bila melihat gradasi warna daun dari pohon yang berdiri tegak bersebelahan. Tampak sangat cantik bahkan bila semua daun sudah rontok dan menyisakan ranting dan daun sahaja. Apa sih yang tidak diciptakan dengan sempurna oleh Allah? 😉

image

Bedford Park, SA
21 April 2016

Terbang ke Adelaide

image

Ketika suami pulang dari kerja tadi siang, saya sedang membacakan buku cerita Nabi Sulaiman untuk Safiyya. Saya agak menyesal telah memperkenalkan dia dengan Youtube di hape dan laptop, sehingga ia sekarang “rajin” sekali meminta agar diizinkan nonton dari hape atau laptop saya. Sungguh itu bukan yang saya rencanakan dengan anak-anak kami. Sebisa mungkin deh jauh dari gadget sampai usia mungkin 7 tahun.

Lalu suami makan siang, bercerita soal hari ini melihat ada rumah yang lantai duanya ditempelkan dengan mesin yang besar sekali, sampai menutup tempat biasa dia parkir.

Saya sudah mandi dan rapih sebelum dia tiba. Jam 3 kami berangkat ke bandara. Anak-anak dan mami pun ikut. Sempat hampir ketinggalan hape, tp untung masih di depan rumah. Mampir ke perpustakaan Reid sebentar untuk mengembalikan buku yang sudah ditagih hari ini harus dipulangkan

Lanjut ke bandara, ternyata salah terminal. Jetstar domestik ada di T3, jadilah kami keluar lagi ke Tonkin Highway. Masih punya banyak waktu, kami tiba di T3 sekitar 1 jam sebelum waktu boarding.

Saya ke antrian bag drop kemudian berpamitan dengan mami dan Safiyya. Cium tangan suami juga, dan dia berpesan agar saya hati-hati di Adelaide. Selalu ada rasa berat meninggalkan anak, saya benci dengan keadaan yang satu itu. Tapi ini bukan senang2 buat saya. Berpisah dengan anak dan suami, untuk urusan kerjaan, bukan hal yang saya sukai tapi tidak boleh juga saya kutuk. Suami saya lelaki hebat dan sangat mendukung apapun yang saya kerjakan. Tim yang solid, itu selalu jadi tagline saya dengan dia alhamdulillah.

Di bandara saya mendapati T3 adalah terminal orang Perth yang mau pergi ke daerah tambang di WA atau negara bagian lain di Australia. Rasanya jarang saya jumpai orang selain kulit putih! Petugasnya yang memandu adalah beberapa ibu tua dan ketika saya tanyakan di mana tempat berdoa, ia menjawab sayangnya tidak ada. “Tapi di lantai atas pasti ada ruangan yang agak sepi yang bisa kamu pakai untuk ibadah”, begitu kira2 jawabannya.

Saya pun tersenyum dan berlalu. Ya, tempat ibadah ada di terminal internasional T1, tapi tidak di T3. Naik ke lantai dua adalah ruang tunggu keberangkatan. Ramai orang di pintu 21-25, di sana tertulis tujuan adalah Melbourne dan Adelaide. Mayoritas kulit putih, hanya saya mungkin yang berkerudung dan orang Indonesia.

Sebelumnya, saya wudhu di kamar kecil dan memilih untuk sholat di ruang menyusui, menggeser kursi sedikit. Terdengar ada suara pria mau masuk, tp tidak jadi setelah lihat saya sholat. Lalu berselang beberapa waktu ada ibu muda masuk mengganti popok bayinya. Selepas sholat, saya langsung minta maaf dan beralasan cuma tempat ini yg saya temukan agak sepi.

image

Duduk saya di pesawat tipe Boeing A320 itu di kursi 17E. Di tengah. Berkenalan dengan Elizabeth asal Tanzania yang sudah 4 tahun di Perth dan ingin pindah ke Adelaide saja berkumpul dengan keluarganya.

Perempuan berkaca mata ini sangat ramah. Ia bercerita tentang pekerjaannya di Perth. “Saya kerja di rumah jompo (age care) dan juga child care,” katanya.

“In this country, if you want a good job, you have to study.”

Elizabeth sudah mengantongi sertifikat 3 age care, sertifikat 3 child care, dan segera di Adelaide ia ingin sekolah asisten suster karena lowongan pekerjaannya sangat banyak, ujarnya. Saya sempat menyanggah. Bukankah di Perth sedang ada pemangkasan anggaran sehingga pekerja medis pun berkurang lowongannya? Ia terlihat agak bingung, mungkin tidak pasti apa yang harus menjadi jawabnya.

Di sela-sela obrolan kami, Elizabeth sempat menunjukkan foto2nya dalam balutan baju tradisional Afrika.

“Lihat. Kami orang Afrika suka pakai baju tradisional kami. Tidak suka pakai celana apalagi celana pendek.”

Perempuan yang baru menikah 4 tahun itu mengaku telah 5 kali mengalami keguguran, dan yang terakhir sebulan lalu keguguran terjadi di pekan ke 32. Perutnya buncit di foto yang dia tunjukkan. Sedih sekali.

Sementara itu, duduk di sebelah saya adalah seorang pria kulit putih yang diam saja. Dia memesan bir, ketika saya super senang makan kue mufin pisang yang besar dilengkapi dengan sajian coklat panas nan lezat. Semua itu cuma lima dolar, tunai. Kayaknya lebih murah di pesawat daripada di bawah haha…

image

Tak ingin “mati gaya” di perjalanan 3 jam di udara, saya membuka laptop merah dan mencoba menambah transkrip wawancara dengan narasumber di Jakarta. Awalnya fokus, tapi lama2 terasa mual di perut dan pening di kepala. Saya stop, dan mengatur nafas sembari mencoba tidur meski akhirnya gagal.

Perjalanan rupanya lebih lama dari jadwal, kawan saya yang mau menjemput sampai parkir di dekat bandara menunggu saya berada di pick up point. Jadi kalau dijemput, rata2 orang biasanya berdiri di pick up point, bukan dijemput benar2 di lobi kedatangan. Setelah mendarat, ada perjalanan yang agak jauh ke ban berjalan tempat tas-tas penumpang bisa diambil. Ada seorang ibu berjalan dengan dua anaknya, yang ternyata salah satunya memiliki daya lihat yang rendah. Ia berjalan memegang tongkat ke arah depan kakinya bergerak, sambil tangan lainnya digandeng sang bunda. Mereka tampak lelah sekaligus bahagia, dan ekspresi pertemuan di bandara memang sungguh khas! Suami membawa mobil, membukakan pintu buat anak2 dan istrinya. Mereka berciuman beberap detik, dan ketika semua koper masuk ke bagasi mobil dengan stiker bertuliskan Red Army di kaca belakang, si ibu dan si bapak kembali berciuman penuh kebahagiaan, bahkan sempat ada teriak kecil saat tubuh perempuan dipeluk diangkat sedikit ke udara. Ekspresif!

image

Saya pun masih menunggu ketika adegan keriangan itu berlalu. Tinggal saya dan beberapa petugas keamanan di ruas sepi. Dan tak lama adik kelas di UGM pun tiba dengan mobil sedannya. Elizabeth juga sdh dijemput adiknya. Malam ini saya mulai menginap, adaptasi dengan keasingan, tapi semoga besok hariku menyenangkan!

Menyusun “Buku” Baru

Malam ini saya sama sekali tidak bisa tidur. Rasanya sulit memejamkan mata untuk beberapa alasan yang mungkin saya saja yang bisa mengerti. Berbeda dengan malam-malam sebelumnya, Safiyya yang mengeluh sembari menangis merintih dan baru bisa terlelap jam 12 malam, dilanjutkan saya yang membaca-baca unggahan kawan di Facebook, sehingga saya terdampar di sebuah blog yang super menggugah.

Blog itu membangkitkan kembali kebiasaan saya yang sudah agak lama tenggelam, kebiasaan apalagi kalau bukan menulis blog! Dulu saya sudah menulis di blog. Mulai dari curhat gak penting, sampai materi bahan berita. Di blog lama saya itu, saya menjalin komunikasi dengan orang-orang yang dekat dengan saya.

Metode ini terbukti efektif karena ketika saya ke luar negeri untuk liputan misalnya, saya bisa unggah perkembangan saya di sana, dan mendapat respon dari sahabat-sahabat dekat saya (yang akhirnya salah satunya menjadi suami saya). Saya bahkan berkenalan dengan orang yang tidak pernah saya jumpai di keseharian, tapi dia sangat rajin komentar di setiap materi dan sering juga kami akhirnya bertelpon membahas secara “offline”.

Persoalan dengan blog lama saya itu klasik. Saya sakit hati. Atau patah hati, entah mana yang lebih pas. Saya merasa si penyedia layanan blog itu demikian kejam “merampas” dan “memusnahkan” semua memori yang saya simpan karena secara sederhana layanan itu tiba-tiba diumumkan akan segera dihapus secara permanen! Siapa sangka? Dan akhirnya di akhir 2008 berkenalan dengan media sosial, yang jujur tidak akan pernah sehebat blog untuk urusan-urusan seperti yang dijabarkan Pak Romi.

Saya sangat percaya malam ini adalah momennya. Saya mau menyusun “buku” baru, membangun jejak-jejak yang disusuri dengan harapan semua ini menjadi ikhtiar saya mengikat sedikit ilmu yang saya pelajari dan alami, siapa tahu bermanfaat bagi pembacanya. Kalau tidak berguna untuk pengunjung, minimal masih ada gunanya bagi saya sebagai penyimpan “celoteh” 🙂

Bismillah, semoga blog ini menghibur!

Perth,

Selasa 19 April 2016