Kost2an ala Australia

image

Ada air mancur di depan rumah, laporan foto saya kirim ke agen setelah urusan listrik  kelar.

Sebuah mimpi buruk dan absurd membangunkanku dari tidur di ranjang bertingkat di sebuah hostel murah di pusat Kota Adelaide. Sinar matahari menusuk masuk dari sedikit celah di kaca sisi ujung ruangan berukuran sekitar 6×3,5 meter. Ternyata cahaya matahari persis menyorot bagian bantalku, seolah menjadi pemaksa, pengusir malas dan kantuk. Dan aku pun terbangun dengan kombinasi rasa marah di mimpi dan gelisah sinar matahari yang sudah memanas.

Tak seberapa lama, kurang dari lima menit kurasa, HP pun bergetar. “Papano” tertulis tampil di layar 5,5 inchiku. “A! Tumben dia telpon duluan”, pikirku. Dan kalimat keduanya setelah bertanya kabar adalah kalimat paling darurat dari Perth.

“Manda, parah Manda! Listrik semua mati, kecuali lampu. Gimana ini ya?” ujarnya.

Kejadian listrik padam di bagian semua colokan di rumah sudah pernah terjadi sebelumnya. Persis waktu yang sama, yaitu saat Mami sedang berada di Perth. Tapi bedanya saya sedang di luar kota sekarang, long weekend karena Seninnya ANZAC Day.

Di komplek tempat kami tinggal, semua saklar listrik utama terletak di dalam semacam gardu di belakang garasi dan dikunci oleh agen pengelola properti. Kalau saklar colokan mati, opsi yang tersedia cuma hubungi agen dan berharap dia segera datang menaikkan lagi saklar di ruang kecil itu. Kasus yang sekarang agak berbeda, sebab kejadiannya di hari Minggu dan libur hingga kantor masuk lagi normal hari Selasa. Tetangga Vietnam pernah cerita dia mengalami kasus serupa dan yang datang adalah tukang listrik sebab listrik padam di hari libur, kemudian ia kena tagihan 200 dolar hanya untuk menaikkan saklar “cek-klak”! 😉

Berangkat dari pengalaman buruk si tetangga, kami pun memutuskan uk menunda kabari agen, dan titip daging ke tetangga2 terdekat. Sempat pula numpang masak, hahaha…semua karena takut kena “denda” 200 dolar manggil tukang listrik ke rumah!

Tapi pagi ini adalah ujian kesabaran buat kami serumah. Email ke agen sejak Senin malam tidak dibalas, telpon tidak diangkat, dan terpaksa saya harus hampiri kantornya sendiri. Saya harus tanya dan minta dia datang. Jam 12 dia email, dan katanya dia tidak jadi datang ke unit, melainkan tukang listrik akan periksa apakah ada kerusakan korslet di alat2 listrik rumah kita.

Tukang listrik yang sopan dan ramah datang sekitar pukul 2.15, saat2 kami sudah bersiap ke kantor agen dan minta penjelasan kapan tukang listrik akan datang? Penolong kami di urusan saklar akhirnya menjelaska  bahwa 200 dolar hanya akan dikenakan kepada si-penghuni kalau memang ada alat korslet di unit kita. Sementara unit kami, setelah si tukang listrik tunggu beberapa lama dan lihat2 saklar tidak turun lagi, akan langsung dia laporkan kepada agen sebagai bukan kesalahan penghuni. Jadi, bebaslah kami dari ongkos 200 dolar tadi hahaha… Kalau ditanya kenapa saklar jeglak? Entah, kami tdk pasang heater, tdk pun pakai kipas angin atau alat listrik yg berpotensi rusak atau korslet.

Sekitar jam 2.30 suasana rumah kami kembali normal, bisa masak dan bisa recharge baterei laptop, dll. Mami juga riang gembira. Saya khusus bawakan segelas kopi hangat dari perpustakaan setelah rapat singkat dgn supervisor di ruangannya. Ya, rapat minta tanda tangan saja. Dia berpesan, “Sekarang kamu mulai deh fokus nulis. Gak usah presentasi2 lagi dulu.” Iya pak. Siap kerjakan pak.

Hahaha… riangnya hati ini 🙂 Sebab tukang listrik juga sudah benahi lampu luar komplek yang beberapa pekan sempat padam, membuat malam menjadi super gelap gulita, lebih2 suasana desa.