Penyakit Ginjal di Australia

Perth, 23/5 (Antara) – Setiap pekan terakhir di bulan Mei, advokasi kepedulian terhadap kesehatan organ ginjal digelar di Australia.

Pada tahun ini kampanye dilakukan mulai 22 hingga 28 Mei, dan organisasi “Kidney Health Australia” merilis laporan sebaran perkiraan pasien secara nasional.

Mengutip siaran pers CEO “Kidney Health Australia”, Anne Wilson, Senin, penyakit ginjal kronis adalah persoalan yang semakin serius di negeri itu.

Beban finansial akibat penyakit ini bukan main-main besarnya, mencapai empat miliar dolar Australia atau setara Rp40 triliun per tahun.

Mahalnya pembiayaan ini tercermin dari jumlah pasien dengan permintaan layanan cuci darah yang telah menjadi alasan paling banyak orang dirawat di rumah sakit di seluruh Australia. Sepanjang tahun 2014-2015, tercatat 1,3 juta pendaftaran masuk rumah sakit adalah untuk cuci darah.

Dilihat dari prevalensinya, mereka yang berlatar belakang suku pribumi Australia berpeluang menderita penyakit ginjal kronis dua kali lipat lebih besar dibandingkan non-pribumi.

Lebih dari 1,7 juta orang dewasa Australia saat ini hidup dengan indikasi penyakit ginjal kronis, namun 90 persen di antara mereka tidak menyadari hal tersebut.

Berdasarkan pemetaan lokasi pasien, diperkirakan di kawasan selatan kota Brisbane (Queensland) terdapat sekitar 96.200 orang yang mengalami penyakit ginjal kronis, lalu sebanyak 74.500 orang di kawasan Hunter utara Kota Sydney, dan bagian timur kota Melbourne ditaksir terdapat 63.400 orang.

Sebagai penyakit dengan julukan “si pembunuh diam-diam”, penyakit ginjal kronis bisa menimpa siapa saja. Penderita bahkan terkadang baru tersadar ginjalnya bermasalah ketika fungsi organ hanya tersisa 10 persen.

Orang dengan penyakit ginjal kronis memiliki resiko yang jauh lebih besar untuk mengalami penyakit-penyakit lain, termasuk 2-3 kali lebih besar resikonya untuk terkena serangan jantung. Peluang kematian juga 20 kali lebih besar daripada resiko kematian akibat cuci darah atau transplantasi ginjal.

kidney week

(Foto: Youtube.com)

Data statistik Australia menunjukkan setiap 25 menit terjadi kematian yang terkait dengan penyakit ginjal kronis, angka ini 16 kali lipat lebih besar daripada angka kematian akibat kecelakaan di jalan raya.

Secara nasional diperkirakan setiap tahun terdapat 16.000 kasus baru orang dewasa yang mengalami penyakit ginjal kronis.

Selain kampanye bergaya hidup sehat, pekan kesehatan ginjal juga diisi dengan promosi pemeriksaan fungsi ginjal.

“Sebab bila penyakit ginjal terdeteksi lebih awal, maka penyakit itu bisa ditunda perkembangannya ke taraf yang lebih parah hingga 50 persen,” ujar Anne Wilson menjelaskan.

“Itu sebabnya kami mendesak agar pemerintah federal membiayai pemeriksaan yang terintegrasi dengan dokter umum. Investasi deteksi dini penyakit ginjal kronis tidak hanya menekan biaya sistem kesehatan, tapi juga menunda kebutuhan untuk cuci darah, sehingga meningkatkan kualitas hidup pasien,” tambahnya.

“Kidney Health Australia” mencantumkan di laman resminya beberapa hal yang patut dicermati setiap orang, tak pandang usia dan kelamin. Bila seseorang mengalami diabetes, tekanan darah tinggi, gangguan jantung, atau pernah mengalami serangan stroke, maka ia harus segera menguji kondisi ginjalnya.

Terlebih bila seseorang dengan kebiasaan merokok, berat badan terlalu gemuk, dan berusia di atas 60 tahun, pemeriksaan kondisi ginjal adalah hal yang sepatutnya menjadi prioritas.

Anne Wilson menyebutkan kampanye pendidikan tentang ginjal sehat harus dilakukan sejak kanak-kanak, sebab konsumsi gula buatan yang berlebihan bisa memicu kerusakan ginjal.

“Setiap anak yang meminum 600 ml minuman ringan sama dengan dengan menenggak 16 sendok teh gula. Bila terjadi secara terus menerus maka kesehatan mereka bisa terganggu dan berbagai resiko penyakit akan meningkat termasuk penyakit ginjal kronis,” ujarnya.

Dengan sistem air yang tersedia di rumah-rumah dan tempat umum di Australia secara gratis, sudah sepatutnya anak-anak dan orang dewasa mengkonsumsi lebih banyak air daripada minuman ringan bersoda.

Lebih lanjut Anne, yang sudah menyatakan rencananya untuk mundur dari posisi yang telah diembannya selama beberapa belas tahun terakhir, menegaskan bahwa, “tantangan kita sekarang adalah mengalahkan dampak dari iklan jutaan dolar yang menggoda anak-anak dan remaja kita untuk meminum minuman ringan.”

Dalam kesempatan berbeda, Ketua Asosiasi Ahli Nefrologi Australia dan Selandia Baru, Dr Joshua Kausman, menjelaskan bahwa untuk mengatasi tren peningkatan penderita penyakit ginjal kronis dibutuhkan sedikitnya tiga langkah utama.

Pertama adalah pendidikan soal kesehatan ginjal, kedua terkait dengan pelayanan terhadap pasien, dan yang terakhir adalah mengurangi resiko-resiko munculnya penyakit ginjal kronis.

“Obesitas dan tekanan darah tinggi adalah dua faktor resiko yang paling utama dan perkembangan banyak penyakit komplikasi di usia dewasa, termasuk penyakit ginjal, tapi sering sekali penyakit ini berakar dari masa kanak-kanak,” tukasnya.

“Sedari kecil, anak-anak harus diajarkan pola hidup hyang sehat untuk mencegah beraneka penyakit di usia tua,” pungkasnya.

Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan sekitar 10 persen dari populasi dunia menderita penyakit ginjal kronis dan diperkirakan angkanya bakal meningkat hingga 17 persen pada 10 tahun mendatang.

Bagaimana dengan Indonesia?

Di Indonesia, prevalensi penyakit ginjal kronis di Indonesia terus meningkat setiap tahun. Hasil studi epidemiologi Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) tahun 2005 menunjukkan sebanyak 12,5 persen dari masyarakat diketahui mengidap penyakit ini.

Masih berdasarkan data Pernefri, sampai tahun 2012 pasien yang mengalami penyakit ini mencapai 100.000 orang.

Berita Kantor Berita Antara di tahun 2013 menyebutkan bahwa sekitar 80.000 orang di Indonesia melakukan terapi cuci darah secara rutin dan setiap tahunnya terdapat 2.700 kasus baru pengidap gangguan ginjal kronis.

Sebuah rumah sakit daerah di Tulungagung, Jawa Timur, mengaku kewalahan untuk melayani pasien yang membutuhkan layanan cuci darah. Setiap bulannya terdapat 20-30 pasien baru yang membutuhkan terapi tersebut, sementara alat yang dimiliki hanya 18 buah dan saat ini sudah menangani 152 orang pasien berobat rutin.

“Tapi itu tidak menggambarkan kondisi riil di lapangan, karena sebenarnya penderita gagal ginjal kronis itu (di Tulungagung) banyak sekali,” kata Kepala Ruang Hemodialisa RSUD dr Iskak, Tulungagung, Tuhu Suwito (17/3/2016).


 

Artikel ini juga sudah muncul di AntaraJabar.com. Enjoy!

Advertisements

Kala Pengungsi Pun Dituduh “Perampas”

ilustrasi pengungsi

Perth, 22/5 (Antara) – Politik dalam negeri Australia saat ini sedang berada di masa yang bergeliat, tak lain karena ini adalah masanya kampanye di mana setiap politisi berusaha membangun opini agar mendapat dukungan dari publik.

Kampanye 56 hari dimulai pada awal Mei dan ini akan menjadi masa kampanye terpanjang menyamai kondisi di tahun 1960-an. Pemilu federal yang akan digelar pada 2 Juli memperebutkan total 150 kursi anggota “House of Representatives”/DPR dan 76 kursi senator.

Salah satu dinamika yang patut dicermati di pekan kedua kampanye adalah pernyataan Menteri Imigrasi Peter Dutton soal pengungsi.

Partai Hijau mendesak agar kuota tahunan penerimaan pengungsi naik menjadi 50.000 orang per tahun. Sementara Partai Buruh mengusulkan agar kuota naik secara bertahap menjadi 27.000 per tahun dalam satu dekade ke depan. Saat ini, kuota penerimaan pengungsi adalah 13.750 per tahun dengan tambahan 12.000 khusus dari Suriah dan Irak diumumkan PM Tony Abbott tahun lalu. Pemerintah berjanji meningkatkan kuota 18.750 di tahun 2019.

Dutton dalam sebuah wawancara radio, Rabu (18/5), menanggapi semua usulan itu dengan menuduh mayoritas pengungsi buta huruf dan buta angka dalam bahasanya sendiri, apalagi Bahasa Inggris.

Tuduhan Dutton tidak berhenti di situ. Ia melanjutkan, “Orang-orang ini akan merebut lapangan kerja di Australia, itu sudah pasti! Dan banyak dari mereka yang akan menjadi pengangguran, mereka akan merana di antrian (sebagai) pengangguran dan di antrian Medicare (asuransi kesehatan-red) dan sebagainya. Jadi jelas biayanya akan sangat besar,” ujar Dutton.

Memahami sensitifnya tuduhan sang menteri, buru-buru PM Turnbull, Menteri Luar Negeri (Menlu) Julie Bishop, dan beberapa politisi Partai Liberal kompak mendukung Dutton. Mereka sepakat bahwa biaya relokasi pengungsi di Australia memang sangat tinggi dan adalah wajar bila pengungsi yang datang dari daerah konflik kebanyakan buta huruf.

Di mata Turnbull, Dutton adalah “menteri yang luar biasa” karena selama 600 hari terakhir tidak ada satu pun kapal pengungsi yang mendarat di pantai Australia.

Sementara Julie Bishop menyebut pernyataan Dutton adalah fakta yang tak terbantahkan soal mahalnya biaya relokasi pengungsi, dan pemerintah tidak ingin mereka cuma jadi pengangguran bila sudah berada di Australia.

Tapi apakah tuduhan Dutton berdasar kepada fakta? Ataukah ini tak lebih dari politik rasa takut yang digembor-gemborkan semata untuk mencari popularitas?

Berdasarkan sebuah laporan yang dirilis Departemen Layanan Sosial di tahun 2011, “75 persen pengungsi yang masuk ke Australia dengan visa kemanusiaan adalah lulusan SMA, dan 35 persen di antaranya memiliki kualifikasi sarjana.”

Data terbaru yang menelaah 2.300 pengungsi yang tiba di Australia tahun 2013-2014 menyebutkan 44 persen perempuan dan 33 persen laki-laki tidak bisa berbicara dalam Bahasa Inggris. Selain itu, 23 persen perempuan dan 17 persen pengungsi buta huruf di bahasanya sendiri. Namun setelah tinggal setahun hingga lima tahun di Australia, hampir separuh responden mengaku sudah bisa berbicara dalam Bahasa Inggris dengan baik.

Survei di tahun 2014 juga menemukan 20 persen perempuan dan 13 persen laki-laki tidak pernah sekolah, angka ini kontras bila dibandingkan dengan data tahun 2010 di mana 61 persen responden adalah lulusan minimal SMA.

Lalu bagaimana dengan tuduhan Dutton tentang pengungsi yang bakal banyak jadi pengangguran?

Laporan tahun 2010 menunjukkan bahwa 24,1 persen pengungsi yang tiba di Australia telah mendapat pekerjaan. Sebanyak 20,4 persen menempuh pendidikan penuh waktu, dengan 10,1 persen dari responden merupakan mereka yang menggabungkan bekerja dan belajar.

Sebanyak 1,6 persen pengungsi bahkan membuka lapangan pekerjaan baru dengan bisnis mereka, sementara angka pengangguran yang aktif mencari pekerjaan adalah 11,3 persen.

Tren angka pengangguran di tingkat nasional dalam setahun hingga April 2016 menunjukkan penurunan 0,4 persen ke titik 5,7 persen, dengan jumlah pekerja mencapai 11,9 juta orang.

Terkait dengan biaya relokasi pengungsi di Australia yang disebut-sebut membebani para pembayar pajak sebanyak 100 juta dolar per tahun, tes data oleh “The Conversation” menemukan kalkulasi itu tidak pernah jelas sumbernya. Lebih lanjut, terdapat 26.000 orang pengungsi dengan perahu sejak 13 Agustus 2012 yang tidak diperkenankan bekerja setelah dibebaskan dari pusat detensi, dan hidup mereka bergantung kepada dana bantuan Centrelink.

Keji dan Jahat

Senator dari Partai Hijau, Sarah Hanson-Young, menyebut komentar Menteri Imigrasi sebagai hal yang “keji dan jahat” karena memamerkan cara berpikir Partai Liberal melihat orang-orang yang mencari perlindungan ke Australia.

Kecaman serupa datang dari pemimpin Partai Buruh, Bill Shorten, yang menyebut tudingan Dutton “sangat memecah belah dan ofensif”, mirip dengan strategi politisi Pauline Hanson berkampanye.

Australia adalah negeri yang sangat erat dengan sejarah migrasi, Shorten menegaskan, “Ketika Peter Dutton menghina pengungsi, ia menghina orang Australia.”

“Ada ratusan ribu pengungsi di Australia. Mereka bekerja dengan keras, mereka mendidik diri mereka dan anak-anak mereka, dan mereka jelas akan menggeleng-gelengkan kepala mendengar pernyataan menteri ini,” ujar Chris Bowen, menteri keuangan pihak oposisi.
Seorang warga Lakemba, Moses, menilai pernyataan Dutton sangat tidak masuk akal.

Sebagai migran, saya menunggu empat tahun untuk akhirnya sampai di sini,” ujarnya di laman ABC.

Sementara itu, kelompok advokasi pengungsi dan keadilan sosial, Edmund Rice Centre, mendesak agar Turnbull “menjewer” Dutton yang sudah melampaui batas.

Menurut Direktur Edmund Rice Centre, Phil Glendenning, tudingan Dutton tak lebih dari penyebutan yang paling rendah di masyarakat, yaitu prasangka dan fanatisme.

“Tak hanya komentar Dutton itu tidak akurat, tapi sangat ofensif terhadap ratusan ribu migran yang datang ke sini selama beberapa generasi,” kata dia dikutip Guardian.

Ia pun mengungkapkan pernyataan Dutton yang sebetulnya kontradiktif, “Bila memang pengungsi itu kebanyakan buta huruf, buta angka, dan mengantri sebagai pengangguran, bagaimana mungkin mereka ‘merampas pekerjaan orang Australia’?”

 

(Temukan tautannya di sini)

Mayoritas Penduduk Australia Dukung Pengakuan Terhadap Aborigin

 

Perth, 20/5 (Antara) – Sebanyak 72 persen responden “Vote Compass” yang dilakukan oleh jaringan ABC setuju bahwa konstitusi negara seharusnya mengakui suku Aborigin sebagai penduduk pertama Australia.

Partai Buruh, Partai Hijau, dan Koalisi semuanya juga mendukun upaya pengakuan terhadap keberadaan suku Aborigin yang lebih dulu hidup di Australia, akan tetapi berbagai pihak masih memperdebatkan detil untuk mencapai hal tersebut.

“Saat ini Konstitusi Australia–dokumen hukum tertinggi di negara–tidak mengakui orang-orang yang sudah lebih dulu berada di sini,” kata Tanya Hosch, direktur kampanye pengakuan Aborigin sebagai penduduk asli Australia, seperti dikutip ABC, Jumat.

    “Kita punya dokumen hukum soal Ratu Victoria, soal mercusuar, tetapi tidak soal bagian penting dari sejarah Australia, dan ini adalah kesempatan untuk membenahi itu,” tambah dia.

Hasil survei tahun ini tidak banyak berubah bila dibandingkan dengan survei serupa di tahun 2013, dan perubahan konstitusi hanya bisa dilakukan lewat referendum.

Sebagian publik Australia justu lebih melihat perubahan konstitusi adalah solusi terbaik bagi pengakuan ini.

Bagi kalangan penduduk asli Australia, hal yang lebih penting justru sebuah pakta perjanjian yang mewadahi rekonsiliasi.

“Ada banyak orang di komunitas Aborigin yang melihat reformasi konstitusi sebagai upaya pengaburan dari proses pembuatan sebuah kesepakatan atas pakta,” kata pengacara hak-hak penduduk asli, Tony McEvoy.

“Kita butuh reformasi konstitusi untuk memperbaiki hubungan di negeri ini, dan kita juga perlu membuat pakta tentang bangsa pertama di Australia,” tandasnya.

Survei melibatkan 196.952 responden dan diselenggarakan pada 8-18 Mei 2016.

 

(Telah tayang di sini)

Dan di sini-sini…..

http://m.republika.co.id/berita/internasional/global/16/05/20/o7gl7m366-mayoritas-penduduk-australia-dukung-pengakuan-terhadap

http://m.bisnis.com/kabar24/read/20160520/19/549674/url

Buntunya Advokasi Perempuan Berpolitik

(Tautan berita sudah hadir di Antara)

Perth, 13/5 (Antara) – Demokrasi di Indonesia yang terlahir selepas rejim Presiden Soeharto masih bergelut dengan berbagai persoalan klasik, salah satunya adalah ketimpangan gender di parlemen. Seolah menjadi warisan dari Orde Lama dan Orde Baru, wajah-wajah politisi perempuan di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tergolong masih sangat langka.

Data dari organisasi perkumpulan parlemen se-dunia/Inter-Parlimentary Union (IPU) di tahun 2016, yang mengutip hasil pemilu 2014, menunjukkan peringkat keterwakilan perempuan di parlemen Indonesia ada di urutan 106.

Dengan rasio 17,1 persen perempuan dari total 560 kursi di DPR, posisi keseimbangan gender di parlemen Indonesia terjerembab di papan bawah performa kawasan Asia Tenggara. Timor Leste duduk di peringkat 20 dengan komposisi 38,5 persen parlemennya diisi perempuan. Kemudian Laos (27,5 persen) di urutan 51 dunia, diikuti Filipina di nomor urut 54 dengan 27,2 persen perempuan berkiprah di parlemen.

Vietnam di peringkat 67 (24,3 persen), lalu Singapura di nomor 68 (24 persen), dan Kamboja di peringkat 88 dengan total 20,3 persen wakil rakyatnya adalah perempuan.

Pencapaian kesetaraan gender di parlemen Indonesia hanya lebih baik dari Malaysia (10,4 persen) di urutan 152, Myanmar (9,9 persen) di ranking 155, dan Thailand (6,1 persen) yang berada di nomor urut 162 dunia.

Sejak Reformasi bergulir di 1998, berbagai harapan ditambatkan terhadap demokrasi baru Indonesia. Namun pada kenyataannya, advokasi partisipasi perempuan di ranah politik masih jauh api dari panggang. Di Pemilu 1999, perempuan hanya berhasil meraih 8 persen kursi DPR, angka ini lebih kecil daripada komposisi legislatif rejim Orde Baru (Pemilu 1997) yakni 11,4 persen.

Dengan kebijakan kuota 30 persen diperkenalkan untuk pertama kalinya di Pemilu 2004, performa kandidat (caleg) perempuan “terdongkrak” menjadi 11,24 persen. Sentimen positif berlanjut di Pemilu 2009 di mana perempuan menguasai 18,21 persen kursi DPR. Namun di tahun 2014, ketika kebijakan afirmasi diperkuat dengan Peraturan KPU yang “mengancam” diskualifikasi partai yang gagal mendaftarkan 30 persen perempuan di daftar caleg, justru perempuan hanya memenangkan 17 persen kursi di parlemen.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah mengapa Indonesia belum berhasil mencapai rasio gender minimal 30 persen untuk perempuan duduk di lembaga penentu kebijakan, sebagaimana termaktub dalam kesepakatan Konsensus Beijing tahun 1995?

Hanya Basa Basi

Di dalam buku karya dua akademisi Universitas Indonesia, Ani W. Soetjipto dan Shelly Adelina, pembahasan difokuskan kepada hasil pemilu legislatif tahun 2009. Dengan mencermati tiga partai besar peraih suara terbanyak, yaitu Demokrat, Golkar, dan PDI Perjuangan, mereka menelaah strategi partai mengadvokasi partisipasi politik perempuan sebagai calon anggota legislatif.

Buku berjudul “Partai Politik dan Strategi Gender Separuh Hati” yang diterbitkan oleh Penerbit Parentesis (2012) membedah pemahaman dan penerapan tindakan afirmasi di lingkup partai politik. Peranan partai dalam advokasi partisipasi politik perempuan sangat sentral, sebagaimana ditegaskan oleh akademisi Inggris, Pippa Norris (2004), partai adalah “penjaga gawang”, penentu yang paling utama dalam semua ikhtiar penyetaraan gender, terutama di lembaga legislatif.

Penelitian yang menggunakan metode kualitatif, dengan wawancara mendalam, kelompok diskusi, dan observasi itu mendapati bahwa ketiga partai pemenang pemilu 2009 semuanya tidak memiliki strategi yang baku dan memuat perspektif gender dalam proses rekrutmen.

“Ini persoalan mendasar di PDI-P, kami defisit kader perempuan,” kata satu dari sembilan orang responden riset yang terdiri atas enam orang elit partai (laki-laki) dan tiga perempuan aktifis partai.

Ia kemudian memaparkan upaya menutupi kelangkaan di tingkat lokal adalah dengan mengumpulkan istri-istri dan putri para pengurus partai, mulai dari tingkat Pengurus Anak Cabang (PAC) sampai Dewan Pengurus Pusat (DPP).

“Kalaupun ada perempuan pemimpin di tingkat nasional, harus diakui biasanya mereka mengambil jalan pintas, misalnya karena dia populer sebagai selebritas padahal bekalnya sebagai politikus tidak ada,” ujar dia (hal. 52).

Seorang responden dari Partai Demokrat menyebutkan pengalamannya mengisi daftar kandidat pemilu legislatif untuk daerah pemilihan tingkat II Karawang, Jawa Barat, yang membutuhkan 16-20 orang caleg perempuan.

“Untuk memenuhi jumlah perempuan itu, saya dekati teman-teman SMA–karena saya berasal dari SMA di sana–yang bersedia menjadi pengurus. Bahkan kalau mereka tidak berminat, kami yakinkan bahwa kami akan bersedia membantu mereka sampai urusan-urusan surat tes kesehatan, formulir, juga materai, kami sediakan,” imbuhnya (hal. 43).

Responden lain dari Demokrat menegaskan, “Boleh dikatakan bahwa 50 sampai 60 persen yang menjadi anggota DPR dari partai kami bukanlah karena kompetensi mereka masing-masing, tetapi lebih karena kompetensi-kompetensi politiknya Pak SBY” (hal. 43).

Sementara itu di Golkar, perekrutan caleg berasal dari 90 persen kader partai dan 10 persen orang baru atau luar partai tapi memiliki potensi meningkatkan citra partai karena mereka berlatar belakang tokoh masyarakat, purnawirawan, aktifis sosial atau kalangan profesional. Khusus untuk perbaikan kualitas kader muda dan kader perempuan, Golkar menggandeng sebuah partai politik dari Norwegia sebagai “mentor”.

Proses rekrutmen dan seleksi sebagai caleg di tiga partai sangat ditentukan oleh sayap-sayap partai dan survei. Demokrat, Golkar, dan PDI-Perjuangan menggunakan pemetaan elektabilitas lewat survei, baik yang disusun oleh perguruan tinggi atau lembaga survei khusus.

Kritik terbesar yang disampaikan di buku ini adalah bahwa partai belum berhasil membumikan proses pembangunan kapasitas kader perempuan sebagai “jembatan” aspirasi dan menguat demokrasi. Ajang lima tahunan Pemilu dimaknai tak lebih dari kompetisi mendulang suara, yang sangat gagap dengan persiapan kandidat mumpuni.

Kaderisasi perempuan sebatas basa-basi agar partai bisa ikut berkompetisi di pemilu, sebab toh di menit-menit terakhir seseorang bisa “dicomot” sebagai caleg bila memang survei menyebutkan elektabilitasnya lumayan menjanjikan.

Sebagai buku yang disusun berdasarkan penelitian, kesalahan ketik dan tabulasi angka di beberapa bagian terasa agak mengganggu. Penjelasan soal metode pengumpulan data juga rancu, terutama soal justifikasi pemilihan responden perempuan dan laki-laki.

Pengulangan ide terjadi di berbagai halaman, dengan narasi yang tidak terlalu banyak berbeda. Hal ini membuat pembaca merasakan efek penekanan yang terkadang sebenarnya tidak perlu.

Penulis terkesan menghindari ulasan yang komprehensif tentang peran penting partai politik dalam proses penyusunan kebijakan afirmatif. Faktanya, aturan pemilu berupa diskriminasi positif buat perempuan tercipta di parlemen dan disahkan oleh para anggota dewan yang merupakan wakil dari semua partai politik peserta pemilu.

Bila pada kenyataannya partai mengalami kebuntuan dalam advokasi partisipasi politik perempuan, maka perhatian utama sepatutnya diarahkan kepada budaya politik internal yang menentukan strategi partai meningkatkan elektabilitas caleg perempuan. Atau jangan-jangan partai–yang masih didominasi laki-laki–memang tidak terlalu serius menginginkan kesetaraan gender tercapai?

Jpeg
(Telah tayang di laman Antara Jabar)

Bersahabat dengan Allah

Ketahuilah olehmu  bahwa sahabat yg tak pernah meninggalkanmu, baik (saat kamu berada) di kampungmu atau di perjalananmu, apakah itu di dalam tidurmu, juga ketika engkau terjaga, bahkan di kehidupan dan di kematianmu tidak lain ialah dia, Tuhanmu. Ia pemilikmu, penciptamu, sahabatmu.

Penggalan tulisan di atas adalah cuplikan dari sebuah kitab karya ulama besar Islam, yang sekaligus menjadi salah satu imam utama, Imam Al Ghazali. Di tema tentang adab bersahabat dengan Allah SWT, Imam Al Ghazali menuntun pembaca tentang hubungan antara manusia beriman dengan Rabb-nya. Sangat indah ia menggambarkannya. Bahwa Allah demikian dekat dengan setiap insan, “Barangsiapa yang mengingat Allah dalam keadaan syir (sembunyi-sembunyi), maka Allah akan menyebutnya di hadapan para malaikat dengan syir, demikian pula bila kita mengingat Allah SWT secara terbuka dan tegas, maka Ia pun menyatakan cinta kepada hamba-Nya secara gamblang.”
Imam Al Ghazali, yang menjadi salah satu pemikir utama dalam Islam, meneruskan “..dan kapan pun kamu menyebutnya, Dia adalah teman dudukmu, menemanimu.” Ibarat kawan menyeruput kopi, sedemikian akrab Allah kepada hamba-hambanya yang senantiasa mengingat dan berkhidmat akan pencipta, Rajanya manusia.

Salah satu tips untuk menikmati ditemani oleh Allah, sebagaimana dibahas oleh Profesor Raihani–research fellow di University of Western Australia–adalah dengan berwudhu sebelum tidur dan kemudian berdzikir, memuji nama-nama Allah dan mengingat penciptaan langit dan bumi. Melihat kepada keadaan diri sendiri, yang kemudian akan mengarahkan ke rasa penuh syukur dan betapa kecil diri di hadapan-Nya. Niscaya, bila tertidur dalam kondisi tersebut, maka kita akan dihitung oleh Allah SWT sebagai berdzikir hingga terbangun kembali.

Allah SWT pun mencintai hambanya yang bersedih hati tatkala tak bisa beribadah dengan maksimal akibat hambatan-hambatan yang tidak diniatkan. Profesor Raihani memberikan contoh bahwa ketika kita terbiasa sholat Sunnah atau sholat berjamaah di awal waktu, tapi mendadak menjadi tidak bisa karena ada keperluan lain, kemudian hati kita menjadi sedih karena meninggalkan ibadah yang sunnah itu, maka Allah SWT menjadikan kita sebagai sahabatnya dan tetap menilai kita beribadah sholat Sunnah dan berjamaah di awal waktu. “Tapi kalau sudah biasa telat, dan hatinya tidak merasa sedih, yaa… Allah tentu tidak akan menilainya sebagai ibadah yang tidak tersampaikan tadi,” jelas guru kami pagi itu.

Kalau kita kenal betul Allah SWT, maka sudah tentu kita akan mengambil Allah sebagai sahabat kita, bukan manusia, bukan mahluk. Semakin dekat kita dengan Allah SWT, maka akan semakin nikmat pula kehidupan kita.

Orang yang jatuh cinta itu super duper sensitif. Ia akan kerap didapati mengenang hal-hal yang terkait dengan orang yang dia cinta, bakal sering sebut-sebut nama yang disukai. Ketika orang menyebut nama kekasihnya, buru-buru hati menjadi berdebar, menjadi salah tingkah, dan ingin sering-sering berjumpa. Selalu memuncah rasa bahagianya jika bisa sedikit saja bertemu, melihat, dan berinteraksi dengan yang dicintainya–meskipun hanya sepintas saja. Begitulah rasa cinta. Rasa cinta kita kepada mahluk, tapi bagaimana dengan rasa cinta antara hamba dan Tuhannya? Yang tidak pernah dilihat secara langsung? Yang terkesan abstrak dan hubungan di antara keduanya bisa sangat fluktuatif, tapi bisa juga kelewat “tenang”, tidak ada guncangan sama sekali?

Pertanyaan yang harus dijawab oleh masing-masing kita adalah: seberapa baik kita mengenal Tuhan kita? Bagaimana bisa cinta kalau tidak kenal? Bagaimana bisa ser-seran hatinya kalau tidak persis paham bagaimana itu Allah? Imam Al Ghazali mengajarkan untuk mengenali Allah lewat mengenali diri kita sendiri, kenalilah lingkungan kita, maka kita akan mengenal zat Maha Pencipta. Kita akan mendapati bahwa setiap ciptaan Allah tidak ada yang sia-sia, semua ada fungsinya, dan rencana yang sudah disiapkan oleh-Nya pasti yang paling sempurna, tidak pernah keliru.

Kita juga harus senantiasa bertanya kepada diri sendiri, “Kita ini memantas-mantaskan diri kita kepada siapa? Allah atau manusia?”

Contoh menarik dari Profesor Raihani adalah ketika kita ada undangan dari bos di kantor untuk pertemuan ramah tamah, sementara waktunya bertepatan dengan panggilan sholat Dzuhur. Kita akan memantas-mantaskan kepada siapa? Mendahulukan kepantasan siapa? Sering kali, ketika kita memilih untuk mendahului bertemu dengan mahluk/manusia, daripada bertemu barang lima menit dengan Allah SWT lewat sholat, dan yang kita dapati tak lebih dari wajah yang “dingin”. Bos yang mengundang tidak menyambut hangat kedatangan kita, bak gayung tiada bersambut! Itu bila kita memantas-mantaskan diri di hadapan manusia, seperti juga misalnya imam sholat membagus-baguskan bacaan sholatnya dengan harapan makmumnya kagum atau memujinya–tapi ketika selesai sholat, tidak ada yang memuji sama sekali. “Sakit nda itu hatinya? Sakit. Kecewa.”

Alangkah lebih baik bila kita lebih memantaskan Allah untuk didahulukan kita temui, dan biarkan Allah yang membuat hati orang lain tergerak menyambut kedatangan kita dengan kehangatan yang luar biasa di acara pertemuan ramah tamah tadi, demikian contoh yang diajukan pria berkaca mata itu.
Dan kalau pun mengingat Allah tak mampu engkau lakukan sepanjang waktu, sepanjang hari, maka paling tidak di dalam malammu, sediakan waktu-waktu khusus agar bisa bersenang2 kepada Allah, jangan yang diberikan itu justru waktu yang sisa-sisa. Sudahkah kita menyediakan waktu yang khusus untuk Allah SWT semata? Jangan-jangan selama ini kita bukan beribadah secara tulus, tapi hanya ketika kita sedang ada keinginan dan permintaan kepada Allah?

Jpeg

Lantas bagaimana tata karma dalam ikhwal kita bersahabat dengan Allah? Di salah satu kitab Imam Al Ghazali dipaparkan beberapa langkah yang harus diperhatikan, antara lain:

  1. Tundukkan kepala dan pandangan mata kita. Bukan tunduk secara fisik membungkuk atau semacamnya, tapi ini adalah simbol, cerminan hati kita ketika menjadikan Allah sebagai “teman duduk” kita.
  2. Pusatkan konsentrasi hati kita ketika sedang bersama Allah, maka hanya Allah yang jadi focus kita.
  3. Terus menerus diam, tafakur, tenang, dan jaga sikap kita.
  4. Segerakan beribadah dan bergegas melaksanakan kebajikan.
  5. Kurangi keluhan, komplen, alias i’tirot kita kepada apa-apa yang Allah berikan, misalkan hujan yang turun ketika jemuran ada di luar rumah. Atau cuaca yang panas dan lama tidak ada hujan. Ingat, bila kita membenci atau tidak menyukai mahluk ciptaan Allah, maka kita membenci penciptanya, yaitu Allah. Lawan sikap ini adalah qonaah, menerima dengan lapang apa-apa yang sudah menjadi ketentuan Allah.
  6. Selalu berdzikir dan berpikir, tentang penciptaan langit dan bumi yang menjadi bukti kebesaran Allah. “Mereka yang mengingat, berpikir tentang langit dan bumi–sebagai ciptaan Allah–baik itu dalam kondisi duduk, berdiri, dan sambil rebahan, maka dzikir itu akan menambah keimanannya akan Allah.”
  7. Menampakkan yang haq/kebenaran di atas kebatilan/kejahatan.
  8. Jangan banyak berharap atau bergantung kepada orang lain/manusia, karena hal ini bakal merusak tauhid–prinsip bahwa tidak ada yang menjadi Tuhan dala kehidupan kita selain Allah.
  9. Malulah atau jadilah gelisah bila melakukan kejahatan.
  10. Dan tenanglah dalam berusaha, sebab pemberi asuransi rezeki tak lain adalah Allah. Terdapat puluhan ayat di Al Qur’an tentang janji Allah soal bagaimana Allah akan mencukupkan rezeki kita yang berusaha, dan hanya satu “ancaman” setan tentang kefakiran. Itu sebabna kita harus senantiasa berusaha sembari menyakini bahwa keberhasilan itu urusannya Allah.
  11. Dan .. derajat tertinggi seorang hamba bersahabat dengan Tuhannya adalah ketika manusia bisa merasa bersyukur tatkala dilanda kekurangan atau sakit. Berprasangka baiklah atas semua yang terjadi kepada diri, sebab “Aku adalah sebagaimana prasangka umatku.”

Dengan penutup itu, sang professor pun menjanjikan majelis ilmu lanjutan terjadwal pada dua pekan yang akan datang beragendakan bahasan adab ketika menuntut ilmu!

Yuk ah! Dua minggu lagi hadir di majelis ilmu ba’dha Subuh di IUC 🙂

 

 

 

 

Mandurah Line

image

Rencana untuk membawa Safiyya jalan-jalan kali ini terwujud di Mandurah Line. Rute kereta api yang menghubungkan pusat kota Perth dan Mandurah ini memiliki panjang 70,1 kilometer dan terdapat 9 stasiun perhentian di antaranya. Mandurah adalah kota terbesar kedua di negara bagian Australia Barat, dan lokasinya berada di sisi selatan Perth. Untuk menuntaskan rute Mandurah Line, dibutuhkan waktu sekitar 51 menit dan tentu saja ini adalah perjalanan yang sangat saya rekomendasikan buat membawa anak-anak.

Di bawah ini adalah pose turis ala Safiyya, lengkap dengan bis berpenampang terbuka di lantai dua. Berhubung pagi itu memang gerimis tipis, “shower” kalau orang sini bilang, jadi mungkin itu sebabnya tidak ada orang yang mau duduk di kursi lantai dua.

image

Kami memulai di Perth Underground Station. Stasiun berada di bawah tanah, persis di bawah gedung donor darah Australian Red Cross di William Street. Ketika berada di depan stasiun, orang bisa dengan mudah mendapati pengamen, peminta-minta, berdiri dan berlalu lalang. Di Australi ada pengamen dan pengemis? Ya iyalah. Pengamen dan pengemis ada di semua negara tanpa terkecuali 🙂

Lalu kami menuju ke bawah, ke peron kereta dengan menumpangi eskalator yang agak curam dan sedikit agak lebih panjang dari eskalator biasa di supermarket. Pada sekitar pukul 11 pagi, seperti inilah penampakannya:

image

Selain saya, jarang sekali terlihat orang membawa anak kecil. Kebetulan setiap Jumat kelas Kindy grup warna biru Safiyya sedang libur, jadi saya bisa bawa dia jalan sementara Aqila di rumah bersama dengan embahnya.

Di sisi kanan foto adalah kereta menuju Mandurah (ingat-ingat, cara membacanya berbunyi “Mendrah”, bukan “Mendyurah” lho ya). Kami langsung naik dan duduk manis di kursi yang kosong.

Setelah Perth Underground, kereta berhenti di Elizabeth Quay. Stasiun yang berjarak tak lebih dari 1 km dari Perth Underground itu juga berada di bawah tanah. Di bagian atasnya, terdapat terminal bis Esplanade dan ikon terbaru Kota Perth, yaitu Elizabeth Quay dengan taman, jembatan, dan insulasi berbentuk lengkung berlapis-lapis. Kereta listrik kemudian muncul ke permukaan dan berjalan sejajar dengan mobil di jembatan yang melintasi Sungai Swan. Dari jembatan itu, penumpang bisa melihat ke arah bukit di mana Kings Park berada.

Kereta api adalah moda transportasi umum yang sangat nyaman di Perth. Gerbongnya terjaga bersih, karena memang makan dan minum di dalam armada umum (termasuk kereta dan bis) adalah dilarang. Selain itu petugas pengawas juga sesekali wara wiri untuk memantau keadaan serta memeriksa tiket penumpang.

image

Mandurah Line baru resmi beroperasi pada akhir 2007. Uniknya, rel kereta berada di tengah-tengah jalan tol Kwinana hingga Mandurah, seakan menjadi penyekat dua arus kendaraan yang berlawanan arah. Di setiap stasiun, disediakan lahan parkir yang sangat luas untuk orang memarkir kendaraannya sebelum lanjut naik kereta kereta. Untuk parkir seharian, pengguna kereta hanya dikenakan biaya dua dolar alias Rp20.000. Ada pula parkiran sepeda untuk pecinta sepeda, bahkan sepeda juga boleh dibawa ke dalam kereta jika mau! Dan rute kereta ini mengingatkan saya pada jalan tol Jagorawi atau Cikampek. Kenapa tidak dibuat jalan kereta api atau tram di dua tol itu yah? Saya rasa kalau bisa bersinergi di ruas jalan yang sama, kepadatan di ruas mobil akan berkurang dan orang akan lebih memilih kereta daripada macet2an di jalan tol.

Untuk mengantisipasi lonjakan penumpang yang “nglaju” dari Mandurah ke Perth, di jam-jam tertentu kereta berangkat setiap 5 menit sekali, ada pula 10 menit sekali di masa2 tidak terlalu sibuk, lalu 15 menit dan bila sudah tengah malam frekuensi kereta berkurang menjadi 1 jam sekali.

Stasiun berikutnya adalah Canning Bridge. Ini merupakan stasiun yang terintegrasi dengan terminal bis, sama seperti Elizabeth Quay. Titik ini adalah tempat transfer penumpang yang ingin ke kampus Curtin University. Wajah-wajah muda dan cerah alias unyu2 banyak berseliweran di stasiun ini. Seorang gadis terlihat membawa maket tugas kuliahnya, saya sangat menduga dia anak arsitek, atau teknik sipil! Dan ada juga dua mahasiswa pria berlalu keluar dari kereta dengan terkekeh kecil.

Perjalanan kami berlanjut ke stasiun Bull Creek. Jarak Canning Bridge ke Bull Creek sekitar 4 menit, dekat saja. Durasi yang lebih singkat dihabiskan dari Bull Creek ke Murdoch dan dari Murdoch ke Cockburn Central, masing2 sekitar 3 menit. Di Murdoch Station, terdapat terminal bis yang di antaranya melayani rute ke kampus Murdoch serta rumah sakit Fiona Stanley. Dari stasiun, terlihat jelas kompleks rumah sakit yang besar itu. Saya dan Safiyya sempat turun di stasiun Murdoch, membeli sepotong kue pai bayam di toko dekat pintu keluar stasiun.

image

Untuk membeli tiket, penumpang bisa menggunakan mesin seperti terpampang di atas. Mesin2 ini menerima uang kertas, uang koin, dan juga kartu debit. Tiket dibeli untuk perjalanan selama dua jam. Bila melewati dua jam, maka penumpang harus membeli tiket baru. Alternatif lain adalah dengan kartu TransPerth, tarifnya lebih murah bila kita punya kartu TransPerth yang di-auto-debit dari rekening bank kita. Ditambah lagi bila Anda adalah mahasiswa, ada diskon ekstra.

Saya mengajak Safiyya melanjutkan perjalanan. Dan stasiun berikutnya adalah Cockburn Central. Setahun silam, saya pernah datang sendirian ke stasiun itu karena ingin mengunjungi sahabat saya Glenda. “Inget yah La. Bacanya “Kobern” bukan “Kokbern”,” ujar Glenda waktu itu sembari saya yang cengengesan memahami maksud kalimatnya. So.. Kobern yah!

Setelah stasiun yang di sampingnya ada bioskop itu, kereta berhenti di stasiun yang namanya Kwinana. Sama dengan nama jalan tol di mana kereta berada sebagai di tengah dua arus yang berlawanan. Di antara Cockburn Central dan Kwinana, sedang dibangun stasiun baru yang konon akan sangat dekat sekali dengan jalan keluar komplek rumah Glenda. Di Kwinana, kami tidak keluar kereta. Baru keluar lagi di stasiun:

image

Ya! Wellard. Saya sempat membaca satu halaman buku “Indonesia Jungkir Balik” di sini.

image

Cuaca hari itu sangat berangin dan dingin. Saya sedikit kedinginan setiap angin kencang bertiup. Apalagi peron di stasiun demikian terbuka, angin dari mana2 sangat terasa seolah menggigit tulang dan memoles air es ke kulit, kecuali bersembunyi di balik tembok atau di toilet stasiun!

image

Perhentian berikutnya adalah Rockingham. Salah satu kota yang juga besar di Australia Barat. Saya belum sempat main ke Rockingham, tapi nanti diagendakan ya! Di stasiun ini juga ada terminal bis yang relatif besar. Sebelum ada Mandurah Line, jalur kereta dari Perth berhenti di pusat kota Rockingham. Tapi kemudian stasiun ditetapkan bukan lagi di sana, melainkan di jalan tol Kwinana, sementara untuk menghubungkan stasiun dengan pusat kota Rockingham sekarang terdapat bis khusus.

image

Stasiun berikutnya yang persis sebelum Mandurah adalah Warnbro. Di perjalanan menuju Warnbro, terlihat di sisi kanan adalah komplek perumahan yang sedang dibuka dan dibangun. Luas sekali, dan tanah pasir berwarna coklat pucat terlihat di sisi gundukan dekat rel kereta. Itu sepertinya akan segera menjadi pemukiman yang ramai. Pertumbuhan penduduk di Perth dan Mandurah memang tak pelak membuat sepanjang jalur kedua kota itu menjadi kawasan perkembangan yang pesat, meskipun masih banyak juga rumah di tengah tanah yang luasnya berhektar-hektar dan memiliki kuda yang dilepas liar di dalam pagar.

Jeda terlama adalah antara Warnbro dan Mandurah. 13 menit yang sangat mengundang kantuk! Sebelum benar-benar tidur, kami sempatkan foto2 di dalam gerbong kereta yang sepi.

image

Dan akhirnya setelah 51 menit.. petualangan Safiyya bersama Mamaya ke Mandurah pun tercapai. Dengan wajah penuh kesuksesan kelegaan, ini adalah pose bidadariku:

image

Petualang kecilku sudah sampai Mandurah! Dan perjalanan balik ke Nedlands adalah cerita Safiyya dan mamanya bobok siang. Hahahaha…..