Bersahabat dengan Allah

Ketahuilah olehmu  bahwa sahabat yg tak pernah meninggalkanmu, baik (saat kamu berada) di kampungmu atau di perjalananmu, apakah itu di dalam tidurmu, juga ketika engkau terjaga, bahkan di kehidupan dan di kematianmu tidak lain ialah dia, Tuhanmu. Ia pemilikmu, penciptamu, sahabatmu.

Penggalan tulisan di atas adalah cuplikan dari sebuah kitab karya ulama besar Islam, yang sekaligus menjadi salah satu imam utama, Imam Al Ghazali. Di tema tentang adab bersahabat dengan Allah SWT, Imam Al Ghazali menuntun pembaca tentang hubungan antara manusia beriman dengan Rabb-nya. Sangat indah ia menggambarkannya. Bahwa Allah demikian dekat dengan setiap insan, “Barangsiapa yang mengingat Allah dalam keadaan syir (sembunyi-sembunyi), maka Allah akan menyebutnya di hadapan para malaikat dengan syir, demikian pula bila kita mengingat Allah SWT secara terbuka dan tegas, maka Ia pun menyatakan cinta kepada hamba-Nya secara gamblang.”
Imam Al Ghazali, yang menjadi salah satu pemikir utama dalam Islam, meneruskan “..dan kapan pun kamu menyebutnya, Dia adalah teman dudukmu, menemanimu.” Ibarat kawan menyeruput kopi, sedemikian akrab Allah kepada hamba-hambanya yang senantiasa mengingat dan berkhidmat akan pencipta, Rajanya manusia.

Salah satu tips untuk menikmati ditemani oleh Allah, sebagaimana dibahas oleh Profesor Raihani–research fellow di University of Western Australia–adalah dengan berwudhu sebelum tidur dan kemudian berdzikir, memuji nama-nama Allah dan mengingat penciptaan langit dan bumi. Melihat kepada keadaan diri sendiri, yang kemudian akan mengarahkan ke rasa penuh syukur dan betapa kecil diri di hadapan-Nya. Niscaya, bila tertidur dalam kondisi tersebut, maka kita akan dihitung oleh Allah SWT sebagai berdzikir hingga terbangun kembali.

Allah SWT pun mencintai hambanya yang bersedih hati tatkala tak bisa beribadah dengan maksimal akibat hambatan-hambatan yang tidak diniatkan. Profesor Raihani memberikan contoh bahwa ketika kita terbiasa sholat Sunnah atau sholat berjamaah di awal waktu, tapi mendadak menjadi tidak bisa karena ada keperluan lain, kemudian hati kita menjadi sedih karena meninggalkan ibadah yang sunnah itu, maka Allah SWT menjadikan kita sebagai sahabatnya dan tetap menilai kita beribadah sholat Sunnah dan berjamaah di awal waktu. “Tapi kalau sudah biasa telat, dan hatinya tidak merasa sedih, yaa… Allah tentu tidak akan menilainya sebagai ibadah yang tidak tersampaikan tadi,” jelas guru kami pagi itu.

Kalau kita kenal betul Allah SWT, maka sudah tentu kita akan mengambil Allah sebagai sahabat kita, bukan manusia, bukan mahluk. Semakin dekat kita dengan Allah SWT, maka akan semakin nikmat pula kehidupan kita.

Orang yang jatuh cinta itu super duper sensitif. Ia akan kerap didapati mengenang hal-hal yang terkait dengan orang yang dia cinta, bakal sering sebut-sebut nama yang disukai. Ketika orang menyebut nama kekasihnya, buru-buru hati menjadi berdebar, menjadi salah tingkah, dan ingin sering-sering berjumpa. Selalu memuncah rasa bahagianya jika bisa sedikit saja bertemu, melihat, dan berinteraksi dengan yang dicintainya–meskipun hanya sepintas saja. Begitulah rasa cinta. Rasa cinta kita kepada mahluk, tapi bagaimana dengan rasa cinta antara hamba dan Tuhannya? Yang tidak pernah dilihat secara langsung? Yang terkesan abstrak dan hubungan di antara keduanya bisa sangat fluktuatif, tapi bisa juga kelewat “tenang”, tidak ada guncangan sama sekali?

Pertanyaan yang harus dijawab oleh masing-masing kita adalah: seberapa baik kita mengenal Tuhan kita? Bagaimana bisa cinta kalau tidak kenal? Bagaimana bisa ser-seran hatinya kalau tidak persis paham bagaimana itu Allah? Imam Al Ghazali mengajarkan untuk mengenali Allah lewat mengenali diri kita sendiri, kenalilah lingkungan kita, maka kita akan mengenal zat Maha Pencipta. Kita akan mendapati bahwa setiap ciptaan Allah tidak ada yang sia-sia, semua ada fungsinya, dan rencana yang sudah disiapkan oleh-Nya pasti yang paling sempurna, tidak pernah keliru.

Kita juga harus senantiasa bertanya kepada diri sendiri, “Kita ini memantas-mantaskan diri kita kepada siapa? Allah atau manusia?”

Contoh menarik dari Profesor Raihani adalah ketika kita ada undangan dari bos di kantor untuk pertemuan ramah tamah, sementara waktunya bertepatan dengan panggilan sholat Dzuhur. Kita akan memantas-mantaskan kepada siapa? Mendahulukan kepantasan siapa? Sering kali, ketika kita memilih untuk mendahului bertemu dengan mahluk/manusia, daripada bertemu barang lima menit dengan Allah SWT lewat sholat, dan yang kita dapati tak lebih dari wajah yang “dingin”. Bos yang mengundang tidak menyambut hangat kedatangan kita, bak gayung tiada bersambut! Itu bila kita memantas-mantaskan diri di hadapan manusia, seperti juga misalnya imam sholat membagus-baguskan bacaan sholatnya dengan harapan makmumnya kagum atau memujinya–tapi ketika selesai sholat, tidak ada yang memuji sama sekali. “Sakit nda itu hatinya? Sakit. Kecewa.”

Alangkah lebih baik bila kita lebih memantaskan Allah untuk didahulukan kita temui, dan biarkan Allah yang membuat hati orang lain tergerak menyambut kedatangan kita dengan kehangatan yang luar biasa di acara pertemuan ramah tamah tadi, demikian contoh yang diajukan pria berkaca mata itu.
Dan kalau pun mengingat Allah tak mampu engkau lakukan sepanjang waktu, sepanjang hari, maka paling tidak di dalam malammu, sediakan waktu-waktu khusus agar bisa bersenang2 kepada Allah, jangan yang diberikan itu justru waktu yang sisa-sisa. Sudahkah kita menyediakan waktu yang khusus untuk Allah SWT semata? Jangan-jangan selama ini kita bukan beribadah secara tulus, tapi hanya ketika kita sedang ada keinginan dan permintaan kepada Allah?

Jpeg

Lantas bagaimana tata karma dalam ikhwal kita bersahabat dengan Allah? Di salah satu kitab Imam Al Ghazali dipaparkan beberapa langkah yang harus diperhatikan, antara lain:

  1. Tundukkan kepala dan pandangan mata kita. Bukan tunduk secara fisik membungkuk atau semacamnya, tapi ini adalah simbol, cerminan hati kita ketika menjadikan Allah sebagai “teman duduk” kita.
  2. Pusatkan konsentrasi hati kita ketika sedang bersama Allah, maka hanya Allah yang jadi focus kita.
  3. Terus menerus diam, tafakur, tenang, dan jaga sikap kita.
  4. Segerakan beribadah dan bergegas melaksanakan kebajikan.
  5. Kurangi keluhan, komplen, alias i’tirot kita kepada apa-apa yang Allah berikan, misalkan hujan yang turun ketika jemuran ada di luar rumah. Atau cuaca yang panas dan lama tidak ada hujan. Ingat, bila kita membenci atau tidak menyukai mahluk ciptaan Allah, maka kita membenci penciptanya, yaitu Allah. Lawan sikap ini adalah qonaah, menerima dengan lapang apa-apa yang sudah menjadi ketentuan Allah.
  6. Selalu berdzikir dan berpikir, tentang penciptaan langit dan bumi yang menjadi bukti kebesaran Allah. “Mereka yang mengingat, berpikir tentang langit dan bumi–sebagai ciptaan Allah–baik itu dalam kondisi duduk, berdiri, dan sambil rebahan, maka dzikir itu akan menambah keimanannya akan Allah.”
  7. Menampakkan yang haq/kebenaran di atas kebatilan/kejahatan.
  8. Jangan banyak berharap atau bergantung kepada orang lain/manusia, karena hal ini bakal merusak tauhid–prinsip bahwa tidak ada yang menjadi Tuhan dala kehidupan kita selain Allah.
  9. Malulah atau jadilah gelisah bila melakukan kejahatan.
  10. Dan tenanglah dalam berusaha, sebab pemberi asuransi rezeki tak lain adalah Allah. Terdapat puluhan ayat di Al Qur’an tentang janji Allah soal bagaimana Allah akan mencukupkan rezeki kita yang berusaha, dan hanya satu “ancaman” setan tentang kefakiran. Itu sebabna kita harus senantiasa berusaha sembari menyakini bahwa keberhasilan itu urusannya Allah.
  11. Dan .. derajat tertinggi seorang hamba bersahabat dengan Tuhannya adalah ketika manusia bisa merasa bersyukur tatkala dilanda kekurangan atau sakit. Berprasangka baiklah atas semua yang terjadi kepada diri, sebab “Aku adalah sebagaimana prasangka umatku.”

Dengan penutup itu, sang professor pun menjanjikan majelis ilmu lanjutan terjadwal pada dua pekan yang akan datang beragendakan bahasan adab ketika menuntut ilmu!

Yuk ah! Dua minggu lagi hadir di majelis ilmu ba’dha Subuh di IUC 🙂

 

 

 

 

Advertisements

Author: Ella

Penulis saat ini tinggal di Perth, Australia Barat.

One thought on “Bersahabat dengan Allah”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s