Jo Cox dan Sengitnya “Brexit”

Jo Cox
    Perth, 17/6 (Antara) –  Politisi perempuan di Inggris bernama Jo Cox (41), Kamis, tewas setelah ditembak dan ditikam saat bersiap untuk menjumpai para konstituennya di Birstall, sebuah daerah di 316 kilometer arah utara London.
    Anggota parlemen dari Partai Buruh (oposisi) itu terkenal vokal dengan kampanye-kampanye yang mendukung Inggris untuk tetap bergabung dengan Uni Eropa (EU).
    Meski sempat dibawa ke rumah sakit dan mendapat perawatan, Jo Cox dinyatakan meninggal satu jam setelah peristiwa nahas itu terjadi.
    Insiden pembunuhan terhadap politisi sekaligus ibu dua anak itu terjadi hanya seminggu sebelum referendum tentang keluar atau bertahannya Inggris di dalam kelompok Uni Eropa (“Brexit”) digelar pada 23 Juni mendatang.
    Sementara itu polisi telah menangkap seorang pria berusia 52 tahun tak jauh dari lokasi kejadian. Pria itu didapati membawa senjata api, sedangkan motif pelaku masih belum diketahui secara persis.
    Peristiwa tragis ini menimpa politisi yang pernah bekerja di tim kampanye Barack Obama di tahun 2008, “Kita telah kehilangan seorang bintang,” ujar Perdana Menteri (PM) Inggris David Cameron dalam keterangan tertulisnya.
    Di Inggris, ketegangan politik akibat rencana referendum “Brexit” telah menciptakan dua kubu, yakni “Remain” (yang mengadvokasi pentingnya Inggris untuk tetap bersama EU) dan “Leave” (kelompok yang mendesak agar Inggris keluar dari EU).
    Beberapa saksi mata yang dikutip media mengaku mendengar pelaku sempat berteriak “Britain First”–yaitu nama kelompok garis kanan yang melabeli dirinya sebagai “partai politik patriotik dan organisasi perlindungan jalanan”.
    Namun Jayda Fransen–wakil ketua Britain First–segera membantah keterkaitan organisasinya dengan insiden ini. Menurut dia, “Britain First” adalah sloganyang juga sering digunakan dalam kampanye-kampanye yang mendukung keluarnya Inggris dari Uni Eropa.
    Seperti dilaporkan Reuters, insiden pembunuhan terhadap anggota parlemen di Inggris sebelumnya menimpa Ian Gow. Ia tewas akibat bom mobil yang ditempelkan Tentara Republik Irlandia (IRA) meledak di rumahnya di kawasan selatan Inggris pada tahun 1990.
    Di tahun 2010 seorang politisi Partai Buruh yang juga mantan menteri kabinet, Stephen Timms, ditusuk perutnya oleh seorang mahasiswa berusia 21 tahun, yang murka karena sang politisi mendukung Perang Irak 2003. Peristiwa itu terjadi di kantor Stephen di belahan timur London.
    Beberapa analisa merebak terkait dampak dari pembunuhan Jo Cox. Nilai tukar mata uang poundsterling Inggris naik sebanyak dua sen terhadap dolar Amerika tak lama berselang setelah insiden tersebut.
    Investor berspekulasi kematian Jo Cox akan meningkatkan popularitas kampanye “Remain”.
    Jo Cox adalah merupakan lulusan Universitas Cambridge yang telah malang melintang di berbagai organisasi kemanusian. Dalam satu dekade terakhir, ia telah menempati posisi Kepala Kebijakan di Oxfam, Kepala Kampanye Kemanusiaan di kantor Oxfam di New York, dan Ketua Oxfam di kantor Eropa di Brussels.
    Ia banyak dikenal sebagai advokasi isu-isu perempuan, dan memenangkan pemilu di daerah pemilihan Batley dan Spen tahun 2015.
Advertisements

Author: Ella

Penulis saat ini tinggal di Perth, Australia Barat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s