Belanja Iklan dalam Pemilu Australia

Belanja Kampanye.JPG

Perth, 1/7 (Antara) – Ajang demokrasi berupa kampanye adalah momen di mana politisi mencoba merayu dan meyakinkan pemilih agar mendukung partai mereka. Beraneka strategi pun dilancarkan, mulai dari sosialisasi program sampai membuka “borok-borok” kompetitornya.

Kampanye di Australia tahun ini juga tidak jauh dari itu semua. Berlangsung selama 10 pekan atau 56 hari sebelum pemilu federal 2 Juli, kampanye kali ini membuat sebagian pemilih merasa jengah.

Televisi dijejali dengan berita-berita kampanye, iklan-iklan politik juga berkeliaran di radio, televisi, dan internet selama nyaris dua bulan.

“Saya mulai muak dengan itu semua. Saya hanya ingin segera berakhir dan kita bisa melanjutkan kehidupan ini,” ujar Yvonne, salah seorang relawan di pusat donor darah di Perth.

Kampanye di televisi resmi telah distop per 30 Juni pukul 00.00, sementara media lain masih diperkenankan seperti internet dan tatap muka dengan para pemilih pada ajang pengggalangan dana atau sosialisasi.

Demikian pula papan gambar kandidat masih boleh terpasang. Biasanya papan kampanye memuat foto si calon anggota legislatif, nama partai, daerah pemilihan (dapil), dan mungkin slogan andalan. Terkadang materi iklan politik juga ditempel di kursi halte.

Menurut seorang anggota parlemen federal dari dapil Fremantle, Melissa Parke, biaya kampanye untuk setiap kursi dapil sangat tergantung beberapa faktor; antara lain kepastian preferensi pemilih terhadap partai dan metode kampanye.

Bisa jadi untuk satu kursi biaya kampanye yang dibutuhkan hanya 50.000 dolar (setara Rp500 juta), tapi ada juga yang menyedot biaya hingga ratusan ribu dolar bila memang persaingan antar-partai di dapil itu masih sangat sengit.

Biaya terbesar dalam kampanye adalah iklan politik. Metode termurah masih berupa tatap muka di lokasi-lokasi pemilih berkumpul. Strategi lain adalah papan-papan foto yang dipasang di depan rumah pendukung.

Kandidat juga menyebar selebaran, surat elektronik (email), serta surat di atas kertas ke rumah-rumah. Seorang kandidat untuk dapil Swan, Steve Irons, mengirimkan selebaran tentang program pelebaran jalan untuk kawasan padat penduduk. Terpampang di kertas itu fotonya bersama Perdana Menteri (PM) Malcolm Turnbull, yang sama-sama berasal dari Partai Liberal (LNP).

Baru-baru ini Turnbull dan partainya dikritik keras karena mengirim surat ke rumah-rumah. Pasalnya bukan pada cara kampanye, tapi surat itu ternyata bertuliskan nama Tuan dan Nyonya dengan nama belakang milik si Tuan.

Asumsi bahwa setiap perempuan di rumah menggunakan nama belakang suami atau pasangannya dinilai sangat kuno dan tidak sensitif gender. Faktanya, semakin banyak perempuan Australia sekarang yang menolak menggunakan nama belakang suami atau pasangannya.
Iklan di Televisi

Biaya kampanye paling mahal adalah melalui iklan televisi. Sebuah laporan terbaru yang dirilis firma pelacak iklan “Ebiquity” menyebutkan partai-partai besar Australia menghabiskan lebih dari 10 juta dolar (sekitar Rp100 miliar) untuk beriklan.

Partai Liberal menghabiskan 6 juta dolar untuk beraneka iklan yang mayoritas mengangkat rencana-rencana politik partai pimpinan PM Turnbull. Sementara itu Partai Buruh mengeluarkan dana hingga 4,7 juta dolar untuk iklan yang kebanyakan berisi serangan terhadap Liberal.

Iklan televisi oleh Partai Buruh yang slogannya “Meleset Parah” tentang PM Turnbull memangkas dana unutk kesehatan dan pendidikan menghabiskan lebih dari 2,3 juta dolar.

Dari awal memang ini adalah strategi Partai Buruh, kat Andrew Hughes, seorang dosen pemasaran dari ANU, seperti dikutip ABC.

Lantas video iklan Partai Liberal dengan slogan “Dukung Rancangannya” menjadi andalan kampanye. Video kampanye negatif Liberal terhadap Buruh adalah soal perang ekonomi ala Bill Shortin (pemimpin Partai Buruh), yang disebut Andrew Hughes sebagai strategi “kucing mati”.

Strategi ini membuat orang teralihkan dari kampanye Buruh soal jaminan kesehatan yang akan diprivatisasi oleh Liberal. Kampanye Medicare ini demikian sukses meraih perhatian pemilih, tiba-tiba Liberal menandinginya dengan video “fake tradie”.

Lalu ada Partai Hijau yang menghabiskan 480.000 dolar untuk iklan di televisi. Sekitar 20 persennya berupa kampanye negatif lawan politik mereka.

Kampanye positif dan kampanye negatif adalah “kembar” yang tidak terpisahkan dalam kampanye di Australia. Partai politik perlu mempromosikan diri sambil mengkritik lawan-lawannya.

Data Ebiquity yang menghitung biaya iklan politik di televisi, radio, dan koran di lima kota besar Australia (Sydney, Melbourne, Brisbane, Perth, dan Adelaide) mencatat Partai Liberal menghabiskan 4,5 juta dolar untuk kampanye positif dan 1,6 juta untuk kampanye negatif. Sementara Partai Buruh (yang mencoba untuk bisa kembali berkuasa) mengeluarkan 3,6 juta berkampanye negatif sementara kampanye positif mendapat porsi 1 juta dolar.

Partai Hijau mengalokasikan 385.000 dolar untuk kampanye positif dan 107.800 dolar buat kampanye menyerang pesaing-pesaingnya.

Bos Ebiquity, Richard Basil-Jones, menilai tren biaya kampanye politik ini mirip dengan pola di pemilu tahun 2010 dan 2013. Kombinasi strategi kampanye bernada kritik dan promosi memang sudah menjadi hal yang jamak.

Satu-satunya terobosan yang tercipta tahun ini barangkali iklan televisi Partai Buruh yang dilengkapi dengan terjemahan beberapa bahasa. Teknik ini diperkirakan sengaja diterapkan untuk meraih simpati kelompok-kelompok etnis tertentu di kursi yang masih potensial direbut dari partai lawan.
Media Sosial

Bila partai-partai besar “bertarung” jor-joran dengan beriklan televisi, para kandidat pun harus memutar otak untuk memenangkan kompetisi di daerah pemilihan mereka masing-masing.

Beruntung, demokrasi modern hari ini sudah didukung oleh beraneka teknologi yang memungkinkan biaya kampanye dengan biaya sangat murah.

Media sosial (Facebook) untuk petama kalinya menjadi salah satu media debat publik para calon perdana menteri, yaitu Malcolm Turnbull dan Bill Shorten pada 24 Juni lalu.

Ide Turnbull menantang Shorten berdebat “online” ini menjadi sesuatu yang baru dari kebiasaan kampanye ala Australia.

Dengan tingkat penetrasi internet mencapai 88 persen dari populasi, Australia adalah negara yang sangat melek teknologi informasi berupa internet. Diskusi politik, ekonomi, dan sosial pun disebarkan lewat dunia maya dengan cepat.

Melihat perkembangan ini, bekas pembawa acara Australian Idol, James Mathison, mencoba mengadu taktik mendulang suara dengan pesaing terkuatnya adalah mantan Perdana Menteri Tony Abbott di dapil Warringah.

Video James yang berdurasi 2 menit dan diedit oleh dua produser MTV itu telah diputar sebanyak 728.214 kali, jauh lebih banyak daripada video kandidat partai manapun.

“Bersaing dengan Partai Buruh yang dibiayai serikat pekerja dan Partai Liberal yang didukung perusahaan-perusahaan besar, mereka punya jutaan dolar untuk kampanye…” ujarnya.

James mengaku tidak terlalu yakin bisa mengalahkan Tony di dapil yang selama ini selalu dimenangkan dengan raihan suara di atas 50 persen, tapi setidaknya ia sudah mencoba dan dengan mengajak pemilih muda di bawah 40 tahun untuk mendukung wakil yang jujur dan bisa aspiratif.

Pemilu federal Australia akan resmi dimulai kurang dari 18 jam lagi, dengan survei terakhir 50-50 untuk Liberal dan Buruh, tentunya hasil akhir akan sangat menegangkan. Tapi yang jelas warga Australia akan merasa lega, sebab musim kampanye akhirnya selesai.

Advertisements

Author: Ella

Penulis saat ini tinggal di Perth, Australia Barat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s