Soal gaji

Ada di sini.

 

Perth, 23/8 (Antara) – Ketimpangan sistem penggajian antara laki-laki dan perempuan di Australia telah terjadi secara menahun sehingga pekerja pria rata-rata digaji 20 persen lebih tinggi daripada pekerja perempuan.

Laporan ini dirilis oleh Konsil Serikat Pekerja Australia (ACTU) dan dikutip oleh jaringan berita ABC, Selasa.

Seorang pemerhati isu tenaga kerja Australia, Conrad Liveris, mengatakan perusahaan-perusahaan akuntansi besar seperti PriceWaterHouse Coopers, EY, dan Deloitte, menggaji perempuan 1-5 persen lebih rendah daripada laki-laki untuk pekerjaan yang sama.

“Bahkan untuk posisi atas, selisihnya mencapai 5 persen,” tambah dia.

Mengutip laporan Biro Statistik Australia (ABS) yang mengungkap perbedaan besaran pendapatan pekerja di Australia berdasarkan gender, diketahui bahwa pekerja pria rerata digaji 20 persen lebih banyak daripada perempuan, dan sektor layanan kesehatan adalah sektor yang paling besar selisihnya.

“Kita melihat perbedaan gaji berdasarkan gender hampir 500 dolar seminggu,” kata Liveris, “Dan menariknya, sektor kesehatan 80 persen pekerjanya adalah perempuan.”

Masih menurut data ACTU, ketimpangan upah antara pekerja perempuan dan laki-laki semakin memburuk di mana pada tahun 2004 tercatat hanya 15 persen, dan di tahun 2015 mencapai titik puncak untuk kemudian sedikit berkurang di tahun 2016.

Di Indeks Ketimpangan Upah Global, posisi Australia ada di urutan 15 besar dunia pada tahun 2006, lalu merosot ke 36 di tahun 2015 sehingga Australia berada di bawah Rwanda (6) dan Mozambique (27).

Lantas apakah yang membuat perempuan Australia digaji lebih murah daripada pria?
Liveris menunjuk akar masalah terletak di pola berpikir dunia kerja yang melihat hasil kerja perempuan tidak setara nilainya dengan hasil kerja pria.

“Kita tidak menghargai mereka (pria dan perempuan) secara sama, dengan upah yang sama,” ujar dia yang menyoroti pula diskriminasi seksual terhadap aplikasi pekerjaan, “Di mana seolah-olah kandidat yang maskulin selalu lebih diminati daripada kandidat feminin.”

Indonesia

Performa Indonesia dalam Indeks Ketimpangan Gender tahun 2015 juga menujukkan tren memburuk, dengan skor 0,681 (di mana angka maksimal adalah 1) Indonesia duduk di peringkat 92 dari total 142 negara yang disurvei. Padahal pada tahun 2006, dengan total skor 0,654 Indonesia berada di posisi 68 dari 115 negara di dunia.

Dari empat aspek yang dievaluasi; ekonomi, politik, pendidikan, dan kesehatan, terlihat kesetaraan gender di bidang kesehatan dan pendidikan sudah tercapai, bahkan perempuan melampaui jumlah pria di sekolah dasar dan perguruan tinggi. Perempuan Indonesia juga memiliki angka harapan hidup lebih tinggi daripada pria.

Namun untuk keterlibatan perempuan di sektor ekonomi, tampaknya pendapatan perempuan hanya separuh dari laki-laki dengan rerata upah perempuan hanya 65 persen dari gaji yang diterima pekerja pria.

Pekerja perempuan yang menduduki jabatan sebagai anggota parlemen, pejabat senior, dan manajer hanya sepertiganya jumlah laki-laki. Pada kenyataannya, perempuan hanya mengisi 35 persen pasar kerja formal, karena 65 persen pekerjaan formal diisi oleh pria. Sementara di sektor pekerjaan informal, 41 persen dikerjakan oleh perempuan dan sisanya sebanyak 59 persen dikerjakan oleh pria (BPS, 2013).

Pekerjaan rentan lebih banyak dilakukan oleh perempuan (46,6%) dibandingkan oleh laki-laki (24%), diperparah lagi 45,6 persen perempuan yang bekerja sebagai pekerja tetap menerima upah rendah—kondisi ini sangat timpang karena hanya 27,2 persen laki-laki yang menerima upah rendah (Antara, 2015).

Menurut laporan ILO (2013), perempuan mengalami tiga diskriminasi ketika berpartisipasi ke angkatan kerja. Pertama, data menunjukkan hampir separuh perempuan Indonesia berusia 15 tahun ke atas tidak aktif secara ekonomi, sedangkan di kalangan pria kategori ini hanya dialami oleh 22,3 persen. “Tidak aktif secara ekonomi” di sini bisa diterjemahkan dengan kondisi perempuan yang tidak terlibat dalam pekerjaan yang menghasilkan uang alias tidak bergaji.

Kedua, ketika perempuan masuk ke angkatan kerja, mereka menemui hambatan yang lebih banyak dibandingkan pria ketika ingin mempertahankan pekerjaan mereka. Pekerja perempuan berhadapan dengan pergulatan dilema bekerja versus mengurus rumah tangga (baca: merawat anak dan urusan domestik lainnya), dan fleksibilitas jam kerja.

Hal ketiga yang sangat timpang antara pekerja pria dan pekerja perempuan adalah diskriminasi upah/gaji. Di sektor pertanian, rerata upah perempuan adalah 61,07 persen upah pekerja pria, sementara di sektor non-pertanian pekerja perempuan hanya menerima 77,74 persen bayaran yang diterima oleh pekerja pria untuk pekerjaan dan kualifikasi yang sama.

Lalu negara mana yang meraih posisi teratas di ranking yang disusun World Economic Forum (WEF) ini? Jawabnya, Islandia, yang mengantungi skor 0,881.

Perempuan di Islandia menerima rerata gaji 77 persen dari gaji yang diterima pekerja pria untuk tugas dan posisi yang sama.

Namun jumlah perempuan di jabatan profesional dan sektor teknikal jauh melampaui pekerja pria, dengan rasio 1,33. Setiap 60 mahasiswa di universitas, terdapat 103 orang mahasiswi, membuat rasio gender 1,72 untuk perempuan dibanding laki-laki.

Demikian pula dengan angka harapan hidup perempuan yang lebih lama daripada pria. Rerata perempuan Islandia hidup hingga usia 73 tahun, sementara prianya 71 tahun.

Dalam 50 tahun terakhir, Islandia telah dipimpin oleh kepala negara perempuan selama 20 tahun.

 

Advertisements

Qantas bukukan laba terbesar dalam sejarah

Perth, 24/8 (Antara) – Perusahaan maskapai penerbangan Australia, Qantas, berhasil membukukan laba bersih terbesar sepanjang 95 tahun operasional di angka 1,03 miliar dolar atau setara dengan Rp10,4 triliun (1 dolar=Rp10.086), melonjak jauh dari kondisi tahun lalu dengan laba 557 juta dolar (Rp5,6 triliun).

Laba kotor perusahaan yang sudah melantai di bursa itu juga naik 60 persen ke 1,53 miliar dolar dari 975 juta dolar di tahun sebelumnya.

Menurut Direktur Qantas, Alan Joyce, pencapaian tahun ini didukung oleh kebijakan pemangkasan berbagai biaya dan mengunci keuntungan dari harga bahan bakar yang lebih murah.

Berkat anjloknya harga minyak dunia, Qantas dapat mendulang untung 664 miliar dolar dari mematok harga bahan bakar pesawat.

Gabungan pendapatan Qantas dan rute-rute domestik Jetstar mencapai 820 juta dolar, naik 30 persen dari tahun sebelumnya.

“Ini adalah hasil terbaik dalam 95 tahun sejarah Qantas, sejarah dunia penerbangan Australia, titik,” ujar dia seperti dilansir jaringan ABC.net.au, Rabu.

Dengan rekor laba ini, Qantas untuk pertama kalinya sejak 2009 akan membagikan dividen sebesar 7 sen (Rp705) per lembar saham, yang akan dibayar pada Oktober. Perusahaan itu juga akan membeli balik sahamnya hingga nilai 366 juta dolar.

Bloomberg melaporkan pada perdagangan hari ini di Sydney, saham Qantas naik 4,1 persen ke angka 3,54 dolar per lembar.

Dalam enam tahun terakhir, Qantas telah mengalami jatuh-bangun, mulai dari tahun 2010 di mana laba tercatat 112 juta dolar naik ke 250 juta pada tahun 2011. Qantas kemudian terjerembab ke posisi merugi 245 juta dolar pada tahun 2012, dan setahun berikutnya mampu keluar dari lembah kerugian dengan mencatatkan laba 1 juta dolar.

Di tahun 2014 perusahaan berlogo kangguru putih itu merugi hingga 2,8 miliar dolar dan sejak itu Qantas menerapkan kebijakan penghematan 2 miliar dolar biaya operasional dan memecat 5.000 pekerja atau sekitar 15 persen dari total pegawainya.

Alan Joyce menyebut sejak itu penghematan bisa konsisten bertahan di angka 1,66 miliar per tahun, dan 557 juta dolar laba dari operasi.

Merosotnya harga minyak menopang keuntungan perusahaan yang sangat kuat dengan prestasi keamanan serta ketepatan jadwal terbang itu.

Penerbangan internasional Qantas memainkan peran kunci dalam postur keuntungan, dengan pendapatan total 512 juta dolar sebelum potongan pajak, naik 95 persen dibandingkan tahun 2015.

 

Tulisan ini dikutip:

https://m.tempo.co/read/news/2016/08/24/090798596/qantas-bukukan-laba-bersih-terbesar-sepanjang-95-tahun

http://economy.okezone.com/read/2016/08/24/320/1471735/qantas-bukukan-laba-rp10-4-triliun-terbesar-dalam-sejarah

http://kabar24.bisnis.com/read/20160824/19/578009/qantas-bukukan-rekor-laba-bersih-dalam-95-tahun

 

Sentimental me!

Please borne in mind…. I am being super sentimental!

 

 

“Like I’m Gonna Lose You”
by Meghan Trainor (ft. John Legend)

I found myself dreaming
In silver and gold
Like a scene from a movie
That every broken heart knows we were walking on moonlight
We were walking on moonlight
And you pulled me close
Split second and you disappeared and then I was all alone

I woke up in tears with you by my side
A breath of relief and I realized
No, we’re not promised tomorrow

So I’m gonna love you, like I’m gonna lose you
I’m gonna hold you, like I’m saying goodbye herever we’re standing

Wherever we’re standing, I won’t take you for granted
’cause we’ll never know when..when we’ll run out of time
so I’m gonna love you, like I’m gonna lose you
I’m gonna love you like I’m gonna lose you

[John Legend:]
In the blink of an eye
Just a whisper of smoke
You could lose everything
The truth is you never know

So I’ll kiss you longer baby
Any chance that I get
I’ll make the most of the minutes and love with no regrets

Let’s take our time
To say what we want
Use what we got
Before it’s all gone
‘Cause no, we’re not promised tomorrow

[Both:]
So I’m gonna love you, like I’m gonna lose you
I’m gonna hold you, like I’m saying goodbye

Wherever we’re standing, I won’t take you for granted ’cause we’ll never know when
’cause we’ll never know when…when we’ll run out of time so I’m gonna love you
So I’m gonna love you, like I’m gonna lose you
I’m gonna love you like I’m gonna lose you…

Sensus oh sensus!

Tulisan ini dibuat setelah semalam “puas” menunggu secara produktif (baca: sambil bikin berita dan baca komentar-komentar cetar di Twitter) sensus “online” yang seharusnya diisi. Sensus di Australia sudah mulai diperkenalkan untuk “paperless” alias tidak pakai kertas lagi sejak awal tahun 2000-an. Di tahun pertama “eCensus”, cuma 10 persen responden yang melakukannya secara “online”, sisanya masih dengan metode petugas sensus datang ke rumah-rumah dan membantu pengisian lembar-lembar pertanyaan kepada si penghuni rumah.

Di sebuah video tentang kampanye sensus tahun 1966, diperlihatkan bagaimana sensus digelar. Mirip sekali dengan yang ada di Indonesia, petugas dan responden bertatap muka, mengisi formulir, dan tentu saja data mereka tidak mencantumkan nama si responden serta alamat rumah.

Tahun ini terjadi banyak sekali perubahan. Sekitar dua pekan sebelum sensus lima tahunan digelar, saya sudah mendapat surat dengan kop surat bertuliskan jargon “Your moment to make a difference” di sampingnya ada logo Australian Bureau of Statistics (ABS). Lantas di pembukaan surat tertulis “Your census login below. Keep this safe and save the date”. Persis di kanannya tulisan pembuka itu ada semacam gambar mirip sticky note warna kuning jelas tertera di sana “Census night August 9”.

Yang sangat mengusik saya dari awal sebenernya tulisan begini:

Dear Resident,

Please complete the Census on Tuesday, 9 August 2016.

The census is your moment to make a difference and help shape Australia’s future.

[blablabla…]

ABS (setara dengan BPS-nya Indonesia) sangat percaya diri bahwa laman mereka (www.census.abs.gov.au) akan sanggup menerima semua input dari responden di Australia pada waktu yang bersamaan, pada 9 Agustus malam! Bayangkan, kalimatnya kan “tolong selesaikan sensus pada 9 Agustus”, bukan “sebelum” atau “paling lambat” 9 Agustus. Ini artinya semua penerima surat diharapkan di malam yang sama membuka Internet dan duduk menghadap laman Census untuk mengisi belasan mungkin puluhan pertanyaan! Mereka sangat yakin tidak bakal terjadi “crash” akibat “overload” data atau pengakses.

Jpeg
Laman sensus “online” Australia diputuskan koneksinya pukul 19.45 waktu setempat.

Dan benar saja. Pada malam yang sudah ditentukan, eng ing eng… yang terjadi adalah kegagalan sistem menerima begitu banyak responden yang sebagian kecil bahkan sebenarnya sudah berencana untuk memboikot sensus ini! Kenapa boikot?

Nah khusus soal boikot ini, sebenarnya memang warga Australia patut merasa khawatir dengan metode pencacahan data oleh ABS yang meminta responden menuliskan antara lain nama, alamat rumah, tingkat pendidikan, agama, dan jumlah pendapatan. Biasanya nama tidak perlu dituliskan di lembar survei, karena ini seharusnya mencacah data, bukan mencacah penduduk sebagai individu (dengan identitas berupa nama). Lantas yg bikin lebih ngeri lagi adalah data sensus akan disimpan selama 4 tahun, bukan 18 bulan atau 1 tahun seperti sensus di tahun-tahun sebelumnya. Buat apa data disimpan sebegitu lama? Siapa yang simpan, dan apa jaminan data itu tidak dicuri atau bocor untuk kepentingan selain sensus?

Beberapa senator dan politisi independen, seperti Nick Xenophon, sudah mengumumkan bahwa dia lebih memilih didenda 180 dolar per hari, akibat tidak mau mengisi formulir sensus, daripada harus menanggung resiko pelanggaran privasi terhadap data pribadi dirinya dan keluarga. Ada juga politisi Partai Hijau yang memboikot karena melihat potensi kekacauan sistem “eCensus” yang bisa datanya bisa dimanfaatkan justru untuk pemerintah mengintai publik.

Sebenarnya, “eCensus” ini mungkin boleh dibilang irit dari segi biaya. Bila menggunakan sumber daya manusia untuk mendatangi rumah-rumah dan jutaan lembar kertas bisa menelan hingga 100 juta dolar, sensus “online” diperkirakan hanya membutuhkan biaya sepersepuluh atau maksimal separuh saja dari sensus konvensional. Biaya yang besar adalah membayar perusahaan teknologi IBM 10 juta dolar untuk menyediakan “cloud server”, tempat data disimpan, lalu kampanye di media massa. Tapi ini persis seperti “tambang data” buat siapa saja yang melihatnya! Ada nama, agama, jumlah penghasilan, tempat tinggal, jumlah anak, sekolah, status pernikahan, apalagi yang kurang coba? Semua ada di sana! Pejabat ABS membantah soal keraguan keamanan data sembari menyebut data memang sudah terpapar karena di manapun kita berada ada kartu “tap and go” ATM bank, ada juga kartu pelanggan supermarket, dan Facebook dkk, yang kesemuanya itu meminta kita memberitahukan detil pribadi kita! Tapi seorang reporter di acara tanya jawab tersebut menegaskan bahwa ABS meminta data secara “paksa” karena ada ancaman denda di sana, sementara kartu2 yang disebutkan tadi dan media sosial semuanya adalah bersifat “pilihan”. Bagaimana mungkin kedua ini bisa dianggap sama?

Australia telah menggelar sensus sejak 1828, tapi secara resminya sensus tercatat terjadi pada tahun 1911 ketika jumlah populasi Australia mencapai 4,4 juta orang. Orang Aborigin dan Torrest Strait Islander baru masuk ke data sensus Australia di tahun 1966. Sensus adalah kewajiban, sama dengan pemilu!

Sebagai gambaran, sensus lima tahunan di Australia ini digelar berdasarkan rumah atau tempat tinggal. Semua harus mengisi, tidak peduli apakah kita warga negara atau bukan, pendatang atau bukan, tak peduli bila hanya satu malam sedang berada di Australia atau bukan. Yang penting Anda berada di Australia pada tanggal 9 Agustus 2016. Pengecualian hanya berlaku bagi mereka diplomat asing dan keluarganya. Tahun ini ABS memperkirakan ada 10 juta keluarga dengan jumlah jiwa mencapai 24 juta. Data sebanyak itu akan memetakan siapa kita, dan bagaimana kebiasaan kita, berikut pula nama dan informasi tempat tinggal kita. Semisal saja kita berbohong dengan isian formulir, ABS mengancam dengan denda dan tuntutan hukum. Semuanya memang terasa “dipaksa” demikian rupa.

Tapi ABS sebenarnya memberikan celah buat kita tetap menjaga privasi di data yang kita berikan. Baca ini saya jadi paham bahwa ada trik:

  1. Minta formulir kertas ke ABS, dan tanya di mana tempat pengumpulan formulir nanti bila sudah terisi.
  2. Di formulir kertas, kita boleh kosongkan kolom nama dan kita tidak kena denda kalau tidak isi nama di sana. Sementara bila menggunakan metode “eCensus”, sistem tidak akan progres bila kolom nama tidak diisi. Tapi balik lagi yah, kan ada alamat rumah tercantum di sana. Saya kurang paham apakah alamat juga boleh dikosongkan di kertas survei “offline”?

Balik ke isu keamanan data, ABS sejak tahun 2013 melaporkan ada 14 kasus kebocoran data. Titik paling lemah berada di fase ketika semua data itu terkumpul, mereka kepayahan menyimpan data dari sekitar 9 juta keluarga untuk sekali sensus. Apalagi bila diakumulasikan dengan sensus-sensus sebelumnya. Masif sekali!

Ditambah lagi pagi ini berita koran Sydney Morning Herald mewartakan laman sensus ABS terpaksa ditutup sementara karena diserang oleh “hacker” dari luar negeri. Kepala Statistik ABS, David Kalisch, dalam wawancara radio bersama ABC, Rabu (keesokan hari setelah malam sensus), menegaskan data yang masuk sebelum 7.30 malam sudah aman diterima ABS. Dan David belum bisa mengetahui detil sumber serangan tadi malam terhadap laman sensus ABS. Di bagian lain berita itu tertulis Menteri Usaha Kecil Michael McCormack – menteri yang bertanggung jawab untuk urusan sensus 2016 – membantah soal serangan “hacker”. Uniknya lagi, harian The Australian menurunkan angle berita bahwa kerusakan sistem semalam bukan karena “hacker”, tapi semata kegagalan “hardware” akibat serbuan responden.

ABS mengakui sejak pukul 19.45 tadi malam laman sensus sudah diputus koneksinya, tapi mengapa responden diminta untuk mencoba kembali dalam waktu 15 menit? Ini terasa konyol sekali karena ribuan, mungkin jutaan, orang tadi malam nyaris bedagang demi sensus! Lalu David Kalisch di wawancara radio ABC berjanji laman sensus bisa kembali diakses jam 9 pagi hari ini, tapi sampai pukul 10 pun masih saja tidak bisa dibuka. Jadi?

Anak TK bikin kue

Sore capek plus ngantuk dari kampus UWA langsung sirna ketika di rumah saya disambut dengan wajah riang Safiyya.

“Tadi Safiyya pesan, kuenya jangan diabisin buat Mamaya, supaya Mamaya tau aku bikin kue di sekolah,” kata ibu saya menjelaskan ikhwal sepotong kue yang saya lumat hanya dalam hitungan detik.

Di meja makan baru kami (hasil lungsuran dari rumah Mbak Amel), saya mengagumi hasil karya Safiyya bersama guru dan teman-temannya di Kindergarten alias TK Bentley Primary School. Suka sekali dengan tekstur kuenya, sederhana dan renyah! 

“Kreatif yah sekolahnya. Ada kelas berkebun, masak kue,” kata Mami berkomentar santai. 

Besok jelas sudah agenda saya ke sekolah harus meliputi mencatat resep kue ala bu guru Donovan! Hahahaha…..