Belanja ayam

 

Salah satu keguyupan di tanah rantau tercipta saat kita membiasakan menambah pundi uang kas organisasi dengan program belanja bareng. Selisih harga beli dan harga transaksi dari pemasok menjadi sumbangan untuk grup pengajian kami di UWA dan di Murdoch. Program pertama yang digulirkan adalah pembelian daging ayam halal di factory outlet-nya Steggles, di kawasan Osborne Park. Lalu ditawarkan juga daging unta, yang unik dalam hal tekstur daging dan aroma.

Program belanja ayam ini lumayan mendapat respon dari teman-teman mahasiswa dan seorang warga permanen yang berbisnis kuliner di Mandurah. Beliau selalu membeli satu boks daging dada fillet (beratnya 15 kg). Dan akhir pekan kemarin adalah kloter belanja ayam untuk dua grup pengajian. Mulanya ditawarkan di grup WA, dirinci siapa mau beli apa dan berapa banyak. Dana ditransfer ke rekening yang dituju, lalu semua mengirimkan bukti transfer–juga lewat WA.

Prosesnya bisa bolak-balik cek WA. Konstan cek sebab beberapa orang mengajukan perubahan atau membatalkan pemesanan. Terus lucunya lagi, setelah dibeli, ada saja yang kurang dibelikan. Kemungkinan kesalahan terletak dari penulisan nama yang sama untuk dua orang yang berbeda. Alhasil, tumpang tindih!

“Ih, gak bakat kayaknya jadi juragan ayam,” keluh saya sambil minta maaf kepada konsumen. Tapi emang beneran, berjualan itu harus lebih teliti, dan lebih baik belanja agak lebih daripada kekurangan. Lessons learned! 🙂

 

p_20161028_153839_1_p.jpg
Harga spesial ala Steggles

 

BTW harga daging ayam fillet lebih murah beli di FO langsung, 7,5 dolar per kilo. Terus ada juga nugget, ayam kampung utuh satu ekor (4.99 per kilo), dan ayam bumbu peri-peri yang tinggal dipanggang (7 dolaran per ekor). Kemarin total pembelian 3 boks karton daging ayam fillet (45 kg), belasan tray ayam peri-peri, dan total belanja menghabiskan lebih dari 500 dolar. Dengan barang belanja yang demikian banyak, kami memerlukan 2 trolley untuk membawa dus-dus itu masuk ke bagasi mobil.

“Kita dikira buka restoran kali yah!” celetuk suami.

 

Jalan-jalan ke kota

Waktunya jalan-jalan ke kota untuk urusan pajak. Sebenernya ini murni kemalasan dan kelalaian saya, menunda urusan tax return sampai akhirnya mepet dengan tanggal terakhir yaitu 31 Oktober. Kalau sampai tanggal itu belum diurus, saya terancam kena denda! Hadeh…

Jadi deh ajak Aqila dan mami ke kota, setelah saya mengantar Safiyya ke sekolah. Aqila yang sempat menangis tadi pagi ternyata benar-benar menunggu saya pulang dari mengantar kakak sekolah. Dia berdiri di depan pintu rumah dengan rapih, menggendong tas kura-kuranya yang berwarna hijau. Tampil sangat cantik lengkap dengan polesan tipis gincu! (bagian ini memang terkadang anak-anak lebih girang berdandan daripada mamanya).

Dengan gembira, Aqila saya gandeng tangannya ke halte sementara Mami membawa tas berisi susu dan semua keperluan si kecil. “Kita naik bis ke Canning Bridge” ujar saya sebagai pemimpin rombongan.

Bis ke Canning Bridge adalah nomor 101. Perjalanan masih di zona 1, jadi rencananya adalah kita ke kota naik bis ke stasiun, lalu naik kereta berhenti di Perth Station.

p_20161028_093419_1_p.jpg
Jez jez jez …

Di kereta api yang membawa kami ke kota Aqila dan Mami duduk dekat jendela, dan karena penumpangnya sedikit sekali, rasa-rasanya memang sangat nyaman! Ketika kereta menyeberangi Sungai Swan di jembatan di mana kendaraan lain juga berlalu-lalang, secara perlahan kereta bergerak ke bawah tanah. Terus bergerak tanpa terlalu terasa sedang turun, tapi di Stasiun Elizabeth Quay kita bisa melihat di bagian atas stasiun adalah jalanan mobil. Kita sudah satu level di bawah jalan raya!

Berikutnya adalah Perth Station, di sini kami turun. Keluar dari kereta, langsung naik eskalator sebanyak dua kali, lalu ta-daa…kami muncul di kompleks perbelanjaan Hay Street. Aqila sangat pandai naik eskalator, tenang dan percaya diri saat naik dan turun.

Saat tiba di kota, suasana agak ramai. Banyak turis, banyak pekerja juga yang sedang rehat pagi. Saya menggandeng Aqila berjalan ke kantor myGov, tempat saya ingin mencari bantuan soal pengajuan tax return. Di pintu masuk saya disambut oleh seorang pria bertubuh tinggi berkulit gelap, dan dia meminta saya tunggu petugas di meja yang sudah ada komputer menyala.

Dua menit ditunggu, tidak ada yang menghampiri. Saya buka sendiri laman myGov dan mencoba akses akun saya. Tapi dasar kurang beruntung, akun malah terblok hingga 2 jam ke depan! Gagal total. Petugas-petugas di kantor itu tidak bisa bantu apa2 selain menyuruh saya telpon kantor pajak via telepon, dan obrolan via telepon dengan petugas pajak juga tidak banyak bermanfaat. Cuma disuruh tunggu dalam 48 jam nanti dihubungi oleh petugas pajak via telpon!

That’s it? Ya ampun… apa gunanya kantor ini sih, ada orangnya tapi gak bisa bantu. Semua masih terpusat di kantor pajak entah di mana, dan saya hanya bisa menunggu sampai mereka menghubungi.

Ya sudah, pulang saja. Mami juga setuju sebaiknya langsung pulang, sebab nanti malam kami akan kedatangan tamu, perlu masak-masak. Ini aksi kami menunggu bis 72 tadi. Di bis Aqila berteriak, “Mana ayam Andos?” –lho! Anakku mengira hari ini diajak jalan-jalan ke kota untuk makan ayam Nandos hahahaha….. Saya pun menjawab, “Iya nak, nanti bareng sama Papano dan Kakak Fiyya ya?!”

p_20161028_105011_1_p.jpgp_20161028_105111_1_p.jpgp_20161028_105128_1_p.jpgp_20161028_104822_1_p.jpg

“Kelinci percobaan”

Kemarin adalah hari yang menyenangkan. Mengantar anak ke sekolah, lanjut ke kampus untuk menjadi “kelinci percobaan”. Ih, jadi bahan penelitian kok seneng?! Iya seneng, karena saya jadi belajar banyak hal dari peneliti di luar bidang saya.

Penelitian eksperimental di laboratorium yang melibatkan manusia sebagai objek pengamatan memang sangat menarik, karena manusia tidak ada yang identik dalam pengambilan keputusan. Saya sangat yakin metode ini bisa dipakai untuk tema apa saja, termasuk riset saya di masa yang akan datang, jadi… tidak rugi kalau dari sekarang belajar bagaimana cara menggunakan metode ini.

Nah! Duduklah kami 12 “kelinci percobaan” di sebuah ruangan di lantai tiga gedung selatan fakultas psikologi. Masing-masing menghadap ke layar komputer merek LG yang berukuran lebih dari 17 inci (taksiran saya sih bisa mencapai 22 inci, entah!). Lalu profesor dari bidang ilmu pertanian mulai membahas aturan main buat kami.

“Kalian akan berjudi,” ujar pria berkaca mata dan berbaju motif kotak-kotak (bukan seragam pasukan pendukung JKW) itu.

Wadoh! Judi? Gimana mainnya? Sambar pikiran saya sepersekian detik dari ucapan si profesor.

Anggap saja kalian adalah masing-masing pemilik perusahaan dan ingin mengajukan tawaran harga kepada lembaga pemerintah yang sedang membuka lelang untuk pekerjaan tertentu. Ingat bahwa lembaga pemerintah ini punya anggaran yang ada batasnya dan mereka akan memilih berdasarkan tawaran harga jasa yang termurah terus ke tawaran berikutnya sampai pagu habis.

Lalu.. pertanyaannya, bagaimana kalian akan menyusun harga? Apakah kalian mengejar keuntungan sebesar-besarnya? Atau barangkali kalian memilih untuk bermain “aman”, dan menawarkan harga termurah? Kalian juga boleh saja tidak mengajukan bid sama sekali, sehingga modal kalian di perusahaan imajiner kalian tetap utuh, tidak dipotong biaya administrasi mengajukan tender.

Kami semua bermain 12 set, enam set pertama semua pemain memiliki harga produksi yang sama, sementara di enam set yang kedua komputer mengacak harga dasar produksi masing-masing perusahaan kami secara berbeda. Ini sangat mencerminkan praktik di lapangan, di mana kadang perusahaan memiliki harga dasar untuk menghasilkan sebuah jasa berbeda dengan harga perusahaan lain. Kembali ditanya, kalian akan kasih penawaran yang seperti apa? Apakah akan menjadi risk taker atau senang dengan hasil yang moderat asal “dapur perusahaan ngebul”?

Di set pertama, saya menang 5 tender dari total 6 set. Sementara di gim kedua, saya cuma menang 3, sehingga total kemenangan saya di “judi” itu adalah 8.

Pak profesor menjelaskan bahwa keuntungan perusahaan imajiner kalian itu akan dikalibrasi menjadi uang beneran (dolar Australia) dan ditambah dengan hasil kalibrasi modal awal perusahaan.

“Besok selepas jam 2 siang, kalian bisa ambil upah kalian berpartisipasi dalam riset ini. Dan bila berminat mengetahui lebih lanjut soal riset ini, kirimkan saya email! Nanti saya balas,” tambahnya.

Eh .. ada upahnya! Asik… anak mahasiswa mah di mana-mana pasti girang nih beginian. Colek tetangga sebelah kursi, ternyata anak Indonesia juga! Dia sudah ikutan 3 kali sesi eksperimen berbeda, dan obrolan kami pun mengalir jauh sampai Tavern, ke musholla, dan berakhir di depan Hackett cafe!

Oh … hari yang indah…. dapet pengalaman, dapet kenalan baru, dan tentu saja dapet bahan cerita buat blog! 🙂

 

Dan bagaimana harimu kemarin?

Perpanjang STNK: 2 menit

Urusan uang, saya adalah manager-nya untuk rumah tangga kecil kami. Semua pendapatan dan pengeluaran saya yang atur. Sampai giliran harga popok murah belinya di mana, atau daun salam yang murmer dapetnya di toko mana, saya yang tau.

Sama juga urusan tagihan. Per bulan ada tagihan untuk gas dan internet. Tiap dua bulan ada tagihan datang untuk air. Dan tiap tiga bulan kami membayar tagihan listrik. Itu semua ditambah lagi dengan bayaran uang sewa (rent) rumah yang kami tunaikan setiap 4 pekan.

Yang agak lama frekuensinya adalah tagihan perpanjangan STNK mobil putih kami. Cuma satu mobil sih, paling kesayangan, dan sangat berjasa dalam petualangan hidup kami merantau di Perth (agak dibumbui bubuk sentimentil!). Nah, ketika kami membeli mobil yang bila dirupiahkan harganya hanya Rp17 juta itu, STNK masih berlaku hingga 3 bulan ke depan. Lumayan, “masih ada nafas” sebelum bayar perpanjangan. Lalu ketika tenggatnya tiba, kami membayar car registration licence fee disingkat “rego” alias STNK dalam istilah Bahasa Indonesia, untuk satu tahun ke depan. Alasannya sederhana saja: supaya tidak mikirin bayar tagihan STNK sampai genap nanti satu tahun berlalu.

Pembayaran rego bisa dilakukan untuk durasi izin yang berlaku 3 bulan, 6 bulan, atau 1 tahun. Dan kita bisa membayarnya ke kantor Departement of Transport (DoT)–sama seperti kalau mengganti data kepemilikan kendaraan dan pembuatan SIM–dan bisa juga membayar secara daring alias lewat internet.

Pagi ini, dalam perjalanan di bis setelah beres belanja kebutuhan dapur, saya berpikir keras apakah rego harus dibayar bulan Oktober ini atau November? Sampai rumah, langsung buka laptop, dan periksa.

screenshot-www-transport-wa-gov-au-2016-10-26-11-20-42

Pertama, buka laman DoT. Cari kolom “pay online” di mana kemudian muncul pertanyaan apakah Anda memiliki account number? Saya pilih tombol “account lookup” dan memasukkan data nomor plat kendaraan yang akan diperpanjang rego-nya. Lalu prosesnya berlanjut ke konfirmasi data mobil, data kartu debit bank, dan satu klik terakhir adalah pengiriman bukti bayar ke email yang kita tuju. Semua tadi beres dalam waktu kurang dari 2 menit!

Terus kalau ingin periksa apakah mobil kita sudah sukses diperpanjang rego-nya, gampang. Klik tombol ini dan masukkan data plat mobil, nanti akan terpampang sampai tanggal berapa STNK mobil berlaku. Saya masukkan data “si putih”, dan keluarlah 26/04/2017. Sudah terbayar untuk enam bulan ke depan, alhamdulillah.

By the way…. besaran rego sedikit lebih mahal tahun ini. Iklannya sudah beredar sejak beberapa bulan lampau, dan pemerintah menjelaskan lewat pengumuman itu bahwa alasan mereka menaikkan biaya izin kendaraan bermotor adalah karena jumlah kasus kecelakaan di jalan raya yang menyebabkan kerusakan otak melonjak. Sebagian dari biaya rego yang dibayarkan adalah asuransi buat korban kecelakaan.

Semisal kecelakaan sampai membuat kecacatan permanen akibat otak yang tidak lagi berfungsi normal, maka biaya perawatan pasca operasi dan pemulihan si korban kecelakaan ditanggung oleh negara. Dari sini, saya melihat sistem asuransi kecelakaan lalu lintas (lakalantas) sangat patut ditiru oleh republik sebelah. STNK itu untuk asuransi pengguna jalan raya, selain tentu saja sumber pendapatan pemerintah dan dana untuk perbaikan kualitas infrastruktur jalan.

Untuk satu kendaraan berupa sedan untuk 5 orang penumpang, rego-nya sekitar 600 dolar atau Rp6 juta. Bagaimana dengan di Indonesia? Ke mana uang STNK-nya?

 

 

 

Rumah susun

Terduduklah saya di salah satu halte di Bentley, menunggu bis yang jadwalnya tertulis di papan bakal lewat jam 9.35. Bis yang terakhir lewat adalah nomor 34, dan itu pukul 9.20. Saya harus ke Crawley pagi ini, sudah ada janji dengan dokter di klinik untuk tes papsmear.

Tak lama berselang, seorang ibu datang. Ia berbaju serba hitam, dan ramah menyapa “Hello”. Saya pun membalas, tak ingin ketinggalan! Saya bilang “Hello” ke perempuan yang terkaan saya sudah mencapai usia 60 tahunan.

Lalu acara menunggu angkot (berupa bis yang ukurannya mirip bis luar kota di Indonesia, berbahan bakar gas, dan lengkap dengan penghangat serta pendingin ruangan tergantung musim) saya buka dengan memulai percakapan bersama si ibu.

“Gedung ini, rasanya sepi. Apakah tidak banyak yang tinggal di sana?” tanya saya sembari menatap dan menunjuk ke sepasang gedung tinggi yang sangat mirip dengan rumah susun ala Indonesia. Gedung yang beberapa kali menjadi bahan obrolan pendek saya dengan suami bila sedang melintasinya.

“Oh, dulu banyak. Sekarang semua warga di gedung bagian depan pindah ke gedung belakang. Banyak yang rusak. Pipa-pipa bocor. Tidak jelas kenapa sampai empat tahun tidak jelas pengerjaannya,” bahas perempuan yang mengaku sudah 7 tahun tinggal di rumah susun itu.

Jadi gedung itu ada sepasang, masing-masing setinggi 9 lantai dan tiap lantainya ada 10 unit dengan 2 kamar tidur. Total unit adalah 180, tapi berhubung kerusakan aneka rupa di gedung paling depan, tinggal sedikit saja yang bertahan dan pindah ke gedung belakang. Berbagai plang pengumuman bahwa kawasan Bentley akan “diremajakan”, tapi paradoksnya hingga empat tahun kerusakan di rumah susun masih saja dibiarkan.

 

p_20161029_092812_p.jpg
Rumah susun Bentley

 

“Padahal gedung ini adalah ‘heritage’, tidak boleh dirobohkan atas alasan warisan kekayaan budaya kota,” ujar lawan bicara saya yang memilih berdiri saat menunggu bis.

Dulu, masih kata si ibu, di kompleks ini ada pusat penitipan anak segala. Ada apotik, minimarket, dan gereja. Perlahan akibat beraneka kerusakan yang tidak diperbaiki, penghuni pun satu per satu angkat kaki. Perumahan rakyat yang menawarkan harga sewa unit yang lebih terjangkau (tentunya), tampak terbengkalai dari luar, dan ternyata hal itu diamini oleh penghuninya sendiri pagi ini.

Saya selalu melihat perumahan rakyat di Bentley–kawasan yang banyak dihuni oleh orang keturunan Aborigin, pendatang (mahasiswa), dan orang dengan tampilan ras non-Kaukasian–memang sangat bagus untuk mensubsidi mereka yang tidak mampu. Tapi kalau kondisinya rusak, ditambah lagi anak2 muda yang suka mabuk dan berisik di malam hari, mungkin kenyamanan adalah harga yang memang harus dibayar oleh mereka yang bertahan.

“Kalau malam, rumah kamu sudah kamu kunci, memang semua aman. Tapi kalau keluar dari unit kamu…duh gak aman!” ujar ibu bergincu tipis itu sembari menyedakapkan tangan dan menggelengkan kepala. Kondisi sepi di pagi hari bisa “menipu”, sebab “anak-anak nakalnya sedang tidur atau keluar”, kata si ibu lagi.

Saya tertegun menatap ekspresinya itu.

Dan tak lama setelah itu, bis yang ditunggu pun datang. Obrolan itu berakhir. Kawan ngobrol saya duduk di kursi paling depan, dan saya memilih duduk agak di tengah. Kembali ke laptop!

 

=====

(Crawley adalah kawasan kampus University of Western Australia/UWA, tempat saya sekolah. Sementara Bentley adalah suburb, macam kecamatan kalau di Indonesia, kampus Curtin University)

 

 

 

 

 

 

Berobat

Salah satu kelebihan sistem kesehatan yang bisa dinikmati di negeri Kangguru adalah layanan bagi mahasiswa internasional. Bukan hanya untuk si mahasiswa yang sedang bersekolah, tapi juga anak dan suami/istrinya. Sebuah kartu asuransi OSHC (overseas student health cover) cukup untuk mengantarkan anak yang sakit berobat gratis ke klinik di kampus, ke rumah sakit, dan ke pusat pelayanan kesehatan gigi dan mulut (dental clinic).

Di cerita saya kali ini, saya akan berbagi tentang pengalaman membawa salah satu putri kami yang mengeluhkan rasa sakit saat pipis dan gusi yang bengkak. Dua persoalan terpisah, penanganannya pun harus satu per satu supaya tuntas.

Hari pertama, Senin, saya membawa putri kami ke klinik kampus. Kartu OSHC Medibank saya bawa dan tunjukan kepada resepsionis klinik. Simpel. Lalu kami menunggu sekitar satu jam di antrian, sebelum berjumpa dengan seorang dokter pria yang ramah terhadap anak-anak. Saya diminta dokter untuk membantu mengambilkan sampel urin untuk mengetahui adakah infeksi di saluran kemih Safiyya.

Hasilnya segera keluar karena secara sederhana urin ditempeli kertas khusus yang menunjukkan spektrum warna sesuai dengan kadar keparahan infeksi. Dengan sigap sang dokter meminta saya segera membawa Safiyya ke Princess Margaret Hospital/PMH (sebuah rumah sakit khusus anak di Perth). Hati ini mendadak ciut karena si dokter sempat menyebutkan bila hasil dari observasi UGD PMH tidak bagus, bisa jadi Safiyya terpaksa dirawat dua malam dan entah berapa bulan atau berapa tahun ke depan harus dioperasi untuk memperbaiki fungsi ginjalnya. Terdengar sangat serius, dan saya berdoa semoga saja pak dokter keliru.

Di PMH, saya harus mendaftarkan Safiyya berikut dengan surat pengantar dari dokter klinik. Lanjut mengantri diterima sama suster UGD. Oh ya… UGD di sini tidak seperti di Indonesia, bila kasusnya tidak mengancam nyawa, tertulis di papan pengumuman elektronik di meja resepsionis bahwa antriannya bisa sampai 2 jam. Ya, dua jam menunggu hingga akhirnya ditangani suster dan dokter UGD.

p_20161018_150423_1_p.jpg

Dengan Aqila yang tertidur sejak turun dari bus Yellow Cat, saya terpaksa menggendong Aqila sembari menunggu dan menghibur Safiyya yang makin bosan menunggu.

Di rumah sakit, baju suster, dokter, bisa dengan mudah dibedakan. Warna bajunya sama, tinggal warna kerah di dekat lehernya yang berbeda. Dokter pakai kerah baju warna merah marun, sementara suster berwarna putih. Suster bertugas menimbang berat pasien, mengetes kondisi dasar seperti panas tubuh, selanjutnya dipanggillah dokter yang bertugas menanyakan lebih lanjut tentang keluhan pasien. Kembali dokter meminta sampel urin. Lalu dokter bilang infeksi saluran kemih sangat mungkin terjadi pada perempuan akibat pola pembersihan pasca pipis yang keliru (dari arah dubur ke atas ke bagian vagina). Bila keluhan terjadi di bawah usia 3 tahun, ada kemungkinan anatomi ginjal bermasalah. Tapi bila keluhan terjadi di atas usia tersebut, lebih berpeluang masalahnya terletak di higienitas dan kekurangan asupan air.

Dokter memutuskan memberikan antibiotik setelah saya menjawab bahwa Safiyya tidak punya alergi apapun sepanjang sepengetahuan saya. Obatnya sebanyak 4,3 mililiter harus diberikan sebanyak 4 kali sehari hingga 5 hari. Kami membeli obat berupa cairan manis berwarna pink itu di sebuah apotik dekat Carousel dan terbilang murah, 7.99 dolar (sekitar Rp80.000). Malam setelah mulai mengkonsumsi obat, Safiyya bisa tidur dengan lelap alhamdulillah.

Keesokan harinya, saya bawa Safiyya ke dokter gigi di sebuah klinik gigi di bilangan Mt Henry, Salter Point. Ini juga setelah berkonsultasi dengan beberapa teman dan akhirnya ke sekolah bertemu wakil kepala sekolah yang baik hati. Dia sendiri yang langsung menelponkan klinik dan menceritakan keluhan Safiyya. Ternyata, anak sekolah mendapat fasilitas ke dokter gigi gratis di sini, asalkan dia terdaftar bersekolah di salah satu sekolah di Perth. Dan kebetulan untuk murid sekolah Bentley, arahannya adalah klinik gigi di Salter Point. Cukup satu kali bis dari rumah, kami bisa sampai ke sana.

Saya pun buru-buru pulang ke rumah untuk jemput Safiyya dan berangkat lagi ke klinik gigi. Di sana kami mendaftarkan diri, dan tak sampai 10 menit sudah ditangani mahasiswa terapi kesehatan mulut. Mahasiswa tingkat akhir ini muslimah cantik dan lembut terhadap anak-anak. Ia panggilkan dokter gigi yang bertugas di sana, lalu diperiksa dengan teliti. Semua tambalan gigi tidak ada yang copot tapi memang gusi meradang dan bengkak agak tebal. Di kursi berwarna biru, gigi Safiyya dihitung dan diperiksa kesehatannya. Dengan gagah berani, Safiyya melampaui itu semua tanpa berkeluh sedikitpun. Saya bangga akan keberanian putri saya ini.

p_20161019_151424_1_p.jpg

Saran untuk masalah ini ternyata sederhana saja. Berkumur dengan air garam sesering mungkin, dan menggosokkan gigi dengan kasa agar kotoran masakan bisa terangkat. Setelah mendapat kejelasan perihal kondisi mulut dan gigi, Safiyya dijadwalkan untuk konsultasi kembali pada Senin pagi. Sebelum pulang, mahasiswa yang baik hati tadi memberikan Safiyya dua stiker dan sebuah sarung tangan khas dokter gigi.

Hari ketiga, kami kembali ke klinik kampus. Dokter belum datang, dan kami juga belum bikin janji untuk bertemu. Resepsionis memesankan jadwal konsultasi pukul 14.20, dan menyarankan menemui suster yang sedang bertugas sebelum nanti konsultasi dengan pak dokter. Hasil uji sampel urin di klinik sudah keluar, dan Safiyya positif mengalami infeksi saluran kandung kemih.

 

“Snow white”

Siang ini dengerin radio musik klasik di HP. Wawancara dengan penyanyi opera yang bercerita tentang kisah dongeng Snow White (Putri Salju). Dalam versi Disney, dongeng itu dikisahkan dengan sosok seorang ibu tiri yang kejam, seorang ratu yang cemburu dengan perempuan yang lebih muda dan lebih cantik darinya.

Tapi ternyata dongeng itu telah dipoles demi menghindari kesan kejam yang sebenarnya. Di dongeng yang belum dipoles, justru si ibu kandung Snow White yang memerintahkan pembunuhan itu. Ketika dibilang kalah cantik dengan seseorang, meskipun perempuan itu adalah anaknya sendiri, si ratu menjadi gelap mata. Ketika kecantikan telah menjadi takaran kekuatan seorang perempuan, maka menjadi keriput dan peot adalah mimpi terburuk!

Si narasumber membahas bagaimana dongeng itu masih sangat relevan dengan kondisi masyarakat hari ini. Perempuan demikian takut menjadi tua, kehilangan kesegaran kulit khas perawan, dan mengusamnya rambut sebelum memutih menjadi uban.

Ketika masuk usia 40, perempuan banyak berlomba mencari solusi agar tidak tampak setua umurnya. Beli krim2 “ajaib” yang konon bisa menunda kehadiran keriput. Lekas2 suntik botox! Apa yang salah dengan menjadi tua? Kenapa sih kita tidak bisa menerima hadirnya uban di kepala kita. Munculnya kerutan-kerutan di ekor mata kita, sebagaimana kita bisa “legowo” ketika hidung, kening, dan pipi dihinggapi jerawat saat puber di masa remaja?

Kenapa coba?