Rumah susun

Terduduklah saya di salah satu halte di Bentley, menunggu bis yang jadwalnya tertulis di papan bakal lewat jam 9.35. Bis yang terakhir lewat adalah nomor 34, dan itu pukul 9.20. Saya harus ke Crawley pagi ini, sudah ada janji dengan dokter di klinik untuk tes papsmear.

Tak lama berselang, seorang ibu datang. Ia berbaju serba hitam, dan ramah menyapa “Hello”. Saya pun membalas, tak ingin ketinggalan! Saya bilang “Hello” ke perempuan yang terkaan saya sudah mencapai usia 60 tahunan.

Lalu acara menunggu angkot (berupa bis yang ukurannya mirip bis luar kota di Indonesia, berbahan bakar gas, dan lengkap dengan penghangat serta pendingin ruangan tergantung musim) saya buka dengan memulai percakapan bersama si ibu.

“Gedung ini, rasanya sepi. Apakah tidak banyak yang tinggal di sana?” tanya saya sembari menatap dan menunjuk ke sepasang gedung tinggi yang sangat mirip dengan rumah susun ala Indonesia. Gedung yang beberapa kali menjadi bahan obrolan pendek saya dengan suami bila sedang melintasinya.

“Oh, dulu banyak. Sekarang semua warga di gedung bagian depan pindah ke gedung belakang. Banyak yang rusak. Pipa-pipa bocor. Tidak jelas kenapa sampai empat tahun tidak jelas pengerjaannya,” bahas perempuan yang mengaku sudah 7 tahun tinggal di rumah susun itu.

Jadi gedung itu ada sepasang, masing-masing setinggi 9 lantai dan tiap lantainya ada 10 unit dengan 2 kamar tidur. Total unit adalah 180, tapi berhubung kerusakan aneka rupa di gedung paling depan, tinggal sedikit saja yang bertahan dan pindah ke gedung belakang. Berbagai plang pengumuman bahwa kawasan Bentley akan “diremajakan”, tapi paradoksnya hingga empat tahun kerusakan di rumah susun masih saja dibiarkan.

 

p_20161029_092812_p.jpg
Rumah susun Bentley

 

“Padahal gedung ini adalah ‘heritage’, tidak boleh dirobohkan atas alasan warisan kekayaan budaya kota,” ujar lawan bicara saya yang memilih berdiri saat menunggu bis.

Dulu, masih kata si ibu, di kompleks ini ada pusat penitipan anak segala. Ada apotik, minimarket, dan gereja. Perlahan akibat beraneka kerusakan yang tidak diperbaiki, penghuni pun satu per satu angkat kaki. Perumahan rakyat yang menawarkan harga sewa unit yang lebih terjangkau (tentunya), tampak terbengkalai dari luar, dan ternyata hal itu diamini oleh penghuninya sendiri pagi ini.

Saya selalu melihat perumahan rakyat di Bentley–kawasan yang banyak dihuni oleh orang keturunan Aborigin, pendatang (mahasiswa), dan orang dengan tampilan ras non-Kaukasian–memang sangat bagus untuk mensubsidi mereka yang tidak mampu. Tapi kalau kondisinya rusak, ditambah lagi anak2 muda yang suka mabuk dan berisik di malam hari, mungkin kenyamanan adalah harga yang memang harus dibayar oleh mereka yang bertahan.

“Kalau malam, rumah kamu sudah kamu kunci, memang semua aman. Tapi kalau keluar dari unit kamu…duh gak aman!” ujar ibu bergincu tipis itu sembari menyedakapkan tangan dan menggelengkan kepala. Kondisi sepi di pagi hari bisa “menipu”, sebab “anak-anak nakalnya sedang tidur atau keluar”, kata si ibu lagi.

Saya tertegun menatap ekspresinya itu.

Dan tak lama setelah itu, bis yang ditunggu pun datang. Obrolan itu berakhir. Kawan ngobrol saya duduk di kursi paling depan, dan saya memilih duduk agak di tengah. Kembali ke laptop!

 

=====

(Crawley adalah kawasan kampus University of Western Australia/UWA, tempat saya sekolah. Sementara Bentley adalah suburb, macam kecamatan kalau di Indonesia, kampus Curtin University)

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Author: Ella

Penulis saat ini tinggal di Perth, Australia Barat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s