“Kelinci percobaan”

Kemarin adalah hari yang menyenangkan. Mengantar anak ke sekolah, lanjut ke kampus untuk menjadi “kelinci percobaan”. Ih, jadi bahan penelitian kok seneng?! Iya seneng, karena saya jadi belajar banyak hal dari peneliti di luar bidang saya.

Penelitian eksperimental di laboratorium yang melibatkan manusia sebagai objek pengamatan memang sangat menarik, karena manusia tidak ada yang identik dalam pengambilan keputusan. Saya sangat yakin metode ini bisa dipakai untuk tema apa saja, termasuk riset saya di masa yang akan datang, jadi… tidak rugi kalau dari sekarang belajar bagaimana cara menggunakan metode ini.

Nah! Duduklah kami 12 “kelinci percobaan” di sebuah ruangan di lantai tiga gedung selatan fakultas psikologi. Masing-masing menghadap ke layar komputer merek LG yang berukuran lebih dari 17 inci (taksiran saya sih bisa mencapai 22 inci, entah!). Lalu profesor dari bidang ilmu pertanian mulai membahas aturan main buat kami.

“Kalian akan berjudi,” ujar pria berkaca mata dan berbaju motif kotak-kotak (bukan seragam pasukan pendukung JKW) itu.

Wadoh! Judi? Gimana mainnya? Sambar pikiran saya sepersekian detik dari ucapan si profesor.

Anggap saja kalian adalah masing-masing pemilik perusahaan dan ingin mengajukan tawaran harga kepada lembaga pemerintah yang sedang membuka lelang untuk pekerjaan tertentu. Ingat bahwa lembaga pemerintah ini punya anggaran yang ada batasnya dan mereka akan memilih berdasarkan tawaran harga jasa yang termurah terus ke tawaran berikutnya sampai pagu habis.

Lalu.. pertanyaannya, bagaimana kalian akan menyusun harga? Apakah kalian mengejar keuntungan sebesar-besarnya? Atau barangkali kalian memilih untuk bermain “aman”, dan menawarkan harga termurah? Kalian juga boleh saja tidak mengajukan bid sama sekali, sehingga modal kalian di perusahaan imajiner kalian tetap utuh, tidak dipotong biaya administrasi mengajukan tender.

Kami semua bermain 12 set, enam set pertama semua pemain memiliki harga produksi yang sama, sementara di enam set yang kedua komputer mengacak harga dasar produksi masing-masing perusahaan kami secara berbeda. Ini sangat mencerminkan praktik di lapangan, di mana kadang perusahaan memiliki harga dasar untuk menghasilkan sebuah jasa berbeda dengan harga perusahaan lain. Kembali ditanya, kalian akan kasih penawaran yang seperti apa? Apakah akan menjadi risk taker atau senang dengan hasil yang moderat asal “dapur perusahaan ngebul”?

Di set pertama, saya menang 5 tender dari total 6 set. Sementara di gim kedua, saya cuma menang 3, sehingga total kemenangan saya di “judi” itu adalah 8.

Pak profesor menjelaskan bahwa keuntungan perusahaan imajiner kalian itu akan dikalibrasi menjadi uang beneran (dolar Australia) dan ditambah dengan hasil kalibrasi modal awal perusahaan.

“Besok selepas jam 2 siang, kalian bisa ambil upah kalian berpartisipasi dalam riset ini. Dan bila berminat mengetahui lebih lanjut soal riset ini, kirimkan saya email! Nanti saya balas,” tambahnya.

Eh .. ada upahnya! Asik… anak mahasiswa mah di mana-mana pasti girang nih beginian. Colek tetangga sebelah kursi, ternyata anak Indonesia juga! Dia sudah ikutan 3 kali sesi eksperimen berbeda, dan obrolan kami pun mengalir jauh sampai Tavern, ke musholla, dan berakhir di depan Hackett cafe!

Oh … hari yang indah…. dapet pengalaman, dapet kenalan baru, dan tentu saja dapet bahan cerita buat blog! 🙂

 

Dan bagaimana harimu kemarin?

Advertisements

Author: Ella

Penulis saat ini tinggal di Perth, Australia Barat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s