“Halo effect”

Saya sebut mereka “noise”. Kalau dalam ilmu jurnalistik televisi dan radio, “noise” adalah musuh yang harus diminimalisir. Bukan karena semuanya buruk, tapi sebisa mungkin kitalah yang pegang kendali terhadap segala “noise” di sekitar hal-hal yang paling penting.

“Noise” adalah hal yang berlalu-lalang, merupakan tambahan suara atau gambar di belakang suara inti (wawancara/suasana). Kalau memegang “boom” untuk merekam suara, sebisa mungkin arah “boom” (yang bentuknya berupa mic besar seperti dibawah ini) mengarah segaris dari atas ke bawah ke sumber suara narasumber. Begitu juga dengan video, noise yang biasanya berupa orang iseng lalu-lalang di belakang narasumber, sebisa mungkin tidak terlalu banyak dan berisik agar konteks gambar tetap bisa dijaga.

 

boom
Sumber: http://www.mediacollege.com

 

Nah, noise dalam kehidupan sehari-hari kita ada banyak sekali jenisnya. Terkadang justru kita lupa banyak noise adalah hal yang tersier, bukan yang utama, bahkan bukan yang sekunder. Tapi seringnya justru noise menguasai kebanyakan waktu kita, dan ini adalah pemecah fokus bekerja, berumahtangga, dan belajar.

Dua hari yang lalu saya terlibat percakapan serius dengan suami saya. Saya sedikit mengkritik kebiasan barunya yang mulai aktif dan “gesit” berdiskusi di grup WhatsApp (WA). Ada dua grup yang dia ikuti secara intens dan keduanya ketika saya baca, kesannya sangat sarat dengan nuansa “halo effect”. Kenapa saya sebut begitu? Berikut saya salinkan di sini apa makna dari “halo effect”.

The existence of the so-called halo effect has long been recognised. It is the phenomenon whereby we assume that because people are good at doing A they will be good at doing B, C and D (or the reverse—because they are bad at doing A they will be bad at doing B, C and D). The phrase was first coined by Edward Thorndike, a psychologist who used it in a study published in 1920 to describe the way that commanding officers rated their soldiers. He found that officers usually judged their men as being either good right across the board or bad. There was little mixing of traits; few people were said to be good in one respect but bad in another.

In his prize-winning book “The Halo Effect”, published in 2007, Phil Rosenzweig, an academic at IMD, a business school near Lausanne in Switzerland, argued:

Much of our thinking about company performance is shaped by the halo effect … when a company is growing and profitable, we tend to infer that it has a brilliant strategy, a visionary CEO, motivated people, and a vibrant culture. When performance falters, we’re quick to say the strategy was misguided, the CEO became arrogant, the people were complacent, and the culture stodgy … At first, all of this may seem like harmless journalistic hyperbole, but when researchers gather data that are contaminated by the halo effect – including not only press accounts but interviews with managers – the findings are suspect. That is the principal flaw in the research of Jim Collins’s “Good to Great”, Collins and Porras’s “Built to Last”, and many other studies going back to Peters and Waterman’s “In Search of Excellence”. They claim to have identified the drivers of company performance, but they have mainly shown the way that high performers are described.

Sederhananya, dalam riset apapun terutama dalam praktik jurnalistik, jangan pernah terjebak dalam “halo effect”; memberikan corong untuk seseorang yang sebenarnya tidak punya kompetensi untuk menjawab pertanyaan kita. Misalnya ada seseorang yang riset S3-nya tentang pemanfaatan lahan gambut di Indonesia, lalu akibat “silau” dengan kepakaran si doktor ini (ditambah lagi sindrom “jas putih” yang identik dengan kesan profesionalisme dan keahlian di bidang akademik), jangan dong kita bertanya ke dia soal kebijakan pemerintah untuk ekspor dan impor, apalagi soal pilkada!

Konyol? Ya mungkin saat membaca tulisan ini orang akan berpikir, lah jelas kan gak nyambung?! Tapi pada kenyataannya justru kita adalah penganut paham halo effect yang sangat akut dan kita sangat permisif terhadap praktik-praktik ini.

Adalah lucu bila kita membaca tentang komentar di grup WA seseorang yang tidak ada keahlian dan latar belakang riset tentang X, tapi kemudian dia muncul seakan yang seumur hidupnya mengurusi hal itu! Come on! Dan buruknya lagi, sangat patut dicurigai diskusi apapun yang berawal dari halo effect alias ke-sotoy-an hanya akan berakhir dengan debat kusir, since nobody is sincerely aim to listen. Mereka berketak-ketik dengan jari jempol hingga berapa halaman A4, tapi mungkin produktifitas yang sama tidak bisa berlaku untuk risetnya sendiri. Alangkah ajaib dan sia-sianya, bukan?

Percakapan di dunia maya, sekali lagi, adalah noise. Itu pula sebabnya saya menghindari terlalu “bawel” di grup WA manapun yang sudah mulai banyak sotoy-nya, dan lebih menenggelamkan diri dalam proyek-proyek menulis saya, baik untuk ditujukan sebagai bagian dari pencapaian riset S3 saya, atau tulisan lepas untuk buku-buku yang akan diterbitkan lewat nulisbuku.com.

I need to keep the noise controlled 🙂

 

Advertisements

Author: Ella

Penulis saat ini tinggal di Perth, Australia Barat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s