Pulang sekolah

Kemarin Safiyya punya request khusus kepada saya yang sedang mempersiapkan tas untuk rapat di kampus. 

“Nanti mama yah yang jemput aku?” katanya setengah bertanya setengah menyuruh.

Saya pun menyanggupi permintaannya itu karena papanya akan bekerja lembur dan baru bisa pulang jam 5 sore. Saya akan jemput Safiyya jam 3 kurang 10 menit di sekolahnya. Harus dipertimbangkan durasi tempuh Crawley-Bentley 50 menit, dan mungkin saya akan menunggu beberapa menit hingga bis datang.

Setelah beres rapat 30 menit, jumpa supervisor di koridor dan ngobrol sambil nyebrang jalan tanpa berhenti (bayangin adegan serial dokter-dokter lg repot di ruang UGD)! Saya lanjutan perjalanan bergegaa menuju halte bis 950 di seberang kampus, sebelum duduk manis di bis 170 yang akan berhenti tak jauh dari sekolah Bentley.

Cuaca siang yang hangat di luar bis tidak dirasa di dalam karena pengatur suhu ruangan membuat penumpang merasa lebih sejuk. Saya membuat slides struktur paper saya di aplikasi WPS untuk PowerPoint, ini adalah trik memetakan ide sekaligus menyusunnya ke dalam format paper akademik. Ada dua ide yang mau disusun ke dalam bentuk paper, semoga sebelum ganti tahun sudah bisa beres drafting Aamien.

Dan bis pun berhenti di Wyong Street. Ini adalah halte terakhir, saya harus turun dan melanjutkan perjalanan ke sekolah dengan berjalan kaki. Kelas Safiyya belum bubar ketika saya datang. Sekitar lima menit saya terduduk di kursi berbahan alumunium di depan kelas Kindy (TK).

Di sekolah, ibu guru memanggil anak berdasarkan kehadiran orang tuanya. Kalau sudah tampak orang tua, nama si anak pun dipanggil dan anak berhamburan memeluk atau memberikan hasil karyanya hari itu. Dan hari Selasa kemarin mereka di kelas membuat kue. Safiyya tak sabaran ingin mencicipi hasil kreasinya, dan dia langsung minta duduk di depan kelas untuk bisa menyantap kue berlapis gula putih dan hiasan kelap-kelip warna perak, putih, merah muda, dan hijau.

Safiyya lanjut minta main di halaman sekolah, perosotan sangat menggodanya! Saya menunggu sambil merayu agar kita  bisa lanjut ke perpustakaan.

Tawaran saya pun bersambut. Di perpustakaan kami berdua bermain 3 jenis permainan, semuanya sukses membuat kami tertawa cekikikan. Mulai dari yang ini:

Lalu catur ini:

Dan puzzle bajak laut:

Panas = tempe

 

Bentley membara. Kemarin benar-benar panas sekali di dalam rumah karena suhu di luar ruangan mencapai 37 derajat Celcius. Akhirnya musim dingin selesai dan diganti dengan musim panas, ini adalah waktu yang paling pas untuk membuat tempe. Ya, tempe! Karena panganan khas Indonesia ini memang membutuhkan suhu yang hangat untuk dibuat. Beberapa kali pernah sih coba menggunakan teknik panas buatan (pakai selimut atau pemanas ruangan), tapi saya selalu kurang beruntung.

Sekali lagi… musim panas adalah musim paling tepat untuk membuat tempe. Ibu saya yang sedang senang sekali berkreasi membuat tempe pun sudah berkali-kali membuatnya.

Resepnya sederhana. Dimulai dari merendam kacang kedelai dengan air selama semalaman, lalu direbus untuk merontokkan kulit kacang, terkadang direbus sampai dua kali bila memang diperlukan. Terus dikasih ragi, lalu dimasukkan ke dalam plastik yang kemudian permukaannya ditusuk-tusuk dengan jarum pentul.

Kami di rumah menggunakan ragi aseli Indonesia yang dibeli di toko Asia. Sedikit saja pemakaiannya, lumayan canggih menghasilkan tempe yang Indonesia banget!

 

p_20161114_110524.jpg

Lalu tempe dijemur di dekat pintu agar mendapat hawa panas dari luar rumah. Terkadang ibu saya juga menempatkannya di bawah perosotan anak-anak yang masih ada bayangan sehingga tidak terpapar sinar matahari secara langsung.

Kemarin sempat dua hari tempe tidak berkembang. Nyaris putus asa, tapi Mami membongkarnya. Merebus ulang, dan dikasih ragi lagi. Alhamdulillah masih rejeki kami, tempe hasil rekonstruksi bisa jadi cantik seperti foto di bawah ini:

p_20161114_081423.jpg

Jamurnya tumbuh sangat tebal di antara bulir-bulir kacang kedelai. Thinking of tempe mendoan, tempe campur labu siyam ditumis pedas, tempe goreng kering plus ikan teri, super yum!! 🙂

“Halo effect”

Saya sebut mereka “noise”. Kalau dalam ilmu jurnalistik televisi dan radio, “noise” adalah musuh yang harus diminimalisir. Bukan karena semuanya buruk, tapi sebisa mungkin kitalah yang pegang kendali terhadap segala “noise” di sekitar hal-hal yang paling penting.

“Noise” adalah hal yang berlalu-lalang, merupakan tambahan suara atau gambar di belakang suara inti (wawancara/suasana). Kalau memegang “boom” untuk merekam suara, sebisa mungkin arah “boom” (yang bentuknya berupa mic besar seperti dibawah ini) mengarah segaris dari atas ke bawah ke sumber suara narasumber. Begitu juga dengan video, noise yang biasanya berupa orang iseng lalu-lalang di belakang narasumber, sebisa mungkin tidak terlalu banyak dan berisik agar konteks gambar tetap bisa dijaga.

 

boom
Sumber: http://www.mediacollege.com

 

Nah, noise dalam kehidupan sehari-hari kita ada banyak sekali jenisnya. Terkadang justru kita lupa banyak noise adalah hal yang tersier, bukan yang utama, bahkan bukan yang sekunder. Tapi seringnya justru noise menguasai kebanyakan waktu kita, dan ini adalah pemecah fokus bekerja, berumahtangga, dan belajar.

Dua hari yang lalu saya terlibat percakapan serius dengan suami saya. Saya sedikit mengkritik kebiasan barunya yang mulai aktif dan “gesit” berdiskusi di grup WhatsApp (WA). Ada dua grup yang dia ikuti secara intens dan keduanya ketika saya baca, kesannya sangat sarat dengan nuansa “halo effect”. Kenapa saya sebut begitu? Berikut saya salinkan di sini apa makna dari “halo effect”.

The existence of the so-called halo effect has long been recognised. It is the phenomenon whereby we assume that because people are good at doing A they will be good at doing B, C and D (or the reverse—because they are bad at doing A they will be bad at doing B, C and D). The phrase was first coined by Edward Thorndike, a psychologist who used it in a study published in 1920 to describe the way that commanding officers rated their soldiers. He found that officers usually judged their men as being either good right across the board or bad. There was little mixing of traits; few people were said to be good in one respect but bad in another.

In his prize-winning book “The Halo Effect”, published in 2007, Phil Rosenzweig, an academic at IMD, a business school near Lausanne in Switzerland, argued:

Much of our thinking about company performance is shaped by the halo effect … when a company is growing and profitable, we tend to infer that it has a brilliant strategy, a visionary CEO, motivated people, and a vibrant culture. When performance falters, we’re quick to say the strategy was misguided, the CEO became arrogant, the people were complacent, and the culture stodgy … At first, all of this may seem like harmless journalistic hyperbole, but when researchers gather data that are contaminated by the halo effect – including not only press accounts but interviews with managers – the findings are suspect. That is the principal flaw in the research of Jim Collins’s “Good to Great”, Collins and Porras’s “Built to Last”, and many other studies going back to Peters and Waterman’s “In Search of Excellence”. They claim to have identified the drivers of company performance, but they have mainly shown the way that high performers are described.

Sederhananya, dalam riset apapun terutama dalam praktik jurnalistik, jangan pernah terjebak dalam “halo effect”; memberikan corong untuk seseorang yang sebenarnya tidak punya kompetensi untuk menjawab pertanyaan kita. Misalnya ada seseorang yang riset S3-nya tentang pemanfaatan lahan gambut di Indonesia, lalu akibat “silau” dengan kepakaran si doktor ini (ditambah lagi sindrom “jas putih” yang identik dengan kesan profesionalisme dan keahlian di bidang akademik), jangan dong kita bertanya ke dia soal kebijakan pemerintah untuk ekspor dan impor, apalagi soal pilkada!

Konyol? Ya mungkin saat membaca tulisan ini orang akan berpikir, lah jelas kan gak nyambung?! Tapi pada kenyataannya justru kita adalah penganut paham halo effect yang sangat akut dan kita sangat permisif terhadap praktik-praktik ini.

Adalah lucu bila kita membaca tentang komentar di grup WA seseorang yang tidak ada keahlian dan latar belakang riset tentang X, tapi kemudian dia muncul seakan yang seumur hidupnya mengurusi hal itu! Come on! Dan buruknya lagi, sangat patut dicurigai diskusi apapun yang berawal dari halo effect alias ke-sotoy-an hanya akan berakhir dengan debat kusir, since nobody is sincerely aim to listen. Mereka berketak-ketik dengan jari jempol hingga berapa halaman A4, tapi mungkin produktifitas yang sama tidak bisa berlaku untuk risetnya sendiri. Alangkah ajaib dan sia-sianya, bukan?

Percakapan di dunia maya, sekali lagi, adalah noise. Itu pula sebabnya saya menghindari terlalu “bawel” di grup WA manapun yang sudah mulai banyak sotoy-nya, dan lebih menenggelamkan diri dalam proyek-proyek menulis saya, baik untuk ditujukan sebagai bagian dari pencapaian riset S3 saya, atau tulisan lepas untuk buku-buku yang akan diterbitkan lewat nulisbuku.com.

I need to keep the noise controlled 🙂