Hidup tanpa HP

 

Terdengar mustahil? Terkesan luar biasa tidak lazim? Ya, barangkali sebagian besar di antara kita memang akan menilai hidup tanpa HP adalah sesuatu yang jauh dari kata normal. Tapi “ketidaknormalan” orang-orang zaman sekarang ini justru saya nikmati selama kurang lebih satu pekan terakhir.

Berawal dari Rabu malam di mana saya tertidur di kasur di depan televisi. Dan putri sulung saya datang menghampiri, bergabung dengan saya di kasur yang sama. Malam itu–sebagaimana beberapa malam sebelumnya–Safiyya dilatih untuk tidak memakai popok alias diapers ketika tidur malam. Ide Papanya ini diterapkan tanpa perhitungan matang soal lokasi di mana taruh HP! Ya.. HP saya singkat cerita diompoli oleh Safiyya. Cerita ini mungkin tergolong jarang terjadi, tapi faktanya memang demikianlah adanya. Basah total, dan mungkin sudah tidak bisa diselamatkan.

Jadi, mulai Kamis pagi, tidak pegang HP. Saya tidak berkontak dengan teman-teman yang sering saya hubungi lewat WhatsApp. Tidak punya akses internet banking lewat HP. Tidak membaca dokumen berupa artikel jurnal di HP, dan tidak bisa catat perkembangan keseharian saya di aplikasi yang ada di HP. Intinya itu.

Seorang kawan akhirnya pagi ini menghubungi nomer HP suami saya. Mereka bercakap-cakap lewat WhatsApp, menanyakan apakah kami baik-baik saja di Perth, sebab saya tidak merespon pesannya sama sekali di WhatsApp.

“Oh, HP Iwe lagi rusak,” kata suami saya membalas pertanyaan sahabat saya yang mengaku was-was itu.

Dan saya membalas langsung kepada sang sahabat dengan meminjam HP suami. Saya ceritakan perkembangan terkahir saya di Perth, dan dia sudah tidak perlu was-was lagi, sebab saya dan keluarga semua baik-baik saja.

Ada juga seorang kawan baru yang datang untuk studi di UWA heran karena saya tidak membalas pesannya di WhatsApp, padahal biasanya saya membalas dengan cepat setiap kali dia ada perlu untuk berdiskusi tentang persiapan hijrah ke Perth. Kawan saya yang lain di sini menjelaskan situasi HP saya, dan si fulan itu menjadi maklum. Ah… penyambung lidah, perlu juga rasanya diapresiasi!

Hidup tanpa HP. Bukan hidup yang mustahil. Buktinya saya masih eksis hingga hari ini, bisa berkomunikasi lewat email dan merespon pesan yang benar-benar penting via HP suami. Jadi, mungkin patutnya sedikit diralat, bukan hidup tanpa HP sama sekali, cuma sedang “tidak punya HP”, LOL!

Kelanjutannya adalah… di hari Senin, sebagaimana saya sudah mengikat janji dengan supervisor dan penasehat akademik saya di kampus, adalah hari saya bertemu dengan mereka dengan alokasi masing-masing satu jam. Saya jumpa dengan penasehat akademik pada pukul 11 pagi, dan dia mengajarkan saya tentang penggunaan NVivo untuk menganalisa hasil wawancara dengan narasumber saya di bulan Februari tahun lalu. Ya, tahun lalu, terasa demikian cepat waktu terlewatkan ya? Sekarang saya baru mulai menyusun analisa untuk paper saya yang ketiga.

Penyusunan analisa metode kualitatif bukan hal yang mudah, sebab saya harus berkali-kali bolak-balik mencermati kesamaan dan ekspresi narasumber terkait dengan topik riset. Dan NVivo tidak gratis. Fasilitas gratis ada di komputer kampus, tapi lab komputer di gedung yang biasa saya pakai sedang direnovasi total, entah kapan saya bisa bekerja lagi di sana. Sementara ada komputer dengan NVivo juga terpasang di perpustakaan Reid, tapi saya belum periksa sebab saya masih berharap bisa mengandalkan versi trial gratis dari si perusahaan pembuat software.  Masa berlaku coba gratis adalah 14 hari, dan bila mau membeli, siap-siap merogoh kocek sekitar 150 dolar Australia atau Rp1,5 juta.

Saya lanjutkan hari itu dengan menghadap supervisor. Dia pakai kaos kaki belang kanan dan kiri. Dan salah satu motif kaos kakinya hari itu adalah muppet.  Harusnya kaos kaki kanan dan kiri dua2nya muppet  tapi tidak boleh muppet yang sama. Aturan rumah yang agak aneh!

Kami duduk di bawah pohon biasa tempat mencari ide dan membaca singkat artikel yang saya sodorkan untuk dia cermati, dan kasih komentar. Pada pertemuan ini dia setuju ide untuk menyebarkan survei terhadap 100 responden di Indonesia, dengan biaya diambil dari dana riset saya yang masih “tersisa” 4.000 dolar. Dia sempat tanya, apa rencana saya soal dana riset, dan saya jawab “buat konferensi”.

“Lebih baik uang dipakai untuk ambil data, karena tanpa data, apa yang bisa kamu presentasikan? Dan conference jelas tidak akan memberikan kamu data!” kira-kira begitu saran yang dia berikan.

Okey, saya akan pakai untuk bayar tenaga survei di Jakarta, sekitar 9 juta untuk 100 responden. Dan menyisakan dana untuk bisa ikutan konferens di Brisbane tahun depan.

Selepas itu, saya pergi di perpustakaan untuk meminjam beberapa buku tentang metode penelitian ilmu politik, khususnya lagi metode kualitatif. Satu dari tiga buku yang saya pinjam membahas dua perbedaan budaya kualitatif dan kuantitatif. “A tale of two cultures”, itu judulnya. Saya berharap dari membaca buku itu, saya akan bisa lebih mendalami metode penelitian buat riset saya.

Balik lagi ke masalah HP yang basah dan sepertinya sudah sulit untuk diperbaiki itu …. kayaknya enak-enak aja nih balik ke zaman berkomunikasi via email, tidak ada medsos, tidak ada WhatsApp. Menunggu balasan email dari sahabat yang terpisah jarak, sepertinya ide yang lumayan OK juga kan? 🙂

 

Advertisements

Author: Ella

Penulis saat ini tinggal di Perth, Australia Barat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s