God’s handsome helper

It took me two seconds to start feeling how truly lucky I am. And it all happens everytime I tell him my troubles and doubts. He is always there. To calmly listen until I finish my long dreadful discourse. He will wait, and wait. With his careful ears and super sharp mind, he can twist my horrible mood from feeling like a jerk to a point like he said that ‘I have my rights to stand on what I wholeheartedly believe in.’ And let me tell you that very often happens, his single sentence works like magic. He rescued me from a malaise, only reassures me that he is my God’s handsome helper. Helps me to regain my strength when I feel betrayed, when cold and cruel rejections coming insistently. And being the one who can share my worries without letting them become our master. When he is around, I can always be myself. I can look like a princess and he spoilt me. On other days, I can be so misrable yet he said that “I only can love you more”.

 

 

 

Advertisements

Radio Lollipop

Hari Rabu ini sedikit berbeda dengan hari2 biasanya. Buat penikmat moda transportasi umum di Perth, seperti saya, pasti mendapati hal yg berbeda hari ini.

Apakah gerangan?

Ternyata semua supir bis, pemandu kereta, dan petugas pencatat di terminal bis, mengenakan baju bebas non seragam. Disiapkan juga kotak kecil di sisi supir bila ada penumpang yg ingin berdonasi uang receh (koin/kertas).

Donasinya buat apa?

Semua sumbangan diserahkan kepada Radio Lollipop, sebuah gerakan internasional berupa siaran radio yang disiarkan dari Princess Margaret Hospital (PMH), Perth, di mana semua musik yg diputar adalah pilihan anak2 yg sedang menjadi pasien di berbagai rumah sakit di Perth.

Anak2 memang tidak bisa menolak pahitnya obat2an yg harus mereka minum, tp setidaknya mereka bisa sedikit tersenyum mendengarkan lagu kesayangannya diputarkan khusus untuknya di radio. Mereka bahkan bisa mendengarkan rekaman suara mereka mengudara lewat radio.

Program sehari tanpa seragam demi menggalang dana untuk menerbitkan senyum anak2 yg sedang sakit di RS sdh dilaksanakan oleh para awak transportasi umum di Perth (perusahannya disebut Transperth) sejak 1995. Dan konon pada tahun lalu, terkumpul dalam sehari uang sebanyak 90.000 dolar (setara Rp900 juta) dr program unik ini.

Apa yg bisa kita pelajari dari Radio Lollipop Uniform Free Day?

Bahwa berderma bisa dilakukan secara menyenangkan. Besar dan kecil kontribusi berbagai pihak adalah besar pengaruhnya buat mewujudkan sebuah asa, yaitu membuat masa2 sulit sebagian di antara kita menjadi sedikit berkurang. Dan kepedulian, selalu dimulai dari hal yang kecil dan dari diri sendiriūüėä
(baca lebih lanjut soal program ini di http://www.radiolollipop.org)

 

Radio Lollipop

Tires time

ban

Our Saturday morning was all about getting new tires for our lovely car. It follows a mechanic’s note made on the latest routine inspection, with a strong notice that we need to replace all four immediately.

Surely, we don’t want anything bad to happen and decided to do the shopping on this weekend. Well, the issue with shopping with me is that I love looking around, obtaining different quotes from various suppliers. My habit often putting my husband’s patience to the test!

Our first stop was Kmart tires and service center at Cannington. A team member, a male with lots of tattoos on his both right and left hands, came out of the office and suggested the price getting 4 new tires plus alignment service is $375. Uniquely, he never showed us his smile nor giving any enthusiastic gesture. And while I was discussing with hubby the amount of money required to do the service there, a female customer who drives a Subaru approached him and requested a service for her car. The respond was more like a gobsmacking to me, as after a couple of sentences the male worker was saying “f**k it”. I caught the words he was saying right after the lady raised her concern over the time required to get the service done. It was said it will take up to 1 hour, but the customer said she only have 30 minutes maximum.

To my personal standards, I simply cannot afford an idea to do business with rude people, let alone in the position where I have alternative options available. I said this to my husband and decided that we will find another place to replace tires. Thus, we went to Tyrepower, which is located not too far from the first center. We met Dan, the store manager, who served our queries a lot more friendly. He gave the same quote, $375, but his tone was much more positive and courteous. But, as I said earlier, I am not yet taking any verdict without checking another store. And we went to Beaurepaires at East Victoria Park–be mindful that all of these shops are located on Albany Hwy.

 

At our third stop, the guy there gave us a quote of $459 but the tires are Goodyear brand as that is the only brand that they can offer. I know… big brands are often costly. And at this time, we prefer to go with the cheaper ones. So the verdict is set to go with Tyre Power, and it came as a surprise to us that we got a 10 dollar discount for replacing two front tires plus alignment included. We need to visit the store again sometime next week to change the rear tires once they are made available.

Jadi dosen (lagi)

Riangnya hati ini teramat tak terbendung, sampai-sampai ingin membahasnya lewat tulisan yang agak panjang. Setelah meminta kesempatan menjadi tutor (asisten dosen utama–yang biasanya seorang profesor) kepada para supervisor di kampus, dan tidak mendapat kabar gembira apapun, akhirnya tawaran itu disodorkan di salah satu sesi konsultasi rutin saya dengan supervisor di bulan Januari.

“Senin kita rapat, sekalian bahas rencana kamu jadi tutor,” tulis supervisor utama saya di pesan WA.

Agak terkejut karena ternyata dia benar-benar akan memberikan saya kesempatan ini. Menjadi tutor di kelas yang dia ampu. Memang, beberapa kali saya mengekspresikan harapan saya kepada supervisor, bahwa saya kangen ngajar. Kangen menjadi dosen, seperti yang saya telah tekuni di Indonesia. Singkat cerita, permintaan saya akhirnya mendapat sambutan hangat!

Mulai tahun ini, perekrutan tutor di fakultas Arts dilakukan secara terbuka, transparan. Para tutor melamar ke koordinator unit, dan harus menyiapkan CV. Setiap tutor juga diberikan pelatihan tentang mengajar agar mendapat arahan yang sama. Dan saya berutung berada di batch perdana itu!

Hari ini adalah hari pelatihan untuk para tutor Faculty of Arts. Ada yang akan mengajar di ilmu politik, musik, humaniora, dan ada juga yang akan mengajar ilmu sejarah. Di ruang Gentilli, lantai 2, berkumpullah sekitar 50 orang tutor (yang baru akan mulai menjadi tutor dan yang sudah pernah menjadi tutor).

Saya adalah satu-satunya yang berkerudung dan berkebangsaan Indonesia di ruang itu. Gak terlalu istimewa sih, tapi memang begitu data demografinya. Ada beberapa orang Korea, ada juga beberapa orang Jepang, orang Australia, dan non Australia tapi berkulit putih (sori bagian ini saya kurang jelas status warga negaranya). Dan kelas dimulai jam 9 pagi, saya sudah datang sekitar 10 menit sebelumnya.

Tutor buat para tutor, atau mungkin lebih tepatnya menyebut dengan istilah mentor atau fasilitator, adalah seorang ibu taksiran saya berusia di atas 50 tahun. Dia bekerja untuk tim tutor di Fakultas Bisnis, dan ini adalah pengalaman pertamanya mengajar tutor Faculty of Arts. 

gambar-pelatihan-tutor-2

Yang diajarkan adalah tips dan beraneka saran untuk mengatasi suasana kelas tutorial. Dia banyak mengulang saran, tapi tetap saja bermanfaat buat saya menyelami gaya mengajar di universitas Australia. Sebagai tutor, saya bertanggung jawab untuk menciptakan kelas-kelas kecil saya hidup dengan diskusi yang interaktif, antusias dengan tema-tema kuliah, dan membahas bahan bacaan yang sudah ditetapkan di kelas. Untuk kelas tutorial anak S1 (disebut undergrad), besaran kelas bisa antara 20-25 mahasiswa. Di kelas masters (S2), kawan saya yang lebih senior dari saya di urusan PhD, sebab dia beres di tahun ke-7 ini, bilang dia pernah mengajar di kelas masters di mana jumlah mahasiswanya hanya 4 di tutorial.

Nah, apa yang membedakan kelas kuliah (lecture) dan tutorial? Dosen utama mengajar di kelas kuliah yang berisi semua mahasiswa yang mengambil kelas/unit itu. Mahasiswa mendengarkan ceramah/lecture di kelas besar itu, dan di pekan yang sama mereka akan terbagi menjadi kelas-kelas tutorial di mana mereka akan difasilitasi oleh tutor untuk mengulas apa yang mereka baca, tugas kuliah, dan diskusi lebih lanjut soal materi yang dibahas di kelas besar. Mahasiswa di kampus tidak wajib hadir di kelas besar, karena mereka bisa menonton rekamannya lewat laman universitas (LMS). Dan mereka pun tahu bahan ajar yang digunakan apa saja, serta mekanisme penghitungan skor untuk nilai akhir mereka di unit itu.

Sepanjang kelas pelatihan menjadi tutor, saya senang karena memori di kepala terlempar jauh ke masa-masa saya belajar di Brisbane. Mengenang dulu waktu kuliah di UQ itu para tutor ngapain aja, gimana cara ngajarnya, dan teringat beberapa nama yang terkenang karena alasan yang berbeda-beda. Tapi yang paling indah justu kenangan saya mengajar di President Uni. Bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa cerdas dan penuh semangat dari beraneka daerah di Indonesia. Mereka datang dari beraneka latar belakang, sebagian pemalu, sebagian lainnya cadas menyampaikan ide secara tertulis. Ada juga yang aktif berorganisasi dan berkompetisi, sebagian lainnya tidak terlalu aktif tapi sopan dan sungkan kepada para dosennya.

Saya rindu semua itu. Berdiskusi tentang ilmu, membahas apa yang kita baca, menceritakan analisa yang kita pegang terkait sesuatu. Mendengarkan pendapat mereka, menyaksikan peraduan ide di antara mereka, dan menonton kreasi mereka menyusun strategi untuk meraup skor tertinggi di kelas. Sejenak saya duduk di Gentilli membayangkan kelas yang penuh dengan bright minds. Ingat kelas mengajar mahasiswa non WNI, bagaimana mereka demikian kesulitan memahami apa yang saya sampaikan di kelas. Belum lagi ujian yang membuat mereka bingung harus mengantisipasi bagian mana dari serial kuliah yang paling penting. Dan ini juga dijelaskan di kelas tadi, bahwa jangan beri semua bobot bahan bacaan dan materi kuliah secara sama rata. Sebutkan bagian mana saja yang paling penting, paling utama, dari semua materi. Give them the signals about which part of the lectures are the most important to comprehend. Do not weight the readings and all lectures equally, as we can not and should not know about everything in life! 

Bila mengumumkan skor kuis atau hasil ujian di kelas, jangan sebutkan skor terkecil. Cukup skor tertinggi dan mediannya. Kalau mereka komplen soal skor, silahkan dibahas secara individual. Dan bila tidak bisa diselesaikan di level itu, silahkan dibahas dengan koordinator unit. Semua ada di buku ini … nambah bahan bacaan nih LOL!

gambar-pelatihan-tutor-1

 

Hidup tanpa HP

 

Terdengar mustahil? Terkesan luar biasa tidak lazim? Ya, barangkali sebagian besar di antara kita memang akan menilai hidup tanpa HP adalah sesuatu yang jauh dari kata normal. Tapi “ketidaknormalan” orang-orang zaman sekarang ini justru saya nikmati selama kurang lebih satu pekan terakhir.

Berawal dari Rabu malam di mana saya tertidur di kasur di depan televisi. Dan putri sulung saya datang menghampiri, bergabung dengan saya di kasur yang sama. Malam itu–sebagaimana beberapa malam sebelumnya–Safiyya dilatih untuk tidak memakai popok alias diapers ketika tidur malam. Ide Papanya ini diterapkan tanpa perhitungan matang soal lokasi di mana taruh HP! Ya.. HP saya singkat cerita diompoli oleh Safiyya. Cerita ini mungkin tergolong jarang terjadi, tapi faktanya memang demikianlah adanya. Basah total, dan mungkin sudah tidak bisa diselamatkan.

Jadi, mulai Kamis pagi, tidak pegang HP. Saya tidak berkontak dengan teman-teman yang sering saya hubungi lewat WhatsApp. Tidak punya akses internet banking lewat HP. Tidak membaca dokumen berupa artikel jurnal di HP, dan tidak bisa catat perkembangan keseharian saya di aplikasi yang ada di HP. Intinya itu.

Seorang kawan akhirnya pagi ini menghubungi nomer HP suami saya. Mereka bercakap-cakap lewat WhatsApp, menanyakan apakah kami baik-baik saja di Perth, sebab saya tidak merespon pesannya sama sekali di WhatsApp.

“Oh, HP Iwe lagi rusak,” kata suami saya membalas pertanyaan sahabat saya yang mengaku was-was itu.

Dan saya membalas langsung kepada sang sahabat dengan meminjam HP suami. Saya ceritakan perkembangan terkahir saya di Perth, dan dia sudah tidak perlu was-was lagi, sebab saya dan keluarga semua baik-baik saja.

Ada juga seorang kawan baru yang datang untuk studi di UWA heran karena saya tidak membalas pesannya di WhatsApp, padahal biasanya saya membalas dengan cepat setiap kali dia ada perlu untuk berdiskusi tentang persiapan hijrah ke Perth. Kawan saya yang lain di sini menjelaskan situasi HP saya, dan si fulan itu menjadi maklum. Ah… penyambung lidah, perlu juga rasanya diapresiasi!

Hidup tanpa HP. Bukan hidup yang mustahil. Buktinya saya masih eksis hingga hari ini, bisa berkomunikasi lewat email dan merespon pesan yang benar-benar penting via HP suami. Jadi, mungkin patutnya sedikit diralat, bukan hidup tanpa HP sama sekali, cuma sedang “tidak punya HP”, LOL!

Kelanjutannya adalah… di hari Senin, sebagaimana saya sudah mengikat janji dengan supervisor dan penasehat akademik saya di kampus, adalah hari saya bertemu dengan mereka dengan alokasi masing-masing satu jam. Saya jumpa dengan penasehat akademik pada pukul 11 pagi, dan dia mengajarkan saya tentang penggunaan NVivo untuk menganalisa hasil wawancara dengan narasumber saya di bulan Februari tahun lalu. Ya, tahun lalu, terasa demikian cepat waktu terlewatkan ya? Sekarang saya baru mulai menyusun analisa untuk paper saya yang ketiga.

Penyusunan analisa metode kualitatif bukan hal yang mudah, sebab saya harus berkali-kali bolak-balik mencermati kesamaan dan ekspresi narasumber terkait dengan topik riset. Dan NVivo tidak gratis. Fasilitas gratis ada di komputer kampus, tapi lab komputer di gedung yang biasa saya pakai sedang direnovasi total, entah kapan saya bisa bekerja lagi di sana. Sementara ada komputer dengan NVivo juga terpasang di perpustakaan Reid, tapi saya belum periksa sebab saya masih berharap bisa mengandalkan versi trial gratis dari si perusahaan pembuat software.  Masa berlaku coba gratis adalah 14 hari, dan bila mau membeli, siap-siap merogoh kocek sekitar 150 dolar Australia atau Rp1,5 juta.

Saya lanjutkan hari itu dengan menghadap supervisor. Dia pakai kaos kaki belang kanan dan kiri. Dan salah satu motif kaos kakinya hari itu adalah muppet.  Harusnya kaos kaki kanan dan kiri dua2nya muppet  tapi tidak boleh muppet yang sama. Aturan rumah yang agak aneh!

Kami duduk di bawah pohon biasa tempat mencari ide dan membaca singkat artikel yang saya sodorkan untuk dia cermati, dan kasih komentar. Pada pertemuan ini dia setuju ide untuk menyebarkan survei terhadap 100 responden di Indonesia, dengan biaya diambil dari dana riset saya yang masih “tersisa” 4.000 dolar. Dia sempat tanya, apa rencana saya soal dana riset, dan saya jawab “buat konferensi”.

“Lebih baik uang dipakai untuk ambil data, karena tanpa data, apa yang bisa kamu presentasikan? Dan¬†conference¬†jelas tidak akan memberikan kamu data!” kira-kira begitu saran yang dia berikan.

Okey, saya akan pakai untuk bayar tenaga survei di Jakarta, sekitar 9 juta untuk 100 responden. Dan menyisakan dana untuk bisa ikutan konferens di Brisbane tahun depan.

Selepas itu, saya pergi di perpustakaan untuk meminjam beberapa buku tentang metode penelitian ilmu politik, khususnya lagi metode kualitatif. Satu dari tiga buku yang saya pinjam membahas dua perbedaan budaya kualitatif dan kuantitatif. “A tale of two cultures”, itu judulnya. Saya berharap dari membaca buku itu, saya akan bisa lebih mendalami metode penelitian buat riset saya.

Balik lagi ke masalah HP yang basah dan sepertinya sudah sulit untuk diperbaiki itu …. kayaknya enak-enak aja nih balik ke zaman berkomunikasi via email, tidak ada medsos, tidak ada WhatsApp. Menunggu balasan email dari sahabat yang terpisah jarak, sepertinya ide yang lumayan OK juga kan? ūüôā

 

Mabuk dan maut

Kemarin siang rumah salah satu kawan saya mendapat kejutan. Seorang bapak tua berkulit putih mengendarai mobil Mercy nya di bawah pengaruh alkohol. Bukan yang pertama, ini justru sudah kali ketiga, menurut istri si bapak tua itu ketika datang ke TKP dan marah-marah (kepada si suami).

Ini bukan hanya mengerikan, tapi juga mencekam buat saya. Sebab saya sering mendapati diri sedang berjalan kaki di pinggir jalan raya, dan ternyata para pengendara di jalanan Perth sangat mungkin berkondisi mabuk.

Khusus cerita kemarin, si pengendara Mercy menabrak papan penanda halte dekat rumah saya. Di halte itu, saya memang sering merasa tidak nyaman karena jaraknya sangat dekat dengan mobil-mobil yang berlalu lalang. Rasanya dekat sekali, terlalu dekat! Dan si mobil itu menabrak papan daftar jadwal kedatangan bus sampai hancur. Ia mungkin kaget, lalu membanting stirnya ke kanan, menyeberang ke jalan sisi berlawanan. Lalu mobil terus melaju hingga akhirnya menabrak tembok pagar yang juga dimanfaatkan sebagai kotak surat rumah kost teman saya. Kejadiannya demikian cepat, kata kawan saya yang saat peristiwa itu terjadi dia sedang mencuci tangan di dapur, dan melihat semua runtutan aksi ugal-ugalan si bapak tua itu.

Lalu berhamburanlah orang-orang sekitar, ibu saya yang sedang di dalam rumah pun mendengar debuman yang sangat keras itu. Padahal jaraknya jauh sekali dari lokasi, rumah kami berada di urutan ketiga dari jalan raya.

Dan mobil derek pun tiba. Demikian pula polisi, dan mobil ambulans. Masih menurut teman saya yang menyaksikan kejadian siang itu, polisi membawa keluar dari mobil yang kini hancur mesinnya itu beberapa botol minuman keras. Si penabrak pun dimintakan meniup tes kadar alkohol.

Ada beberapa hal yang masih “untung” dari aksi si bapak tua pemabuk itu. Beruntung di arah berlawanan tidak ada mobil yang sedang melaju, sehingga tidak terjadi tabrakan hidung ketemu hidung. Beruntung juga tidak ada pejalan kaki di sana, karena nasibnya pasti sangat buruk bila dihajar mobil yang dikendarai orang mabuk! Dan beruntung juga, si bapak itu tidak mati di tempat, berkat sistem balon udara di mobil Mercynya itu masih berfungsi sempurna. Dia cuma berdarah sedikit, dan kaca depan juga tidak pecah sama sekali.

Sekali lagi, tidak ada tempat yang berkategori paling aman. Selama masih berkeliaran para pengendara yang mabuk, atau mengantuk, maut di jalan raya adalah hal yang sangat patut diwaspadai. Waspadalah.

 

 

 

Membayar denda parkir

“Surat cinta” dari¬†ranger dibawa pulang oleh suami. Bu Menteri Keuangan disuruh bayar, dan kira-kira begini deh langkah-langkahnya:

 

  1. Langkah pertama, buka situs City of Melville (TKP pelanggaran)

langkah-pertama

2.  Langkah kedua, cari tulisan Fees and Fines, lanjut ke Parking Fines

langkah-kedua

3. Lanjut ke langkah ketiga:

langkah-ketiga

4. Ini ditanya nomor tiket denda:

langkah-keempat

5. Dilanjutkan dengan halaman ini:

langkah-kelima

Denda yang harus dibayar adalah 70 dolar (sekitar Rp700.000), berikutnya adalah kita harus memasukkan detil data kartu debit/ATM. Kalau ingin dikirimi resi bukti bayar, tuliskan alamat rumah dan email.

 

Sepanjang durasi kami di Perth, sudah dua kali kena denda. Harus lebih hati-hati lagi parkirnya.