CD murah

Kalau suka baca, suka nonton, dan suka beli barang di harga murah seperti saya pasti suka dengan perpustakaan di Australia. Menjadi anggota adalah gratis, asalkan bisa menunjukkan bahwa Anda memang penduduk sekitar (barang bukti yang diterima antara lain surat kontrak rumah/lease atau surat tagihan atas nama kita).

[Tintin dan Asterix, video buat nonton sama anak-anak]

Fasilitasnya? Meminjam buku, VCD, CD, mainan anak selama 3 pekan. Semua gratis dan bisa diperpanjang via Internet. Kita juga boleh pesan buku dari perpustakaan lain bila di perpustakaan tempat kita terdaftar tidak mengoleksinya.

Kalau pengalaman saya hari ini adalah membeli barang cuci gudang, istilahnya. Koleksi CD lawas perpustakaan di harga 50 sen saja.Alias setara Rp5.000. Pilihannya tidak banyak, tapi ada The Corrs, Andrea Bocelli (kesukaannya Niken), Lighthouse Family, dan satu CD musik klasik. Empat CD ditebus dengan satu koin saja. Ah.. sweet!

Tandem

Drama pagi ini datang dari mobil semata wayang kami. Secara tiba-tiba pedal kopling tidak bisa berfungsi dan hal itu cukup membuat suami saya panik. Saya diminta telpon bengkel langganan, cari solusi. Lanjut menghubungi nomor telpon pesan mobil derek. Tidak ada opsi lain selain menderek si putih ke bengkel di Willetton!

Setelah beres dengan urusan bengkel, saya dan Safiyya tandem di Bentley Library, yang satu nonton YouTube (juga diselingi dengan baca Tintin) dan satunya lagi baca artikel jurnal. 

Pulang sekolah

Kemarin Safiyya punya request khusus kepada saya yang sedang mempersiapkan tas untuk rapat di kampus. 

“Nanti mama yah yang jemput aku?” katanya setengah bertanya setengah menyuruh.

Saya pun menyanggupi permintaannya itu karena papanya akan bekerja lembur dan baru bisa pulang jam 5 sore. Saya akan jemput Safiyya jam 3 kurang 10 menit di sekolahnya. Harus dipertimbangkan durasi tempuh Crawley-Bentley 50 menit, dan mungkin saya akan menunggu beberapa menit hingga bis datang.

Setelah beres rapat 30 menit, jumpa supervisor di koridor dan ngobrol sambil nyebrang jalan tanpa berhenti (bayangin adegan serial dokter-dokter lg repot di ruang UGD)! Saya lanjutan perjalanan bergegaa menuju halte bis 950 di seberang kampus, sebelum duduk manis di bis 170 yang akan berhenti tak jauh dari sekolah Bentley.

Cuaca siang yang hangat di luar bis tidak dirasa di dalam karena pengatur suhu ruangan membuat penumpang merasa lebih sejuk. Saya membuat slides struktur paper saya di aplikasi WPS untuk PowerPoint, ini adalah trik memetakan ide sekaligus menyusunnya ke dalam format paper akademik. Ada dua ide yang mau disusun ke dalam bentuk paper, semoga sebelum ganti tahun sudah bisa beres drafting Aamien.

Dan bis pun berhenti di Wyong Street. Ini adalah halte terakhir, saya harus turun dan melanjutkan perjalanan ke sekolah dengan berjalan kaki. Kelas Safiyya belum bubar ketika saya datang. Sekitar lima menit saya terduduk di kursi berbahan alumunium di depan kelas Kindy (TK).

Di sekolah, ibu guru memanggil anak berdasarkan kehadiran orang tuanya. Kalau sudah tampak orang tua, nama si anak pun dipanggil dan anak berhamburan memeluk atau memberikan hasil karyanya hari itu. Dan hari Selasa kemarin mereka di kelas membuat kue. Safiyya tak sabaran ingin mencicipi hasil kreasinya, dan dia langsung minta duduk di depan kelas untuk bisa menyantap kue berlapis gula putih dan hiasan kelap-kelip warna perak, putih, merah muda, dan hijau.

Safiyya lanjut minta main di halaman sekolah, perosotan sangat menggodanya! Saya menunggu sambil merayu agar kita  bisa lanjut ke perpustakaan.

Tawaran saya pun bersambut. Di perpustakaan kami berdua bermain 3 jenis permainan, semuanya sukses membuat kami tertawa cekikikan. Mulai dari yang ini:

Lalu catur ini:

Dan puzzle bajak laut:

Jalan-jalan ke kota

Waktunya jalan-jalan ke kota untuk urusan pajak. Sebenernya ini murni kemalasan dan kelalaian saya, menunda urusan tax return sampai akhirnya mepet dengan tanggal terakhir yaitu 31 Oktober. Kalau sampai tanggal itu belum diurus, saya terancam kena denda! Hadeh…

Jadi deh ajak Aqila dan mami ke kota, setelah saya mengantar Safiyya ke sekolah. Aqila yang sempat menangis tadi pagi ternyata benar-benar menunggu saya pulang dari mengantar kakak sekolah. Dia berdiri di depan pintu rumah dengan rapih, menggendong tas kura-kuranya yang berwarna hijau. Tampil sangat cantik lengkap dengan polesan tipis gincu! (bagian ini memang terkadang anak-anak lebih girang berdandan daripada mamanya).

Dengan gembira, Aqila saya gandeng tangannya ke halte sementara Mami membawa tas berisi susu dan semua keperluan si kecil. “Kita naik bis ke Canning Bridge” ujar saya sebagai pemimpin rombongan.

Bis ke Canning Bridge adalah nomor 101. Perjalanan masih di zona 1, jadi rencananya adalah kita ke kota naik bis ke stasiun, lalu naik kereta berhenti di Perth Station.

p_20161028_093419_1_p.jpg
Jez jez jez …

Di kereta api yang membawa kami ke kota Aqila dan Mami duduk dekat jendela, dan karena penumpangnya sedikit sekali, rasa-rasanya memang sangat nyaman! Ketika kereta menyeberangi Sungai Swan di jembatan di mana kendaraan lain juga berlalu-lalang, secara perlahan kereta bergerak ke bawah tanah. Terus bergerak tanpa terlalu terasa sedang turun, tapi di Stasiun Elizabeth Quay kita bisa melihat di bagian atas stasiun adalah jalanan mobil. Kita sudah satu level di bawah jalan raya!

Berikutnya adalah Perth Station, di sini kami turun. Keluar dari kereta, langsung naik eskalator sebanyak dua kali, lalu ta-daa…kami muncul di kompleks perbelanjaan Hay Street. Aqila sangat pandai naik eskalator, tenang dan percaya diri saat naik dan turun.

Saat tiba di kota, suasana agak ramai. Banyak turis, banyak pekerja juga yang sedang rehat pagi. Saya menggandeng Aqila berjalan ke kantor myGov, tempat saya ingin mencari bantuan soal pengajuan tax return. Di pintu masuk saya disambut oleh seorang pria bertubuh tinggi berkulit gelap, dan dia meminta saya tunggu petugas di meja yang sudah ada komputer menyala.

Dua menit ditunggu, tidak ada yang menghampiri. Saya buka sendiri laman myGov dan mencoba akses akun saya. Tapi dasar kurang beruntung, akun malah terblok hingga 2 jam ke depan! Gagal total. Petugas-petugas di kantor itu tidak bisa bantu apa2 selain menyuruh saya telpon kantor pajak via telepon, dan obrolan via telepon dengan petugas pajak juga tidak banyak bermanfaat. Cuma disuruh tunggu dalam 48 jam nanti dihubungi oleh petugas pajak via telpon!

That’s it? Ya ampun… apa gunanya kantor ini sih, ada orangnya tapi gak bisa bantu. Semua masih terpusat di kantor pajak entah di mana, dan saya hanya bisa menunggu sampai mereka menghubungi.

Ya sudah, pulang saja. Mami juga setuju sebaiknya langsung pulang, sebab nanti malam kami akan kedatangan tamu, perlu masak-masak. Ini aksi kami menunggu bis 72 tadi. Di bis Aqila berteriak, “Mana ayam Andos?” –lho! Anakku mengira hari ini diajak jalan-jalan ke kota untuk makan ayam Nandos hahahaha….. Saya pun menjawab, “Iya nak, nanti bareng sama Papano dan Kakak Fiyya ya?!”

p_20161028_105011_1_p.jpgp_20161028_105111_1_p.jpgp_20161028_105128_1_p.jpgp_20161028_104822_1_p.jpg

Berobat

Salah satu kelebihan sistem kesehatan yang bisa dinikmati di negeri Kangguru adalah layanan bagi mahasiswa internasional. Bukan hanya untuk si mahasiswa yang sedang bersekolah, tapi juga anak dan suami/istrinya. Sebuah kartu asuransi OSHC (overseas student health cover) cukup untuk mengantarkan anak yang sakit berobat gratis ke klinik di kampus, ke rumah sakit, dan ke pusat pelayanan kesehatan gigi dan mulut (dental clinic).

Di cerita saya kali ini, saya akan berbagi tentang pengalaman membawa salah satu putri kami yang mengeluhkan rasa sakit saat pipis dan gusi yang bengkak. Dua persoalan terpisah, penanganannya pun harus satu per satu supaya tuntas.

Hari pertama, Senin, saya membawa putri kami ke klinik kampus. Kartu OSHC Medibank saya bawa dan tunjukan kepada resepsionis klinik. Simpel. Lalu kami menunggu sekitar satu jam di antrian, sebelum berjumpa dengan seorang dokter pria yang ramah terhadap anak-anak. Saya diminta dokter untuk membantu mengambilkan sampel urin untuk mengetahui adakah infeksi di saluran kemih Safiyya.

Hasilnya segera keluar karena secara sederhana urin ditempeli kertas khusus yang menunjukkan spektrum warna sesuai dengan kadar keparahan infeksi. Dengan sigap sang dokter meminta saya segera membawa Safiyya ke Princess Margaret Hospital/PMH (sebuah rumah sakit khusus anak di Perth). Hati ini mendadak ciut karena si dokter sempat menyebutkan bila hasil dari observasi UGD PMH tidak bagus, bisa jadi Safiyya terpaksa dirawat dua malam dan entah berapa bulan atau berapa tahun ke depan harus dioperasi untuk memperbaiki fungsi ginjalnya. Terdengar sangat serius, dan saya berdoa semoga saja pak dokter keliru.

Di PMH, saya harus mendaftarkan Safiyya berikut dengan surat pengantar dari dokter klinik. Lanjut mengantri diterima sama suster UGD. Oh ya… UGD di sini tidak seperti di Indonesia, bila kasusnya tidak mengancam nyawa, tertulis di papan pengumuman elektronik di meja resepsionis bahwa antriannya bisa sampai 2 jam. Ya, dua jam menunggu hingga akhirnya ditangani suster dan dokter UGD.

p_20161018_150423_1_p.jpg

Dengan Aqila yang tertidur sejak turun dari bus Yellow Cat, saya terpaksa menggendong Aqila sembari menunggu dan menghibur Safiyya yang makin bosan menunggu.

Di rumah sakit, baju suster, dokter, bisa dengan mudah dibedakan. Warna bajunya sama, tinggal warna kerah di dekat lehernya yang berbeda. Dokter pakai kerah baju warna merah marun, sementara suster berwarna putih. Suster bertugas menimbang berat pasien, mengetes kondisi dasar seperti panas tubuh, selanjutnya dipanggillah dokter yang bertugas menanyakan lebih lanjut tentang keluhan pasien. Kembali dokter meminta sampel urin. Lalu dokter bilang infeksi saluran kemih sangat mungkin terjadi pada perempuan akibat pola pembersihan pasca pipis yang keliru (dari arah dubur ke atas ke bagian vagina). Bila keluhan terjadi di bawah usia 3 tahun, ada kemungkinan anatomi ginjal bermasalah. Tapi bila keluhan terjadi di atas usia tersebut, lebih berpeluang masalahnya terletak di higienitas dan kekurangan asupan air.

Dokter memutuskan memberikan antibiotik setelah saya menjawab bahwa Safiyya tidak punya alergi apapun sepanjang sepengetahuan saya. Obatnya sebanyak 4,3 mililiter harus diberikan sebanyak 4 kali sehari hingga 5 hari. Kami membeli obat berupa cairan manis berwarna pink itu di sebuah apotik dekat Carousel dan terbilang murah, 7.99 dolar (sekitar Rp80.000). Malam setelah mulai mengkonsumsi obat, Safiyya bisa tidur dengan lelap alhamdulillah.

Keesokan harinya, saya bawa Safiyya ke dokter gigi di sebuah klinik gigi di bilangan Mt Henry, Salter Point. Ini juga setelah berkonsultasi dengan beberapa teman dan akhirnya ke sekolah bertemu wakil kepala sekolah yang baik hati. Dia sendiri yang langsung menelponkan klinik dan menceritakan keluhan Safiyya. Ternyata, anak sekolah mendapat fasilitas ke dokter gigi gratis di sini, asalkan dia terdaftar bersekolah di salah satu sekolah di Perth. Dan kebetulan untuk murid sekolah Bentley, arahannya adalah klinik gigi di Salter Point. Cukup satu kali bis dari rumah, kami bisa sampai ke sana.

Saya pun buru-buru pulang ke rumah untuk jemput Safiyya dan berangkat lagi ke klinik gigi. Di sana kami mendaftarkan diri, dan tak sampai 10 menit sudah ditangani mahasiswa terapi kesehatan mulut. Mahasiswa tingkat akhir ini muslimah cantik dan lembut terhadap anak-anak. Ia panggilkan dokter gigi yang bertugas di sana, lalu diperiksa dengan teliti. Semua tambalan gigi tidak ada yang copot tapi memang gusi meradang dan bengkak agak tebal. Di kursi berwarna biru, gigi Safiyya dihitung dan diperiksa kesehatannya. Dengan gagah berani, Safiyya melampaui itu semua tanpa berkeluh sedikitpun. Saya bangga akan keberanian putri saya ini.

p_20161019_151424_1_p.jpg

Saran untuk masalah ini ternyata sederhana saja. Berkumur dengan air garam sesering mungkin, dan menggosokkan gigi dengan kasa agar kotoran masakan bisa terangkat. Setelah mendapat kejelasan perihal kondisi mulut dan gigi, Safiyya dijadwalkan untuk konsultasi kembali pada Senin pagi. Sebelum pulang, mahasiswa yang baik hati tadi memberikan Safiyya dua stiker dan sebuah sarung tangan khas dokter gigi.

Hari ketiga, kami kembali ke klinik kampus. Dokter belum datang, dan kami juga belum bikin janji untuk bertemu. Resepsionis memesankan jadwal konsultasi pukul 14.20, dan menyarankan menemui suster yang sedang bertugas sebelum nanti konsultasi dengan pak dokter. Hasil uji sampel urin di klinik sudah keluar, dan Safiyya positif mengalami infeksi saluran kandung kemih.