Metode berhitung

 

Untuk menjawab sebuah pertanyaan, kita memiliki banyak metode untuk menunjukkan jawaban. Di riset yang sedang saya garap, saya beruntung secara tidak sengaja berkenalan dengan seorang profesor marketing dari Amerika. Dia di Perth selama tiga bulan dan mengajarkan metode berhitung yang asik. Di hari pertama dia ngasih pelatihan, dia bilang bahwa riset yang bagus itu gak selalu menggunakan bahan atau data yang kita ambil sendiri (semisal wawancara, survei dll). Kalau mau taktis dalam menggunakan masa studi, gunakan saja data yang sudah dibuat lembaga berkompeten di bidangnya, dan kamu mainkan dengan teknik yang berbeda-beda.

Untuk metode penelitian, saya dikenalkan dengan sedikitnya 15 jenis dan disarankan agar mencicipi minimal 3-4 dari yang banyak itu agar lebih kaya pendekatannya. Biar gak sempit metodenya.

Dan itulah rencana saya dengan riset S3. Kombinasi tiga metode yang semuanya akan menjadi penguat dalam penyusunan argumen. Dimulai dengan kualitatif yang menggunakan data wawancara salah satu negara yang dikaji. Lalu pendekatan kuantitatif dengan memanfaatkan metode fuzzy set Qualitative Comparative Analysis (fsQCA) serta metode multiple regression analysis (MRA). Dengan data yang sama, dua metode (fsQCA dan MRA) akan saling melengkapi kajian yang memiliki kekuatan complexity theory.

Kira-kira, saya akan memulai dengan gambar per variabel atau per kondisi yang diamati seperti ini:

female-participation-in-labor-force-countries

 

Lalu bergerak ke meracik recipe prediksi seperti yang berikut:

 

women-in-parliament-and-all-socioeconomic-development-indicators

Lanjut ke mari…..

mra-on-screen

Semoga bisa menuliskannya menjadi riset yang patut menjadi acuan. Amiien!

“Halo effect”

Saya sebut mereka “noise”. Kalau dalam ilmu jurnalistik televisi dan radio, “noise” adalah musuh yang harus diminimalisir. Bukan karena semuanya buruk, tapi sebisa mungkin kitalah yang pegang kendali terhadap segala “noise” di sekitar hal-hal yang paling penting.

“Noise” adalah hal yang berlalu-lalang, merupakan tambahan suara atau gambar di belakang suara inti (wawancara/suasana). Kalau memegang “boom” untuk merekam suara, sebisa mungkin arah “boom” (yang bentuknya berupa mic besar seperti dibawah ini) mengarah segaris dari atas ke bawah ke sumber suara narasumber. Begitu juga dengan video, noise yang biasanya berupa orang iseng lalu-lalang di belakang narasumber, sebisa mungkin tidak terlalu banyak dan berisik agar konteks gambar tetap bisa dijaga.

 

boom
Sumber: http://www.mediacollege.com

 

Nah, noise dalam kehidupan sehari-hari kita ada banyak sekali jenisnya. Terkadang justru kita lupa banyak noise adalah hal yang tersier, bukan yang utama, bahkan bukan yang sekunder. Tapi seringnya justru noise menguasai kebanyakan waktu kita, dan ini adalah pemecah fokus bekerja, berumahtangga, dan belajar.

Dua hari yang lalu saya terlibat percakapan serius dengan suami saya. Saya sedikit mengkritik kebiasan barunya yang mulai aktif dan “gesit” berdiskusi di grup WhatsApp (WA). Ada dua grup yang dia ikuti secara intens dan keduanya ketika saya baca, kesannya sangat sarat dengan nuansa “halo effect”. Kenapa saya sebut begitu? Berikut saya salinkan di sini apa makna dari “halo effect”.

The existence of the so-called halo effect has long been recognised. It is the phenomenon whereby we assume that because people are good at doing A they will be good at doing B, C and D (or the reverse—because they are bad at doing A they will be bad at doing B, C and D). The phrase was first coined by Edward Thorndike, a psychologist who used it in a study published in 1920 to describe the way that commanding officers rated their soldiers. He found that officers usually judged their men as being either good right across the board or bad. There was little mixing of traits; few people were said to be good in one respect but bad in another.

In his prize-winning book “The Halo Effect”, published in 2007, Phil Rosenzweig, an academic at IMD, a business school near Lausanne in Switzerland, argued:

Much of our thinking about company performance is shaped by the halo effect … when a company is growing and profitable, we tend to infer that it has a brilliant strategy, a visionary CEO, motivated people, and a vibrant culture. When performance falters, we’re quick to say the strategy was misguided, the CEO became arrogant, the people were complacent, and the culture stodgy … At first, all of this may seem like harmless journalistic hyperbole, but when researchers gather data that are contaminated by the halo effect – including not only press accounts but interviews with managers – the findings are suspect. That is the principal flaw in the research of Jim Collins’s “Good to Great”, Collins and Porras’s “Built to Last”, and many other studies going back to Peters and Waterman’s “In Search of Excellence”. They claim to have identified the drivers of company performance, but they have mainly shown the way that high performers are described.

Sederhananya, dalam riset apapun terutama dalam praktik jurnalistik, jangan pernah terjebak dalam “halo effect”; memberikan corong untuk seseorang yang sebenarnya tidak punya kompetensi untuk menjawab pertanyaan kita. Misalnya ada seseorang yang riset S3-nya tentang pemanfaatan lahan gambut di Indonesia, lalu akibat “silau” dengan kepakaran si doktor ini (ditambah lagi sindrom “jas putih” yang identik dengan kesan profesionalisme dan keahlian di bidang akademik), jangan dong kita bertanya ke dia soal kebijakan pemerintah untuk ekspor dan impor, apalagi soal pilkada!

Konyol? Ya mungkin saat membaca tulisan ini orang akan berpikir, lah jelas kan gak nyambung?! Tapi pada kenyataannya justru kita adalah penganut paham halo effect yang sangat akut dan kita sangat permisif terhadap praktik-praktik ini.

Adalah lucu bila kita membaca tentang komentar di grup WA seseorang yang tidak ada keahlian dan latar belakang riset tentang X, tapi kemudian dia muncul seakan yang seumur hidupnya mengurusi hal itu! Come on! Dan buruknya lagi, sangat patut dicurigai diskusi apapun yang berawal dari halo effect alias ke-sotoy-an hanya akan berakhir dengan debat kusir, since nobody is sincerely aim to listen. Mereka berketak-ketik dengan jari jempol hingga berapa halaman A4, tapi mungkin produktifitas yang sama tidak bisa berlaku untuk risetnya sendiri. Alangkah ajaib dan sia-sianya, bukan?

Percakapan di dunia maya, sekali lagi, adalah noise. Itu pula sebabnya saya menghindari terlalu “bawel” di grup WA manapun yang sudah mulai banyak sotoy-nya, dan lebih menenggelamkan diri dalam proyek-proyek menulis saya, baik untuk ditujukan sebagai bagian dari pencapaian riset S3 saya, atau tulisan lepas untuk buku-buku yang akan diterbitkan lewat nulisbuku.com.

I need to keep the noise controlled 🙂

 

“Kelinci percobaan”

Kemarin adalah hari yang menyenangkan. Mengantar anak ke sekolah, lanjut ke kampus untuk menjadi “kelinci percobaan”. Ih, jadi bahan penelitian kok seneng?! Iya seneng, karena saya jadi belajar banyak hal dari peneliti di luar bidang saya.

Penelitian eksperimental di laboratorium yang melibatkan manusia sebagai objek pengamatan memang sangat menarik, karena manusia tidak ada yang identik dalam pengambilan keputusan. Saya sangat yakin metode ini bisa dipakai untuk tema apa saja, termasuk riset saya di masa yang akan datang, jadi… tidak rugi kalau dari sekarang belajar bagaimana cara menggunakan metode ini.

Nah! Duduklah kami 12 “kelinci percobaan” di sebuah ruangan di lantai tiga gedung selatan fakultas psikologi. Masing-masing menghadap ke layar komputer merek LG yang berukuran lebih dari 17 inci (taksiran saya sih bisa mencapai 22 inci, entah!). Lalu profesor dari bidang ilmu pertanian mulai membahas aturan main buat kami.

“Kalian akan berjudi,” ujar pria berkaca mata dan berbaju motif kotak-kotak (bukan seragam pasukan pendukung JKW) itu.

Wadoh! Judi? Gimana mainnya? Sambar pikiran saya sepersekian detik dari ucapan si profesor.

Anggap saja kalian adalah masing-masing pemilik perusahaan dan ingin mengajukan tawaran harga kepada lembaga pemerintah yang sedang membuka lelang untuk pekerjaan tertentu. Ingat bahwa lembaga pemerintah ini punya anggaran yang ada batasnya dan mereka akan memilih berdasarkan tawaran harga jasa yang termurah terus ke tawaran berikutnya sampai pagu habis.

Lalu.. pertanyaannya, bagaimana kalian akan menyusun harga? Apakah kalian mengejar keuntungan sebesar-besarnya? Atau barangkali kalian memilih untuk bermain “aman”, dan menawarkan harga termurah? Kalian juga boleh saja tidak mengajukan bid sama sekali, sehingga modal kalian di perusahaan imajiner kalian tetap utuh, tidak dipotong biaya administrasi mengajukan tender.

Kami semua bermain 12 set, enam set pertama semua pemain memiliki harga produksi yang sama, sementara di enam set yang kedua komputer mengacak harga dasar produksi masing-masing perusahaan kami secara berbeda. Ini sangat mencerminkan praktik di lapangan, di mana kadang perusahaan memiliki harga dasar untuk menghasilkan sebuah jasa berbeda dengan harga perusahaan lain. Kembali ditanya, kalian akan kasih penawaran yang seperti apa? Apakah akan menjadi risk taker atau senang dengan hasil yang moderat asal “dapur perusahaan ngebul”?

Di set pertama, saya menang 5 tender dari total 6 set. Sementara di gim kedua, saya cuma menang 3, sehingga total kemenangan saya di “judi” itu adalah 8.

Pak profesor menjelaskan bahwa keuntungan perusahaan imajiner kalian itu akan dikalibrasi menjadi uang beneran (dolar Australia) dan ditambah dengan hasil kalibrasi modal awal perusahaan.

“Besok selepas jam 2 siang, kalian bisa ambil upah kalian berpartisipasi dalam riset ini. Dan bila berminat mengetahui lebih lanjut soal riset ini, kirimkan saya email! Nanti saya balas,” tambahnya.

Eh .. ada upahnya! Asik… anak mahasiswa mah di mana-mana pasti girang nih beginian. Colek tetangga sebelah kursi, ternyata anak Indonesia juga! Dia sudah ikutan 3 kali sesi eksperimen berbeda, dan obrolan kami pun mengalir jauh sampai Tavern, ke musholla, dan berakhir di depan Hackett cafe!

Oh … hari yang indah…. dapet pengalaman, dapet kenalan baru, dan tentu saja dapet bahan cerita buat blog! 🙂

 

Dan bagaimana harimu kemarin?

Rumah susun

Terduduklah saya di salah satu halte di Bentley, menunggu bis yang jadwalnya tertulis di papan bakal lewat jam 9.35. Bis yang terakhir lewat adalah nomor 34, dan itu pukul 9.20. Saya harus ke Crawley pagi ini, sudah ada janji dengan dokter di klinik untuk tes papsmear.

Tak lama berselang, seorang ibu datang. Ia berbaju serba hitam, dan ramah menyapa “Hello”. Saya pun membalas, tak ingin ketinggalan! Saya bilang “Hello” ke perempuan yang terkaan saya sudah mencapai usia 60 tahunan.

Lalu acara menunggu angkot (berupa bis yang ukurannya mirip bis luar kota di Indonesia, berbahan bakar gas, dan lengkap dengan penghangat serta pendingin ruangan tergantung musim) saya buka dengan memulai percakapan bersama si ibu.

“Gedung ini, rasanya sepi. Apakah tidak banyak yang tinggal di sana?” tanya saya sembari menatap dan menunjuk ke sepasang gedung tinggi yang sangat mirip dengan rumah susun ala Indonesia. Gedung yang beberapa kali menjadi bahan obrolan pendek saya dengan suami bila sedang melintasinya.

“Oh, dulu banyak. Sekarang semua warga di gedung bagian depan pindah ke gedung belakang. Banyak yang rusak. Pipa-pipa bocor. Tidak jelas kenapa sampai empat tahun tidak jelas pengerjaannya,” bahas perempuan yang mengaku sudah 7 tahun tinggal di rumah susun itu.

Jadi gedung itu ada sepasang, masing-masing setinggi 9 lantai dan tiap lantainya ada 10 unit dengan 2 kamar tidur. Total unit adalah 180, tapi berhubung kerusakan aneka rupa di gedung paling depan, tinggal sedikit saja yang bertahan dan pindah ke gedung belakang. Berbagai plang pengumuman bahwa kawasan Bentley akan “diremajakan”, tapi paradoksnya hingga empat tahun kerusakan di rumah susun masih saja dibiarkan.

 

p_20161029_092812_p.jpg
Rumah susun Bentley

 

“Padahal gedung ini adalah ‘heritage’, tidak boleh dirobohkan atas alasan warisan kekayaan budaya kota,” ujar lawan bicara saya yang memilih berdiri saat menunggu bis.

Dulu, masih kata si ibu, di kompleks ini ada pusat penitipan anak segala. Ada apotik, minimarket, dan gereja. Perlahan akibat beraneka kerusakan yang tidak diperbaiki, penghuni pun satu per satu angkat kaki. Perumahan rakyat yang menawarkan harga sewa unit yang lebih terjangkau (tentunya), tampak terbengkalai dari luar, dan ternyata hal itu diamini oleh penghuninya sendiri pagi ini.

Saya selalu melihat perumahan rakyat di Bentley–kawasan yang banyak dihuni oleh orang keturunan Aborigin, pendatang (mahasiswa), dan orang dengan tampilan ras non-Kaukasian–memang sangat bagus untuk mensubsidi mereka yang tidak mampu. Tapi kalau kondisinya rusak, ditambah lagi anak2 muda yang suka mabuk dan berisik di malam hari, mungkin kenyamanan adalah harga yang memang harus dibayar oleh mereka yang bertahan.

“Kalau malam, rumah kamu sudah kamu kunci, memang semua aman. Tapi kalau keluar dari unit kamu…duh gak aman!” ujar ibu bergincu tipis itu sembari menyedakapkan tangan dan menggelengkan kepala. Kondisi sepi di pagi hari bisa “menipu”, sebab “anak-anak nakalnya sedang tidur atau keluar”, kata si ibu lagi.

Saya tertegun menatap ekspresinya itu.

Dan tak lama setelah itu, bis yang ditunggu pun datang. Obrolan itu berakhir. Kawan ngobrol saya duduk di kursi paling depan, dan saya memilih duduk agak di tengah. Kembali ke laptop!

 

=====

(Crawley adalah kawasan kampus University of Western Australia/UWA, tempat saya sekolah. Sementara Bentley adalah suburb, macam kecamatan kalau di Indonesia, kampus Curtin University)

 

 

 

 

 

 

“Snow white”

Siang ini dengerin radio musik klasik di HP. Wawancara dengan penyanyi opera yang bercerita tentang kisah dongeng Snow White (Putri Salju). Dalam versi Disney, dongeng itu dikisahkan dengan sosok seorang ibu tiri yang kejam, seorang ratu yang cemburu dengan perempuan yang lebih muda dan lebih cantik darinya.

Tapi ternyata dongeng itu telah dipoles demi menghindari kesan kejam yang sebenarnya. Di dongeng yang belum dipoles, justru si ibu kandung Snow White yang memerintahkan pembunuhan itu. Ketika dibilang kalah cantik dengan seseorang, meskipun perempuan itu adalah anaknya sendiri, si ratu menjadi gelap mata. Ketika kecantikan telah menjadi takaran kekuatan seorang perempuan, maka menjadi keriput dan peot adalah mimpi terburuk!

Si narasumber membahas bagaimana dongeng itu masih sangat relevan dengan kondisi masyarakat hari ini. Perempuan demikian takut menjadi tua, kehilangan kesegaran kulit khas perawan, dan mengusamnya rambut sebelum memutih menjadi uban.

Ketika masuk usia 40, perempuan banyak berlomba mencari solusi agar tidak tampak setua umurnya. Beli krim2 “ajaib” yang konon bisa menunda kehadiran keriput. Lekas2 suntik botox! Apa yang salah dengan menjadi tua? Kenapa sih kita tidak bisa menerima hadirnya uban di kepala kita. Munculnya kerutan-kerutan di ekor mata kita, sebagaimana kita bisa “legowo” ketika hidung, kening, dan pipi dihinggapi jerawat saat puber di masa remaja?

Kenapa coba?

 

I’m a superhero!

Taking my eldest child to her kindy on Tuesday is so much fun now as I can also bring along my youngest. For the very first time, Aqila is joining a 3 hour playgroup session. She was abit of a shy at the begining. It is rather slow with Aqila to finally set the tune to be socialized, as she refused to smile, always seek for both my assistance and presence. But I discovered that a costume play after a recess can boost her confidence very significantly. She picked a pink-superhero-robe. With an S marked at the back, I presume this is the costume for female Superman and in this case, for Superwoman 🙂

As cheeky as she might be, Aqila turns into a more cheerful kid. She ran with her new friends and pretending to help others whilst running around the not so big play room. She even laughed at her friends and commenting the red hat that she dislike. Aqila loves the pink tiara too much, and said a red hat is such a dull!

We spent more than 3 hours. From reading books to singing, playing outdoor and indoor, fixing puzzles, 10 minutes lunch break with homemade jelly and shared food like popcorn, and we finished up with yawning and of course singing 🙂 My child didn’t seem to be interested that much with singing English playsongs. It is actually a rather alienating as I can fully understand. Her focus was overwhelmingly on a small white board that can be easily erased and she started to fancy writing (by this I mean making fuzzy lines!).

I also made new friends. A lady from Libya who brought 2 children, another one from China with her boy, a mum from the Philippines who bear 2 toddlers, and a local Australian with 3yo girl and a baby girl named Ella.