Sensus oh sensus!

Tulisan ini dibuat setelah semalam “puas” menunggu secara produktif (baca: sambil bikin berita dan baca komentar-komentar cetar di Twitter) sensus “online” yang seharusnya diisi. Sensus di Australia sudah mulai diperkenalkan untuk “paperless” alias tidak pakai kertas lagi sejak awal tahun 2000-an. Di tahun pertama “eCensus”, cuma 10 persen responden yang melakukannya secara “online”, sisanya masih dengan metode petugas sensus datang ke rumah-rumah dan membantu pengisian lembar-lembar pertanyaan kepada si penghuni rumah.

Di sebuah video tentang kampanye sensus tahun 1966, diperlihatkan bagaimana sensus digelar. Mirip sekali dengan yang ada di Indonesia, petugas dan responden bertatap muka, mengisi formulir, dan tentu saja data mereka tidak mencantumkan nama si responden serta alamat rumah.

Tahun ini terjadi banyak sekali perubahan. Sekitar dua pekan sebelum sensus lima tahunan digelar, saya sudah mendapat surat dengan kop surat bertuliskan jargon “Your moment to make a difference” di sampingnya ada logo Australian Bureau of Statistics (ABS). Lantas di pembukaan surat tertulis “Your census login below. Keep this safe and save the date”. Persis di kanannya tulisan pembuka itu ada semacam gambar mirip sticky note warna kuning jelas tertera di sana “Census night August 9”.

Yang sangat mengusik saya dari awal sebenernya tulisan begini:

Dear Resident,

Please complete the Census on Tuesday, 9 August 2016.

The census is your moment to make a difference and help shape Australia’s future.

[blablabla…]

ABS (setara dengan BPS-nya Indonesia) sangat percaya diri bahwa laman mereka (www.census.abs.gov.au) akan sanggup menerima semua input dari responden di Australia pada waktu yang bersamaan, pada 9 Agustus malam! Bayangkan, kalimatnya kan “tolong selesaikan sensus pada 9 Agustus”, bukan “sebelum” atau “paling lambat” 9 Agustus. Ini artinya semua penerima surat diharapkan di malam yang sama membuka Internet dan duduk menghadap laman Census untuk mengisi belasan mungkin puluhan pertanyaan! Mereka sangat yakin tidak bakal terjadi “crash” akibat “overload” data atau pengakses.

Jpeg
Laman sensus “online” Australia diputuskan koneksinya pukul 19.45 waktu setempat.

Dan benar saja. Pada malam yang sudah ditentukan, eng ing eng… yang terjadi adalah kegagalan sistem menerima begitu banyak responden yang sebagian kecil bahkan sebenarnya sudah berencana untuk memboikot sensus ini! Kenapa boikot?

Nah khusus soal boikot ini, sebenarnya memang warga Australia patut merasa khawatir dengan metode pencacahan data oleh ABS yang meminta responden menuliskan antara lain nama, alamat rumah, tingkat pendidikan, agama, dan jumlah pendapatan. Biasanya nama tidak perlu dituliskan di lembar survei, karena ini seharusnya mencacah data, bukan mencacah penduduk sebagai individu (dengan identitas berupa nama). Lantas yg bikin lebih ngeri lagi adalah data sensus akan disimpan selama 4 tahun, bukan 18 bulan atau 1 tahun seperti sensus di tahun-tahun sebelumnya. Buat apa data disimpan sebegitu lama? Siapa yang simpan, dan apa jaminan data itu tidak dicuri atau bocor untuk kepentingan selain sensus?

Beberapa senator dan politisi independen, seperti Nick Xenophon, sudah mengumumkan bahwa dia lebih memilih didenda 180 dolar per hari, akibat tidak mau mengisi formulir sensus, daripada harus menanggung resiko pelanggaran privasi terhadap data pribadi dirinya dan keluarga. Ada juga politisi Partai Hijau yang memboikot karena melihat potensi kekacauan sistem “eCensus” yang bisa datanya bisa dimanfaatkan justru untuk pemerintah mengintai publik.

Sebenarnya, “eCensus” ini mungkin boleh dibilang irit dari segi biaya. Bila menggunakan sumber daya manusia untuk mendatangi rumah-rumah dan jutaan lembar kertas bisa menelan hingga 100 juta dolar, sensus “online” diperkirakan hanya membutuhkan biaya sepersepuluh atau maksimal separuh saja dari sensus konvensional. Biaya yang besar adalah membayar perusahaan teknologi IBM 10 juta dolar untuk menyediakan “cloud server”, tempat data disimpan, lalu kampanye di media massa. Tapi ini persis seperti “tambang data” buat siapa saja yang melihatnya! Ada nama, agama, jumlah penghasilan, tempat tinggal, jumlah anak, sekolah, status pernikahan, apalagi yang kurang coba? Semua ada di sana! Pejabat ABS membantah soal keraguan keamanan data sembari menyebut data memang sudah terpapar karena di manapun kita berada ada kartu “tap and go” ATM bank, ada juga kartu pelanggan supermarket, dan Facebook dkk, yang kesemuanya itu meminta kita memberitahukan detil pribadi kita! Tapi seorang reporter di acara tanya jawab tersebut menegaskan bahwa ABS meminta data secara “paksa” karena ada ancaman denda di sana, sementara kartu2 yang disebutkan tadi dan media sosial semuanya adalah bersifat “pilihan”. Bagaimana mungkin kedua ini bisa dianggap sama?

Australia telah menggelar sensus sejak 1828, tapi secara resminya sensus tercatat terjadi pada tahun 1911 ketika jumlah populasi Australia mencapai 4,4 juta orang. Orang Aborigin dan Torrest Strait Islander baru masuk ke data sensus Australia di tahun 1966. Sensus adalah kewajiban, sama dengan pemilu!

Sebagai gambaran, sensus lima tahunan di Australia ini digelar berdasarkan rumah atau tempat tinggal. Semua harus mengisi, tidak peduli apakah kita warga negara atau bukan, pendatang atau bukan, tak peduli bila hanya satu malam sedang berada di Australia atau bukan. Yang penting Anda berada di Australia pada tanggal 9 Agustus 2016. Pengecualian hanya berlaku bagi mereka diplomat asing dan keluarganya. Tahun ini ABS memperkirakan ada 10 juta keluarga dengan jumlah jiwa mencapai 24 juta. Data sebanyak itu akan memetakan siapa kita, dan bagaimana kebiasaan kita, berikut pula nama dan informasi tempat tinggal kita. Semisal saja kita berbohong dengan isian formulir, ABS mengancam dengan denda dan tuntutan hukum. Semuanya memang terasa “dipaksa” demikian rupa.

Tapi ABS sebenarnya memberikan celah buat kita tetap menjaga privasi di data yang kita berikan. Baca ini saya jadi paham bahwa ada trik:

  1. Minta formulir kertas ke ABS, dan tanya di mana tempat pengumpulan formulir nanti bila sudah terisi.
  2. Di formulir kertas, kita boleh kosongkan kolom nama dan kita tidak kena denda kalau tidak isi nama di sana. Sementara bila menggunakan metode “eCensus”, sistem tidak akan progres bila kolom nama tidak diisi. Tapi balik lagi yah, kan ada alamat rumah tercantum di sana. Saya kurang paham apakah alamat juga boleh dikosongkan di kertas survei “offline”?

Balik ke isu keamanan data, ABS sejak tahun 2013 melaporkan ada 14 kasus kebocoran data. Titik paling lemah berada di fase ketika semua data itu terkumpul, mereka kepayahan menyimpan data dari sekitar 9 juta keluarga untuk sekali sensus. Apalagi bila diakumulasikan dengan sensus-sensus sebelumnya. Masif sekali!

Ditambah lagi pagi ini berita koran Sydney Morning Herald mewartakan laman sensus ABS terpaksa ditutup sementara karena diserang oleh “hacker” dari luar negeri. Kepala Statistik ABS, David Kalisch, dalam wawancara radio bersama ABC, Rabu (keesokan hari setelah malam sensus), menegaskan data yang masuk sebelum 7.30 malam sudah aman diterima ABS. Dan David belum bisa mengetahui detil sumber serangan tadi malam terhadap laman sensus ABS. Di bagian lain berita itu tertulis Menteri Usaha Kecil Michael McCormack – menteri yang bertanggung jawab untuk urusan sensus 2016 – membantah soal serangan “hacker”. Uniknya lagi, harian The Australian menurunkan angle berita bahwa kerusakan sistem semalam bukan karena “hacker”, tapi semata kegagalan “hardware” akibat serbuan responden.

ABS mengakui sejak pukul 19.45 tadi malam laman sensus sudah diputus koneksinya, tapi mengapa responden diminta untuk mencoba kembali dalam waktu 15 menit? Ini terasa konyol sekali karena ribuan, mungkin jutaan, orang tadi malam nyaris bedagang demi sensus! Lalu David Kalisch di wawancara radio ABC berjanji laman sensus bisa kembali diakses jam 9 pagi hari ini, tapi sampai pukul 10 pun masih saja tidak bisa dibuka. Jadi?

Soto Ayam Obati Rindu Berbuka Bersama di Perth

 

Baca di tautan ini juga yah! 🙂

Perth, 26/6 (Antara) – Masyarakat Indonesia di Kota Perth, Australia Barat, menggelar acara buka puasa bersama di Bentley Community Center, Sabtu, dengan menu soto ayam yang sedikit banyak mengobati rasa rindu suasana berbuka di Tanah Air.

Kegiatan yang disponsori oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) untuk Australia Barat itu turut didukung oleh Komunitas Muslim Indonesia dan berbagai komunitas kedaerahan di Perth.

Untuk tahun 2016, panitia bersama juga telah menjalankan syiar Ramadan untuk sekitar 10 keluarga Muslim Indonesia di wilayah Busselton dan Margaret River.

Setiap Sabtu, kegiatan buka puasa bersama di Perth menghadirkan ustadz yang berbeda. Mereka sebagian diundang dari Indonesia oleh beberapa organisasi masyarakat (ormas), dan yang lain adalah ustadz Indonesia yang sudah berdomisili di Perth.

Menurut Wakil Konsul Informasi dan Bidang Sosial KJRI Perth, Ririn Dwi Fitriani, rata-rata kehadiran mencapai 300-400 orang termasuk anak-anak.

“Acara buka puasa ini mengobati kerinduan akan suasana Ramadan di Tanah Air. Bukan hanya dari segi makanannya saja yang sangat khas Indonesia, tetapi juga ceramah berbahasa Indonesia membuat saya menjadi mudah mengetahui isi yang disampaikan,” kata Malikus Senoadi, salah satu peserta buka puasa di Bentley Community Center.

Acara dimulai pukul 16.30 waktu setempat atau sekitar 15.30 WIB, dengan takjil yang beragam, mulai dari kurma, kolak, kue basah seperti klepon, bubur ketan hitam, kue lumpur, hingga jajaran kue kering berupa tahu isi, risol, dan dadar gulung.

Kegiatan dilanjutkan dengan ibadah sholat Maghrib berjamaah dan menyantap hidangan utama berupa soto ayam, lengkap dengan kerupuk udang dan sambal.

Selain menikmati kebersamaan dengan sesama warga Indonesia yang merantau ke Perth, para peserta buka puasa juga mendapatkan tausyiah dari ceramah agama yang disampaikan oleh Imam Abdul Jalil Ahmad.

Imam asal Aceh, Indonesia, yang telah puluhan tahun tinggal di Australia itu memaparkan ikhwal turunnya Al Qur’an pada bulan Ramadan dan keutamaan Lailatul Qadar.

Ceramah Imam Masjid Hepburnheights itu disampaikan dalam dua bahasa, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Puasa di Perth berdurasi kurang dari 12 jam pada musim dingin ini. Dimulai pukul 5.45 dan berakhir pukul 17.23, sementara suhu berkisar 7-17 Celsius.

Kecepatan Internet di Australia Melorot Tajam

 

Previously published in: here and Republika.

====================================

Perth, 22/6 (Antara) – Australia adalah salah satu negara yang menikmati akses Internet dengan kecepatan jelajah sangat tinggi, namun ternyata kecepatan Internet di Australia melorot tajam di bawah pemerintahan Koalisi.

“Dalam tiga tahun terakhir, posisi Australia merosot dari posisi 30 di dunia ke peringkat 60,” kata juru bicara bidang komunikasi pihak Oposisi, Jason Clare (13/6).

Pernyataan Clare itu mengacu kepada hasil survei tahunan yang dilakukan oleh Akamai, sebuah perusahaan penyedia konten yang dikenal bereputasi tinggi.

Laporan Akamai menyebukan bahwa pada bulan September 2013, kecepatan puncak mengakses Internet di Australia adalah 30,1 megabit per detik, dan itu menempatkan Australia di posisi 30 dunia. Ini adalah ketika Koalisi di bawah pimpinan Partai Liberal mulai menjadi pemerintahan yang berkuasa.

Kemudian per Desember 2015, kecepatan internet di masa puncak menurun menjadi 39,3 megabit per detik sehingga posisi Australia melorot ke 60 dunia.

Beberapa faktor menjadi penyebab menurunnya peringkat kecepatan Internet di Australia.

Seperti dilansir dari laman ABC.net.au, faktor pertama yang menyebabkan kecepatan Internet menurun adalah karena kecepatan Internet di negara-negara lain melonjak lebih cepat daripada Australia.

David Belson, editor untuk laporan kecepatan Internet Akamai, menyebutkan bahwa berdasarkan perhitungan terhadap 100-200 triliun permintaan konen dari 200-an negara di dunia, Akamai mendeteksi kecepatan mengunduh konten di durasi puncak mengakses Internet.

Seorang dosen senior Jurusan Mesin di Universitas RMIT, Mark Gregory, menyebutkan bahwa sejak tahun 2010 negara-negara lain di dunia lebih proaktif menyediakan jaringan internet dengan akses yang cepat dan biaya yang murah.

Faktor kedua terkait dengan kebijakan Internet pemerintahan Koalisi yang masih mengandalkan medium tembaga alih-alih fiber optik (NBN).

 

 

 

Penyakit Ginjal di Australia

Perth, 23/5 (Antara) – Setiap pekan terakhir di bulan Mei, advokasi kepedulian terhadap kesehatan organ ginjal digelar di Australia.

Pada tahun ini kampanye dilakukan mulai 22 hingga 28 Mei, dan organisasi “Kidney Health Australia” merilis laporan sebaran perkiraan pasien secara nasional.

Mengutip siaran pers CEO “Kidney Health Australia”, Anne Wilson, Senin, penyakit ginjal kronis adalah persoalan yang semakin serius di negeri itu.

Beban finansial akibat penyakit ini bukan main-main besarnya, mencapai empat miliar dolar Australia atau setara Rp40 triliun per tahun.

Mahalnya pembiayaan ini tercermin dari jumlah pasien dengan permintaan layanan cuci darah yang telah menjadi alasan paling banyak orang dirawat di rumah sakit di seluruh Australia. Sepanjang tahun 2014-2015, tercatat 1,3 juta pendaftaran masuk rumah sakit adalah untuk cuci darah.

Dilihat dari prevalensinya, mereka yang berlatar belakang suku pribumi Australia berpeluang menderita penyakit ginjal kronis dua kali lipat lebih besar dibandingkan non-pribumi.

Lebih dari 1,7 juta orang dewasa Australia saat ini hidup dengan indikasi penyakit ginjal kronis, namun 90 persen di antara mereka tidak menyadari hal tersebut.

Berdasarkan pemetaan lokasi pasien, diperkirakan di kawasan selatan kota Brisbane (Queensland) terdapat sekitar 96.200 orang yang mengalami penyakit ginjal kronis, lalu sebanyak 74.500 orang di kawasan Hunter utara Kota Sydney, dan bagian timur kota Melbourne ditaksir terdapat 63.400 orang.

Sebagai penyakit dengan julukan “si pembunuh diam-diam”, penyakit ginjal kronis bisa menimpa siapa saja. Penderita bahkan terkadang baru tersadar ginjalnya bermasalah ketika fungsi organ hanya tersisa 10 persen.

Orang dengan penyakit ginjal kronis memiliki resiko yang jauh lebih besar untuk mengalami penyakit-penyakit lain, termasuk 2-3 kali lebih besar resikonya untuk terkena serangan jantung. Peluang kematian juga 20 kali lebih besar daripada resiko kematian akibat cuci darah atau transplantasi ginjal.

kidney week

(Foto: Youtube.com)

Data statistik Australia menunjukkan setiap 25 menit terjadi kematian yang terkait dengan penyakit ginjal kronis, angka ini 16 kali lipat lebih besar daripada angka kematian akibat kecelakaan di jalan raya.

Secara nasional diperkirakan setiap tahun terdapat 16.000 kasus baru orang dewasa yang mengalami penyakit ginjal kronis.

Selain kampanye bergaya hidup sehat, pekan kesehatan ginjal juga diisi dengan promosi pemeriksaan fungsi ginjal.

“Sebab bila penyakit ginjal terdeteksi lebih awal, maka penyakit itu bisa ditunda perkembangannya ke taraf yang lebih parah hingga 50 persen,” ujar Anne Wilson menjelaskan.

“Itu sebabnya kami mendesak agar pemerintah federal membiayai pemeriksaan yang terintegrasi dengan dokter umum. Investasi deteksi dini penyakit ginjal kronis tidak hanya menekan biaya sistem kesehatan, tapi juga menunda kebutuhan untuk cuci darah, sehingga meningkatkan kualitas hidup pasien,” tambahnya.

“Kidney Health Australia” mencantumkan di laman resminya beberapa hal yang patut dicermati setiap orang, tak pandang usia dan kelamin. Bila seseorang mengalami diabetes, tekanan darah tinggi, gangguan jantung, atau pernah mengalami serangan stroke, maka ia harus segera menguji kondisi ginjalnya.

Terlebih bila seseorang dengan kebiasaan merokok, berat badan terlalu gemuk, dan berusia di atas 60 tahun, pemeriksaan kondisi ginjal adalah hal yang sepatutnya menjadi prioritas.

Anne Wilson menyebutkan kampanye pendidikan tentang ginjal sehat harus dilakukan sejak kanak-kanak, sebab konsumsi gula buatan yang berlebihan bisa memicu kerusakan ginjal.

“Setiap anak yang meminum 600 ml minuman ringan sama dengan dengan menenggak 16 sendok teh gula. Bila terjadi secara terus menerus maka kesehatan mereka bisa terganggu dan berbagai resiko penyakit akan meningkat termasuk penyakit ginjal kronis,” ujarnya.

Dengan sistem air yang tersedia di rumah-rumah dan tempat umum di Australia secara gratis, sudah sepatutnya anak-anak dan orang dewasa mengkonsumsi lebih banyak air daripada minuman ringan bersoda.

Lebih lanjut Anne, yang sudah menyatakan rencananya untuk mundur dari posisi yang telah diembannya selama beberapa belas tahun terakhir, menegaskan bahwa, “tantangan kita sekarang adalah mengalahkan dampak dari iklan jutaan dolar yang menggoda anak-anak dan remaja kita untuk meminum minuman ringan.”

Dalam kesempatan berbeda, Ketua Asosiasi Ahli Nefrologi Australia dan Selandia Baru, Dr Joshua Kausman, menjelaskan bahwa untuk mengatasi tren peningkatan penderita penyakit ginjal kronis dibutuhkan sedikitnya tiga langkah utama.

Pertama adalah pendidikan soal kesehatan ginjal, kedua terkait dengan pelayanan terhadap pasien, dan yang terakhir adalah mengurangi resiko-resiko munculnya penyakit ginjal kronis.

“Obesitas dan tekanan darah tinggi adalah dua faktor resiko yang paling utama dan perkembangan banyak penyakit komplikasi di usia dewasa, termasuk penyakit ginjal, tapi sering sekali penyakit ini berakar dari masa kanak-kanak,” tukasnya.

“Sedari kecil, anak-anak harus diajarkan pola hidup hyang sehat untuk mencegah beraneka penyakit di usia tua,” pungkasnya.

Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan sekitar 10 persen dari populasi dunia menderita penyakit ginjal kronis dan diperkirakan angkanya bakal meningkat hingga 17 persen pada 10 tahun mendatang.

Bagaimana dengan Indonesia?

Di Indonesia, prevalensi penyakit ginjal kronis di Indonesia terus meningkat setiap tahun. Hasil studi epidemiologi Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) tahun 2005 menunjukkan sebanyak 12,5 persen dari masyarakat diketahui mengidap penyakit ini.

Masih berdasarkan data Pernefri, sampai tahun 2012 pasien yang mengalami penyakit ini mencapai 100.000 orang.

Berita Kantor Berita Antara di tahun 2013 menyebutkan bahwa sekitar 80.000 orang di Indonesia melakukan terapi cuci darah secara rutin dan setiap tahunnya terdapat 2.700 kasus baru pengidap gangguan ginjal kronis.

Sebuah rumah sakit daerah di Tulungagung, Jawa Timur, mengaku kewalahan untuk melayani pasien yang membutuhkan layanan cuci darah. Setiap bulannya terdapat 20-30 pasien baru yang membutuhkan terapi tersebut, sementara alat yang dimiliki hanya 18 buah dan saat ini sudah menangani 152 orang pasien berobat rutin.

“Tapi itu tidak menggambarkan kondisi riil di lapangan, karena sebenarnya penderita gagal ginjal kronis itu (di Tulungagung) banyak sekali,” kata Kepala Ruang Hemodialisa RSUD dr Iskak, Tulungagung, Tuhu Suwito (17/3/2016).


 

Artikel ini juga sudah muncul di AntaraJabar.com. Enjoy!

Kost2an ala Australia

image

Ada air mancur di depan rumah, laporan foto saya kirim ke agen setelah urusan listrik  kelar.

Sebuah mimpi buruk dan absurd membangunkanku dari tidur di ranjang bertingkat di sebuah hostel murah di pusat Kota Adelaide. Sinar matahari menusuk masuk dari sedikit celah di kaca sisi ujung ruangan berukuran sekitar 6×3,5 meter. Ternyata cahaya matahari persis menyorot bagian bantalku, seolah menjadi pemaksa, pengusir malas dan kantuk. Dan aku pun terbangun dengan kombinasi rasa marah di mimpi dan gelisah sinar matahari yang sudah memanas.

Tak seberapa lama, kurang dari lima menit kurasa, HP pun bergetar. “Papano” tertulis tampil di layar 5,5 inchiku. “A! Tumben dia telpon duluan”, pikirku. Dan kalimat keduanya setelah bertanya kabar adalah kalimat paling darurat dari Perth.

“Manda, parah Manda! Listrik semua mati, kecuali lampu. Gimana ini ya?” ujarnya.

Kejadian listrik padam di bagian semua colokan di rumah sudah pernah terjadi sebelumnya. Persis waktu yang sama, yaitu saat Mami sedang berada di Perth. Tapi bedanya saya sedang di luar kota sekarang, long weekend karena Seninnya ANZAC Day.

Di komplek tempat kami tinggal, semua saklar listrik utama terletak di dalam semacam gardu di belakang garasi dan dikunci oleh agen pengelola properti. Kalau saklar colokan mati, opsi yang tersedia cuma hubungi agen dan berharap dia segera datang menaikkan lagi saklar di ruang kecil itu. Kasus yang sekarang agak berbeda, sebab kejadiannya di hari Minggu dan libur hingga kantor masuk lagi normal hari Selasa. Tetangga Vietnam pernah cerita dia mengalami kasus serupa dan yang datang adalah tukang listrik sebab listrik padam di hari libur, kemudian ia kena tagihan 200 dolar hanya untuk menaikkan saklar “cek-klak”! 😉

Berangkat dari pengalaman buruk si tetangga, kami pun memutuskan uk menunda kabari agen, dan titip daging ke tetangga2 terdekat. Sempat pula numpang masak, hahaha…semua karena takut kena “denda” 200 dolar manggil tukang listrik ke rumah!

Tapi pagi ini adalah ujian kesabaran buat kami serumah. Email ke agen sejak Senin malam tidak dibalas, telpon tidak diangkat, dan terpaksa saya harus hampiri kantornya sendiri. Saya harus tanya dan minta dia datang. Jam 12 dia email, dan katanya dia tidak jadi datang ke unit, melainkan tukang listrik akan periksa apakah ada kerusakan korslet di alat2 listrik rumah kita.

Tukang listrik yang sopan dan ramah datang sekitar pukul 2.15, saat2 kami sudah bersiap ke kantor agen dan minta penjelasan kapan tukang listrik akan datang? Penolong kami di urusan saklar akhirnya menjelaska  bahwa 200 dolar hanya akan dikenakan kepada si-penghuni kalau memang ada alat korslet di unit kita. Sementara unit kami, setelah si tukang listrik tunggu beberapa lama dan lihat2 saklar tidak turun lagi, akan langsung dia laporkan kepada agen sebagai bukan kesalahan penghuni. Jadi, bebaslah kami dari ongkos 200 dolar tadi hahaha… Kalau ditanya kenapa saklar jeglak? Entah, kami tdk pasang heater, tdk pun pakai kipas angin atau alat listrik yg berpotensi rusak atau korslet.

Sekitar jam 2.30 suasana rumah kami kembali normal, bisa masak dan bisa recharge baterei laptop, dll. Mami juga riang gembira. Saya khusus bawakan segelas kopi hangat dari perpustakaan setelah rapat singkat dgn supervisor di ruangannya. Ya, rapat minta tanda tangan saja. Dia berpesan, “Sekarang kamu mulai deh fokus nulis. Gak usah presentasi2 lagi dulu.” Iya pak. Siap kerjakan pak.

Hahaha… riangnya hati ini 🙂 Sebab tukang listrik juga sudah benahi lampu luar komplek yang beberapa pekan sempat padam, membuat malam menjadi super gelap gulita, lebih2 suasana desa.

KIPI Adelaide

Ibarat perempuan hamil yang kemudian melahirkan setelah sekitar 9 bulan, maka hari ini adalah hari saya melahirkan KIPI setelah lima bulan mempersiapkannya. Sebuah konferensi akademik yang digelar Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia (PPIA) dan rutin digelar setiap dua tahunan. Untuk KIPI tahun ini, saya terlibat sebagai Streering Committee karena posisi saya sebagai ketua divisi akademik. Ini pun terjadi karena kebetulan saya mendapat limpahan dari ketua sebelumnya.

Tema tahun ini adalah tentang masyarakat digital menghadapi milenium baru, memaksimalkan peluang. Topik yang menurut saya sangat pas dan relevan untuk Indonesia dari berbagai sudut pandang ilmu. Sangat hangat beririsan dengan sektor kebijakan, realitas lapangan, serta riset akademik.

Berlokasi di kampus Flinders University, Adelaide, KIPI 2016 menghadirkan berbagai narasumber kunci di antaranya Duta Besar Indonesia untuk Australia, Pak Nadjib Riphat, perwakilan bos urusan sosial media Departemen Luar Negeri Australia, Menteri Perdagangan negara bagian Australia Selatan, Jembatan Flinders, profesor di bidang sosial media, dan VP Freelancer.com.

Dari dua sesi diskusi panel, banyak informasi yang dipaparkan oleh narasumber, termasuk diplomasi digital Indonesia dan Australia yang sebagian saya jadikan berita di Antara. Ada juga bahasan tentang kajian akademis pemanfaatan sosial media di dunia politik. Dan situs menyedia info lowongan kerja buruh lepas yang konon bisa mengubah peta pencarian pekerja dan pekerjaan. Semua itu terangkum dalam satu hari yang panjang, yang ditutup dengan acara santai di kantin berbangunan megah dan futuristik. Acara nyanyi-nyanyi dan makan nasi kuning. Tapi seru juga ada kegiatan seduh kopi khas Indonesia! Saya menikmati beberapa varian bijih kopi yang belum pernah saya minum sama sekali, dan memantik ide untuk belajar jadi barista!