Mabuk dan maut

Kemarin siang rumah salah satu kawan saya mendapat kejutan. Seorang bapak tua berkulit putih mengendarai mobil Mercy nya di bawah pengaruh alkohol. Bukan yang pertama, ini justru sudah kali ketiga, menurut istri si bapak tua itu ketika datang ke TKP dan marah-marah (kepada si suami).

Ini bukan hanya mengerikan, tapi juga mencekam buat saya. Sebab saya sering mendapati diri sedang berjalan kaki di pinggir jalan raya, dan ternyata para pengendara di jalanan Perth sangat mungkin berkondisi mabuk.

Khusus cerita kemarin, si pengendara Mercy menabrak papan penanda halte dekat rumah saya. Di halte itu, saya memang sering merasa tidak nyaman karena jaraknya sangat dekat dengan mobil-mobil yang berlalu lalang. Rasanya dekat sekali, terlalu dekat! Dan si mobil itu menabrak papan daftar jadwal kedatangan bus sampai hancur. Ia mungkin kaget, lalu membanting stirnya ke kanan, menyeberang ke jalan sisi berlawanan. Lalu mobil terus melaju hingga akhirnya menabrak tembok pagar yang juga dimanfaatkan sebagai kotak surat rumah kost teman saya. Kejadiannya demikian cepat, kata kawan saya yang saat peristiwa itu terjadi dia sedang mencuci tangan di dapur, dan melihat semua runtutan aksi ugal-ugalan si bapak tua itu.

Lalu berhamburanlah orang-orang sekitar, ibu saya yang sedang di dalam rumah pun mendengar debuman yang sangat keras itu. Padahal jaraknya jauh sekali dari lokasi, rumah kami berada di urutan ketiga dari jalan raya.

Dan mobil derek pun tiba. Demikian pula polisi, dan mobil ambulans. Masih menurut teman saya yang menyaksikan kejadian siang itu, polisi membawa keluar dari mobil yang kini hancur mesinnya itu beberapa botol minuman keras. Si penabrak pun dimintakan meniup tes kadar alkohol.

Ada beberapa hal yang masih “untung” dari aksi si bapak tua pemabuk itu. Beruntung di arah berlawanan tidak ada mobil yang sedang melaju, sehingga tidak terjadi tabrakan hidung ketemu hidung. Beruntung juga tidak ada pejalan kaki di sana, karena nasibnya pasti sangat buruk bila dihajar mobil yang dikendarai orang mabuk! Dan beruntung juga, si bapak itu tidak mati di tempat, berkat sistem balon udara di mobil Mercynya itu masih berfungsi sempurna. Dia cuma berdarah sedikit, dan kaca depan juga tidak pecah sama sekali.

Sekali lagi, tidak ada tempat yang berkategori paling aman. Selama masih berkeliaran para pengendara yang mabuk, atau mengantuk, maut di jalan raya adalah hal yang sangat patut diwaspadai. Waspadalah.

 

 

 

Advertisements

Membayar denda parkir

“Surat cinta” dari ranger dibawa pulang oleh suami. Bu Menteri Keuangan disuruh bayar, dan kira-kira begini deh langkah-langkahnya:

 

  1. Langkah pertama, buka situs City of Melville (TKP pelanggaran)

langkah-pertama

2.  Langkah kedua, cari tulisan Fees and Fines, lanjut ke Parking Fines

langkah-kedua

3. Lanjut ke langkah ketiga:

langkah-ketiga

4. Ini ditanya nomor tiket denda:

langkah-keempat

5. Dilanjutkan dengan halaman ini:

langkah-kelima

Denda yang harus dibayar adalah 70 dolar (sekitar Rp700.000), berikutnya adalah kita harus memasukkan detil data kartu debit/ATM. Kalau ingin dikirimi resi bukti bayar, tuliskan alamat rumah dan email.

 

Sepanjang durasi kami di Perth, sudah dua kali kena denda. Harus lebih hati-hati lagi parkirnya.

 

 

 

 

Ungu

Satu lagi hari yang happy buat saya, melihat pemandangan ungu di banyak pohon dan mendengarkan Buble yang entah bagaimana selalu bisa bikin saya merasa cantik (merasa doang sik! hehehe).

Gedung Faculty of Arts di Crawley (6009)

Sebuah gedung di seberang halte bus kampus Curtin di Bentley (6102)

Yang klasik

Si klasik memang selalu lebih menarik. Asalkan masih berfungsi lho ya! Ini pemandangan yang berhasil saya rekam lewat foto. Mobil klasik di pertigaan Bayswater samping kampus UWA. Yang depan adalah mobil yang mutakhir, yang belakang sudah meluncur di jalan jauh lebih awal 🙂 Suka yang mana?

Belanja ayam

 

Salah satu keguyupan di tanah rantau tercipta saat kita membiasakan menambah pundi uang kas organisasi dengan program belanja bareng. Selisih harga beli dan harga transaksi dari pemasok menjadi sumbangan untuk grup pengajian kami di UWA dan di Murdoch. Program pertama yang digulirkan adalah pembelian daging ayam halal di factory outlet-nya Steggles, di kawasan Osborne Park. Lalu ditawarkan juga daging unta, yang unik dalam hal tekstur daging dan aroma.

Program belanja ayam ini lumayan mendapat respon dari teman-teman mahasiswa dan seorang warga permanen yang berbisnis kuliner di Mandurah. Beliau selalu membeli satu boks daging dada fillet (beratnya 15 kg). Dan akhir pekan kemarin adalah kloter belanja ayam untuk dua grup pengajian. Mulanya ditawarkan di grup WA, dirinci siapa mau beli apa dan berapa banyak. Dana ditransfer ke rekening yang dituju, lalu semua mengirimkan bukti transfer–juga lewat WA.

Prosesnya bisa bolak-balik cek WA. Konstan cek sebab beberapa orang mengajukan perubahan atau membatalkan pemesanan. Terus lucunya lagi, setelah dibeli, ada saja yang kurang dibelikan. Kemungkinan kesalahan terletak dari penulisan nama yang sama untuk dua orang yang berbeda. Alhasil, tumpang tindih!

“Ih, gak bakat kayaknya jadi juragan ayam,” keluh saya sambil minta maaf kepada konsumen. Tapi emang beneran, berjualan itu harus lebih teliti, dan lebih baik belanja agak lebih daripada kekurangan. Lessons learned! 🙂

 

p_20161028_153839_1_p.jpg
Harga spesial ala Steggles

 

BTW harga daging ayam fillet lebih murah beli di FO langsung, 7,5 dolar per kilo. Terus ada juga nugget, ayam kampung utuh satu ekor (4.99 per kilo), dan ayam bumbu peri-peri yang tinggal dipanggang (7 dolaran per ekor). Kemarin total pembelian 3 boks karton daging ayam fillet (45 kg), belasan tray ayam peri-peri, dan total belanja menghabiskan lebih dari 500 dolar. Dengan barang belanja yang demikian banyak, kami memerlukan 2 trolley untuk membawa dus-dus itu masuk ke bagasi mobil.

“Kita dikira buka restoran kali yah!” celetuk suami.

 

Perpanjang STNK: 2 menit

Urusan uang, saya adalah manager-nya untuk rumah tangga kecil kami. Semua pendapatan dan pengeluaran saya yang atur. Sampai giliran harga popok murah belinya di mana, atau daun salam yang murmer dapetnya di toko mana, saya yang tau.

Sama juga urusan tagihan. Per bulan ada tagihan untuk gas dan internet. Tiap dua bulan ada tagihan datang untuk air. Dan tiap tiga bulan kami membayar tagihan listrik. Itu semua ditambah lagi dengan bayaran uang sewa (rent) rumah yang kami tunaikan setiap 4 pekan.

Yang agak lama frekuensinya adalah tagihan perpanjangan STNK mobil putih kami. Cuma satu mobil sih, paling kesayangan, dan sangat berjasa dalam petualangan hidup kami merantau di Perth (agak dibumbui bubuk sentimentil!). Nah, ketika kami membeli mobil yang bila dirupiahkan harganya hanya Rp17 juta itu, STNK masih berlaku hingga 3 bulan ke depan. Lumayan, “masih ada nafas” sebelum bayar perpanjangan. Lalu ketika tenggatnya tiba, kami membayar car registration licence fee disingkat “rego” alias STNK dalam istilah Bahasa Indonesia, untuk satu tahun ke depan. Alasannya sederhana saja: supaya tidak mikirin bayar tagihan STNK sampai genap nanti satu tahun berlalu.

Pembayaran rego bisa dilakukan untuk durasi izin yang berlaku 3 bulan, 6 bulan, atau 1 tahun. Dan kita bisa membayarnya ke kantor Departement of Transport (DoT)–sama seperti kalau mengganti data kepemilikan kendaraan dan pembuatan SIM–dan bisa juga membayar secara daring alias lewat internet.

Pagi ini, dalam perjalanan di bis setelah beres belanja kebutuhan dapur, saya berpikir keras apakah rego harus dibayar bulan Oktober ini atau November? Sampai rumah, langsung buka laptop, dan periksa.

screenshot-www-transport-wa-gov-au-2016-10-26-11-20-42

Pertama, buka laman DoT. Cari kolom “pay online” di mana kemudian muncul pertanyaan apakah Anda memiliki account number? Saya pilih tombol “account lookup” dan memasukkan data nomor plat kendaraan yang akan diperpanjang rego-nya. Lalu prosesnya berlanjut ke konfirmasi data mobil, data kartu debit bank, dan satu klik terakhir adalah pengiriman bukti bayar ke email yang kita tuju. Semua tadi beres dalam waktu kurang dari 2 menit!

Terus kalau ingin periksa apakah mobil kita sudah sukses diperpanjang rego-nya, gampang. Klik tombol ini dan masukkan data plat mobil, nanti akan terpampang sampai tanggal berapa STNK mobil berlaku. Saya masukkan data “si putih”, dan keluarlah 26/04/2017. Sudah terbayar untuk enam bulan ke depan, alhamdulillah.

By the way…. besaran rego sedikit lebih mahal tahun ini. Iklannya sudah beredar sejak beberapa bulan lampau, dan pemerintah menjelaskan lewat pengumuman itu bahwa alasan mereka menaikkan biaya izin kendaraan bermotor adalah karena jumlah kasus kecelakaan di jalan raya yang menyebabkan kerusakan otak melonjak. Sebagian dari biaya rego yang dibayarkan adalah asuransi buat korban kecelakaan.

Semisal kecelakaan sampai membuat kecacatan permanen akibat otak yang tidak lagi berfungsi normal, maka biaya perawatan pasca operasi dan pemulihan si korban kecelakaan ditanggung oleh negara. Dari sini, saya melihat sistem asuransi kecelakaan lalu lintas (lakalantas) sangat patut ditiru oleh republik sebelah. STNK itu untuk asuransi pengguna jalan raya, selain tentu saja sumber pendapatan pemerintah dan dana untuk perbaikan kualitas infrastruktur jalan.

Untuk satu kendaraan berupa sedan untuk 5 orang penumpang, rego-nya sekitar 600 dolar atau Rp6 juta. Bagaimana dengan di Indonesia? Ke mana uang STNK-nya?

 

 

 

Rumah susun

Terduduklah saya di salah satu halte di Bentley, menunggu bis yang jadwalnya tertulis di papan bakal lewat jam 9.35. Bis yang terakhir lewat adalah nomor 34, dan itu pukul 9.20. Saya harus ke Crawley pagi ini, sudah ada janji dengan dokter di klinik untuk tes papsmear.

Tak lama berselang, seorang ibu datang. Ia berbaju serba hitam, dan ramah menyapa “Hello”. Saya pun membalas, tak ingin ketinggalan! Saya bilang “Hello” ke perempuan yang terkaan saya sudah mencapai usia 60 tahunan.

Lalu acara menunggu angkot (berupa bis yang ukurannya mirip bis luar kota di Indonesia, berbahan bakar gas, dan lengkap dengan penghangat serta pendingin ruangan tergantung musim) saya buka dengan memulai percakapan bersama si ibu.

“Gedung ini, rasanya sepi. Apakah tidak banyak yang tinggal di sana?” tanya saya sembari menatap dan menunjuk ke sepasang gedung tinggi yang sangat mirip dengan rumah susun ala Indonesia. Gedung yang beberapa kali menjadi bahan obrolan pendek saya dengan suami bila sedang melintasinya.

“Oh, dulu banyak. Sekarang semua warga di gedung bagian depan pindah ke gedung belakang. Banyak yang rusak. Pipa-pipa bocor. Tidak jelas kenapa sampai empat tahun tidak jelas pengerjaannya,” bahas perempuan yang mengaku sudah 7 tahun tinggal di rumah susun itu.

Jadi gedung itu ada sepasang, masing-masing setinggi 9 lantai dan tiap lantainya ada 10 unit dengan 2 kamar tidur. Total unit adalah 180, tapi berhubung kerusakan aneka rupa di gedung paling depan, tinggal sedikit saja yang bertahan dan pindah ke gedung belakang. Berbagai plang pengumuman bahwa kawasan Bentley akan “diremajakan”, tapi paradoksnya hingga empat tahun kerusakan di rumah susun masih saja dibiarkan.

 

p_20161029_092812_p.jpg
Rumah susun Bentley

 

“Padahal gedung ini adalah ‘heritage’, tidak boleh dirobohkan atas alasan warisan kekayaan budaya kota,” ujar lawan bicara saya yang memilih berdiri saat menunggu bis.

Dulu, masih kata si ibu, di kompleks ini ada pusat penitipan anak segala. Ada apotik, minimarket, dan gereja. Perlahan akibat beraneka kerusakan yang tidak diperbaiki, penghuni pun satu per satu angkat kaki. Perumahan rakyat yang menawarkan harga sewa unit yang lebih terjangkau (tentunya), tampak terbengkalai dari luar, dan ternyata hal itu diamini oleh penghuninya sendiri pagi ini.

Saya selalu melihat perumahan rakyat di Bentley–kawasan yang banyak dihuni oleh orang keturunan Aborigin, pendatang (mahasiswa), dan orang dengan tampilan ras non-Kaukasian–memang sangat bagus untuk mensubsidi mereka yang tidak mampu. Tapi kalau kondisinya rusak, ditambah lagi anak2 muda yang suka mabuk dan berisik di malam hari, mungkin kenyamanan adalah harga yang memang harus dibayar oleh mereka yang bertahan.

“Kalau malam, rumah kamu sudah kamu kunci, memang semua aman. Tapi kalau keluar dari unit kamu…duh gak aman!” ujar ibu bergincu tipis itu sembari menyedakapkan tangan dan menggelengkan kepala. Kondisi sepi di pagi hari bisa “menipu”, sebab “anak-anak nakalnya sedang tidur atau keluar”, kata si ibu lagi.

Saya tertegun menatap ekspresinya itu.

Dan tak lama setelah itu, bis yang ditunggu pun datang. Obrolan itu berakhir. Kawan ngobrol saya duduk di kursi paling depan, dan saya memilih duduk agak di tengah. Kembali ke laptop!

 

=====

(Crawley adalah kawasan kampus University of Western Australia/UWA, tempat saya sekolah. Sementara Bentley adalah suburb, macam kecamatan kalau di Indonesia, kampus Curtin University)