Jadi dosen (lagi)

Riangnya hati ini teramat tak terbendung, sampai-sampai ingin membahasnya lewat tulisan yang agak panjang. Setelah meminta kesempatan menjadi tutor (asisten dosen utama–yang biasanya seorang profesor) kepada para supervisor di kampus, dan tidak mendapat kabar gembira apapun, akhirnya tawaran itu disodorkan di salah satu sesi konsultasi rutin saya dengan supervisor di bulan Januari.

“Senin kita rapat, sekalian bahas rencana kamu jadi tutor,” tulis supervisor utama saya di pesan WA.

Agak terkejut karena ternyata dia benar-benar akan memberikan saya kesempatan ini. Menjadi tutor di kelas yang dia ampu. Memang, beberapa kali saya mengekspresikan harapan saya kepada supervisor, bahwa saya kangen ngajar. Kangen menjadi dosen, seperti yang saya telah tekuni di Indonesia. Singkat cerita, permintaan saya akhirnya mendapat sambutan hangat!

Mulai tahun ini, perekrutan tutor di fakultas Arts dilakukan secara terbuka, transparan. Para tutor melamar ke koordinator unit, dan harus menyiapkan CV. Setiap tutor juga diberikan pelatihan tentang mengajar agar mendapat arahan yang sama. Dan saya berutung berada di batch perdana itu!

Hari ini adalah hari pelatihan untuk para tutor Faculty of Arts. Ada yang akan mengajar di ilmu politik, musik, humaniora, dan ada juga yang akan mengajar ilmu sejarah. Di ruang Gentilli, lantai 2, berkumpullah sekitar 50 orang tutor (yang baru akan mulai menjadi tutor dan yang sudah pernah menjadi tutor).

Saya adalah satu-satunya yang berkerudung dan berkebangsaan Indonesia di ruang itu. Gak terlalu istimewa sih, tapi memang begitu data demografinya. Ada beberapa orang Korea, ada juga beberapa orang Jepang, orang Australia, dan non Australia tapi berkulit putih (sori bagian ini saya kurang jelas status warga negaranya). Dan kelas dimulai jam 9 pagi, saya sudah datang sekitar 10 menit sebelumnya.

Tutor buat para tutor, atau mungkin lebih tepatnya menyebut dengan istilah mentor atau fasilitator, adalah seorang ibu taksiran saya berusia di atas 50 tahun. Dia bekerja untuk tim tutor di Fakultas Bisnis, dan ini adalah pengalaman pertamanya mengajar tutor Faculty of Arts. 

gambar-pelatihan-tutor-2

Yang diajarkan adalah tips dan beraneka saran untuk mengatasi suasana kelas tutorial. Dia banyak mengulang saran, tapi tetap saja bermanfaat buat saya menyelami gaya mengajar di universitas Australia. Sebagai tutor, saya bertanggung jawab untuk menciptakan kelas-kelas kecil saya hidup dengan diskusi yang interaktif, antusias dengan tema-tema kuliah, dan membahas bahan bacaan yang sudah ditetapkan di kelas. Untuk kelas tutorial anak S1 (disebut undergrad), besaran kelas bisa antara 20-25 mahasiswa. Di kelas masters (S2), kawan saya yang lebih senior dari saya di urusan PhD, sebab dia beres di tahun ke-7 ini, bilang dia pernah mengajar di kelas masters di mana jumlah mahasiswanya hanya 4 di tutorial.

Nah, apa yang membedakan kelas kuliah (lecture) dan tutorial? Dosen utama mengajar di kelas kuliah yang berisi semua mahasiswa yang mengambil kelas/unit itu. Mahasiswa mendengarkan ceramah/lecture di kelas besar itu, dan di pekan yang sama mereka akan terbagi menjadi kelas-kelas tutorial di mana mereka akan difasilitasi oleh tutor untuk mengulas apa yang mereka baca, tugas kuliah, dan diskusi lebih lanjut soal materi yang dibahas di kelas besar. Mahasiswa di kampus tidak wajib hadir di kelas besar, karena mereka bisa menonton rekamannya lewat laman universitas (LMS). Dan mereka pun tahu bahan ajar yang digunakan apa saja, serta mekanisme penghitungan skor untuk nilai akhir mereka di unit itu.

Sepanjang kelas pelatihan menjadi tutor, saya senang karena memori di kepala terlempar jauh ke masa-masa saya belajar di Brisbane. Mengenang dulu waktu kuliah di UQ itu para tutor ngapain aja, gimana cara ngajarnya, dan teringat beberapa nama yang terkenang karena alasan yang berbeda-beda. Tapi yang paling indah justu kenangan saya mengajar di President Uni. Bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa cerdas dan penuh semangat dari beraneka daerah di Indonesia. Mereka datang dari beraneka latar belakang, sebagian pemalu, sebagian lainnya cadas menyampaikan ide secara tertulis. Ada juga yang aktif berorganisasi dan berkompetisi, sebagian lainnya tidak terlalu aktif tapi sopan dan sungkan kepada para dosennya.

Saya rindu semua itu. Berdiskusi tentang ilmu, membahas apa yang kita baca, menceritakan analisa yang kita pegang terkait sesuatu. Mendengarkan pendapat mereka, menyaksikan peraduan ide di antara mereka, dan menonton kreasi mereka menyusun strategi untuk meraup skor tertinggi di kelas. Sejenak saya duduk di Gentilli membayangkan kelas yang penuh dengan bright minds. Ingat kelas mengajar mahasiswa non WNI, bagaimana mereka demikian kesulitan memahami apa yang saya sampaikan di kelas. Belum lagi ujian yang membuat mereka bingung harus mengantisipasi bagian mana dari serial kuliah yang paling penting. Dan ini juga dijelaskan di kelas tadi, bahwa jangan beri semua bobot bahan bacaan dan materi kuliah secara sama rata. Sebutkan bagian mana saja yang paling penting, paling utama, dari semua materi. Give them the signals about which part of the lectures are the most important to comprehend. Do not weight the readings and all lectures equally, as we can not and should not know about everything in life! 

Bila mengumumkan skor kuis atau hasil ujian di kelas, jangan sebutkan skor terkecil. Cukup skor tertinggi dan mediannya. Kalau mereka komplen soal skor, silahkan dibahas secara individual. Dan bila tidak bisa diselesaikan di level itu, silahkan dibahas dengan koordinator unit. Semua ada di buku ini … nambah bahan bacaan nih LOL!

gambar-pelatihan-tutor-1