God’s handsome helper

It took me two seconds to start feeling how truly lucky I am. And it all happens everytime I tell him my troubles and doubts. He is always there. To calmly listen until I finish my long dreadful discourse. He will wait, and wait. With his careful ears and super sharp mind, he can twist my horrible mood from feeling like a jerk to a point like he said that ‘I have my rights to stand on what I wholeheartedly believe in.’ And let me tell you that very often happens, his single sentence works like magic. He rescued me from a malaise, only reassures me that he is my God’s handsome helper. Helps me to regain my strength when I feel betrayed, when cold and cruel rejections coming insistently. And being the one who can share my worries without letting them become our master. When he is around, I can always be myself. I can look like a princess and he spoilt me. On other days, I can be so misrable yet he said that “I only can love you more”.

 

 

 

Tires time

ban

Our Saturday morning was all about getting new tires for our lovely car. It follows a mechanic’s note made on the latest routine inspection, with a strong notice that we need to replace all four immediately.

Surely, we don’t want anything bad to happen and decided to do the shopping on this weekend. Well, the issue with shopping with me is that I love looking around, obtaining different quotes from various suppliers. My habit often putting my husband’s patience to the test!

Our first stop was Kmart tires and service center at Cannington. A team member, a male with lots of tattoos on his both right and left hands, came out of the office and suggested the price getting 4 new tires plus alignment service is $375. Uniquely, he never showed us his smile nor giving any enthusiastic gesture. And while I was discussing with hubby the amount of money required to do the service there, a female customer who drives a Subaru approached him and requested a service for her car. The respond was more like a gobsmacking to me, as after a couple of sentences the male worker was saying “f**k it”. I caught the words he was saying right after the lady raised her concern over the time required to get the service done. It was said it will take up to 1 hour, but the customer said she only have 30 minutes maximum.

To my personal standards, I simply cannot afford an idea to do business with rude people, let alone in the position where I have alternative options available. I said this to my husband and decided that we will find another place to replace tires. Thus, we went to Tyrepower, which is located not too far from the first center. We met Dan, the store manager, who served our queries a lot more friendly. He gave the same quote, $375, but his tone was much more positive and courteous. But, as I said earlier, I am not yet taking any verdict without checking another store. And we went to Beaurepaires at East Victoria Park–be mindful that all of these shops are located on Albany Hwy.

 

At our third stop, the guy there gave us a quote of $459 but the tires are Goodyear brand as that is the only brand that they can offer. I know… big brands are often costly. And at this time, we prefer to go with the cheaper ones. So the verdict is set to go with Tyre Power, and it came as a surprise to us that we got a 10 dollar discount for replacing two front tires plus alignment included. We need to visit the store again sometime next week to change the rear tires once they are made available.

Keputusan bulat

Saya telah mempertimbangkan ide berhenti mengakses Facebook sejak beberapa bulan lalu. Bahkan selentingan ide–yang tadinya liar–itu muncul setelah nonton film dokumenter Edward Snowden di London pada tahun 2014. Saya terusik dengan pertanyaan terkait dengan siapa yang menuai manfaat dari keberadaan saya di Facebook? Saya-kah? Atau orang-orang lain yang entah di mana mereka berada, dan keuntungan apa saja yang telah mereka rengguk ketika saya aktif kirim foto, dokumen, komentar, bahkan memberikan jempol terhadap info di dinding kawan.

Saya benar-benar berhitung. Mengingat lagi betapa banyak waktu dan energi dihabiskan untuk satu situs itu. Bagaimana selama 8 tahun terakhir saya menghabiskan hidup saya tidak secara bijaksana dan efektif. Tambah absurd lagi ketika politik, SARA, dan narsisme menjalar seperti rambatan pohon liar di musim panas! Sekali lagi, apa sih gunanya Facebook? Sebagian untuk etalase? Atau kamuflase barangkali?

Lalu saya memutuskan untuk benar-benar udahan. Saya nonton beberapa video tentang mengunduh foto, video–dan data lain dari akun Facebook saya–sebelum nanti saya matikan. Riset kecil-kecilan saya menunjukkan hasil yang menarik! Faktanya adalah, cuma ada dua aplikasi yang benar-benar bisa membantu saya mengunduh segala data (berupa foto dan video), di luar opsi yang ditawarkan Facebook (yakni resolusi foto yang sangat menyusut dan tentunya kualitas sudah sangat berkurang jauh!)

Kenapa hanya ada dua aplikasi? Kenapa orang tidak membuat aplikasi yang sangat bermanfaat ini? Kalau kita kirim foto ke Facebook, seperti saya, kualitas dan ukuran foto kira-kira minimal 2000×3000 piksel. Tapi ketika diunduh, tersisa hanya sekitar 400×500 piksel saja. Jelas ini merugikan saya sebagai pemilik foto, terlebih bila saya tidak punya cadangan di komputer atau tercetak di koleksi album.

Seharian tadi saya mengunduh semua foto dan video, ukuran sudah berkurang tapi ada aplikasi yang bisa masih lumayan daripada kualitas unduhan Facebook. Saya sedikit berlega. Malamnya, ketika saya mencoba “membunuh” akun saya secara permanen, berkali-kali saya mendapat bujukan seperti ini:

waktu-mau-keluar

Dan ketika saya mencoba menghapus:

hapus-akun-saya

Berkali-kali saya ditolak dengan alasan sandi dan nama akun saya tidak sesuai. Jadi hingga menit ini, saya baru bisa deaktivasi akun, belum benar-benar bisa menghapus akun itu.

Hidup saya bersama Facebook sedikit lebih lama dibandingkan dengan usia pernikahan saya dengan suami. Menjelang resepsi nikah, saya masih pakai Blogger saat itu. Tiba-tiba kolega, mantan mentor, memuji-muji Facebook demikian rupa. Dibilanglah “bagus untuk kumpulin lagi teman-teman lama” atau “lebih luas jangkauannya”. Dan saya pun tergoda. Saya mulai menggunakan situs itu sejak 2008. Dan selama delapan tahun itu, saya mengunggah lebih dari 6.000 foto dan video. Dan kehidupan saya seperti tidak lepas dari Facebook. Ini aneh, karena sudah menjadi semacam adiksi yang sama sekali tidak saya sukai. Saya tipe orang yang cenderung merasa tidak nyaman dengan segala bentuk adiksi, karena saya selalu melihat candu membuat saya ceroboh, tidak cermat dan tidak bijaksana.

Dibilanglah “bagus untuk kumpulin lagi teman-teman lama” atau “lebih luas jangkauannya”. Dan saya pun tergoda. Saya mulai menggunakan situs itu sejak 2008. Dan selama delapan tahun itu, saya ternyata sudah mengunggah lebih dari 6.000 foto dan video. Dan kehidupan saya seperti tidak lepas dari Facebook.

Ini terasa sangat janggal sekaligus tidak nyaman buat saya. Facebook menjadi semacam adiksi yang sama sekali tidak saya sukai, sebab saya tipe orang yang cenderung merasa tidak nyaman dengan segala bentuk adiksi. Candu membuat saya ceroboh, tidak cermat dan tidak bijaksana.

This part of life is what I call as a new day. Let us hope this path is easier that expected! And I hereby proudly declaring, “Good bye, Facebook!” 🙂

Panas = tempe

 

Bentley membara. Kemarin benar-benar panas sekali di dalam rumah karena suhu di luar ruangan mencapai 37 derajat Celcius. Akhirnya musim dingin selesai dan diganti dengan musim panas, ini adalah waktu yang paling pas untuk membuat tempe. Ya, tempe! Karena panganan khas Indonesia ini memang membutuhkan suhu yang hangat untuk dibuat. Beberapa kali pernah sih coba menggunakan teknik panas buatan (pakai selimut atau pemanas ruangan), tapi saya selalu kurang beruntung.

Sekali lagi… musim panas adalah musim paling tepat untuk membuat tempe. Ibu saya yang sedang senang sekali berkreasi membuat tempe pun sudah berkali-kali membuatnya.

Resepnya sederhana. Dimulai dari merendam kacang kedelai dengan air selama semalaman, lalu direbus untuk merontokkan kulit kacang, terkadang direbus sampai dua kali bila memang diperlukan. Terus dikasih ragi, lalu dimasukkan ke dalam plastik yang kemudian permukaannya ditusuk-tusuk dengan jarum pentul.

Kami di rumah menggunakan ragi aseli Indonesia yang dibeli di toko Asia. Sedikit saja pemakaiannya, lumayan canggih menghasilkan tempe yang Indonesia banget!

 

p_20161114_110524.jpg

Lalu tempe dijemur di dekat pintu agar mendapat hawa panas dari luar rumah. Terkadang ibu saya juga menempatkannya di bawah perosotan anak-anak yang masih ada bayangan sehingga tidak terpapar sinar matahari secara langsung.

Kemarin sempat dua hari tempe tidak berkembang. Nyaris putus asa, tapi Mami membongkarnya. Merebus ulang, dan dikasih ragi lagi. Alhamdulillah masih rejeki kami, tempe hasil rekonstruksi bisa jadi cantik seperti foto di bawah ini:

p_20161114_081423.jpg

Jamurnya tumbuh sangat tebal di antara bulir-bulir kacang kedelai. Thinking of tempe mendoan, tempe campur labu siyam ditumis pedas, tempe goreng kering plus ikan teri, super yum!! 🙂

Rumah susun

Terduduklah saya di salah satu halte di Bentley, menunggu bis yang jadwalnya tertulis di papan bakal lewat jam 9.35. Bis yang terakhir lewat adalah nomor 34, dan itu pukul 9.20. Saya harus ke Crawley pagi ini, sudah ada janji dengan dokter di klinik untuk tes papsmear.

Tak lama berselang, seorang ibu datang. Ia berbaju serba hitam, dan ramah menyapa “Hello”. Saya pun membalas, tak ingin ketinggalan! Saya bilang “Hello” ke perempuan yang terkaan saya sudah mencapai usia 60 tahunan.

Lalu acara menunggu angkot (berupa bis yang ukurannya mirip bis luar kota di Indonesia, berbahan bakar gas, dan lengkap dengan penghangat serta pendingin ruangan tergantung musim) saya buka dengan memulai percakapan bersama si ibu.

“Gedung ini, rasanya sepi. Apakah tidak banyak yang tinggal di sana?” tanya saya sembari menatap dan menunjuk ke sepasang gedung tinggi yang sangat mirip dengan rumah susun ala Indonesia. Gedung yang beberapa kali menjadi bahan obrolan pendek saya dengan suami bila sedang melintasinya.

“Oh, dulu banyak. Sekarang semua warga di gedung bagian depan pindah ke gedung belakang. Banyak yang rusak. Pipa-pipa bocor. Tidak jelas kenapa sampai empat tahun tidak jelas pengerjaannya,” bahas perempuan yang mengaku sudah 7 tahun tinggal di rumah susun itu.

Jadi gedung itu ada sepasang, masing-masing setinggi 9 lantai dan tiap lantainya ada 10 unit dengan 2 kamar tidur. Total unit adalah 180, tapi berhubung kerusakan aneka rupa di gedung paling depan, tinggal sedikit saja yang bertahan dan pindah ke gedung belakang. Berbagai plang pengumuman bahwa kawasan Bentley akan “diremajakan”, tapi paradoksnya hingga empat tahun kerusakan di rumah susun masih saja dibiarkan.

 

p_20161029_092812_p.jpg
Rumah susun Bentley

 

“Padahal gedung ini adalah ‘heritage’, tidak boleh dirobohkan atas alasan warisan kekayaan budaya kota,” ujar lawan bicara saya yang memilih berdiri saat menunggu bis.

Dulu, masih kata si ibu, di kompleks ini ada pusat penitipan anak segala. Ada apotik, minimarket, dan gereja. Perlahan akibat beraneka kerusakan yang tidak diperbaiki, penghuni pun satu per satu angkat kaki. Perumahan rakyat yang menawarkan harga sewa unit yang lebih terjangkau (tentunya), tampak terbengkalai dari luar, dan ternyata hal itu diamini oleh penghuninya sendiri pagi ini.

Saya selalu melihat perumahan rakyat di Bentley–kawasan yang banyak dihuni oleh orang keturunan Aborigin, pendatang (mahasiswa), dan orang dengan tampilan ras non-Kaukasian–memang sangat bagus untuk mensubsidi mereka yang tidak mampu. Tapi kalau kondisinya rusak, ditambah lagi anak2 muda yang suka mabuk dan berisik di malam hari, mungkin kenyamanan adalah harga yang memang harus dibayar oleh mereka yang bertahan.

“Kalau malam, rumah kamu sudah kamu kunci, memang semua aman. Tapi kalau keluar dari unit kamu…duh gak aman!” ujar ibu bergincu tipis itu sembari menyedakapkan tangan dan menggelengkan kepala. Kondisi sepi di pagi hari bisa “menipu”, sebab “anak-anak nakalnya sedang tidur atau keluar”, kata si ibu lagi.

Saya tertegun menatap ekspresinya itu.

Dan tak lama setelah itu, bis yang ditunggu pun datang. Obrolan itu berakhir. Kawan ngobrol saya duduk di kursi paling depan, dan saya memilih duduk agak di tengah. Kembali ke laptop!

 

=====

(Crawley adalah kawasan kampus University of Western Australia/UWA, tempat saya sekolah. Sementara Bentley adalah suburb, macam kecamatan kalau di Indonesia, kampus Curtin University)

 

 

 

 

 

 

Ledakan semangat

Kemarin Perth kedatangan cendikia asal Indonesia, dua PhD di bidang internet dan teknologi komunikasi. Cetarnya saat salah satu dari mereka mengingatkan bahwa menulis buku adalah mudah. Tiga hari bisa jadi satu buku, lantas dikirim ke penerbit maya, NulisBuku.com, viola! Jadi deh buku.

Saya baru berhasil nulis satu buku atas nama sendiri. Dua buku keroyokan, satu lagi sedang proses (keroyokan lagi). Tapi hati kecil saya tergugah dengan ledakan semangat dari obrolan kemarin. Ya, kita berkarya lewat buku. Dan biarkan orang mengenal kita lewat karya tertulis, yang konon bisa sangat jauh dan lama efeknya. 
Yuklah ditiru. Bergerak! 😇

Salah satu “mobile office” saya…hari ini di Bentley Library.