Terbang ke Adelaide

image

Ketika suami pulang dari kerja tadi siang, saya sedang membacakan buku cerita Nabi Sulaiman untuk Safiyya. Saya agak menyesal telah memperkenalkan dia dengan Youtube di hape dan laptop, sehingga ia sekarang “rajin” sekali meminta agar diizinkan nonton dari hape atau laptop saya. Sungguh itu bukan yang saya rencanakan dengan anak-anak kami. Sebisa mungkin deh jauh dari gadget sampai usia mungkin 7 tahun.

Lalu suami makan siang, bercerita soal hari ini melihat ada rumah yang lantai duanya ditempelkan dengan mesin yang besar sekali, sampai menutup tempat biasa dia parkir.

Saya sudah mandi dan rapih sebelum dia tiba. Jam 3 kami berangkat ke bandara. Anak-anak dan mami pun ikut. Sempat hampir ketinggalan hape, tp untung masih di depan rumah. Mampir ke perpustakaan Reid sebentar untuk mengembalikan buku yang sudah ditagih hari ini harus dipulangkan

Lanjut ke bandara, ternyata salah terminal. Jetstar domestik ada di T3, jadilah kami keluar lagi ke Tonkin Highway. Masih punya banyak waktu, kami tiba di T3 sekitar 1 jam sebelum waktu boarding.

Saya ke antrian bag drop kemudian berpamitan dengan mami dan Safiyya. Cium tangan suami juga, dan dia berpesan agar saya hati-hati di Adelaide. Selalu ada rasa berat meninggalkan anak, saya benci dengan keadaan yang satu itu. Tapi ini bukan senang2 buat saya. Berpisah dengan anak dan suami, untuk urusan kerjaan, bukan hal yang saya sukai tapi tidak boleh juga saya kutuk. Suami saya lelaki hebat dan sangat mendukung apapun yang saya kerjakan. Tim yang solid, itu selalu jadi tagline saya dengan dia alhamdulillah.

Di bandara saya mendapati T3 adalah terminal orang Perth yang mau pergi ke daerah tambang di WA atau negara bagian lain di Australia. Rasanya jarang saya jumpai orang selain kulit putih! Petugasnya yang memandu adalah beberapa ibu tua dan ketika saya tanyakan di mana tempat berdoa, ia menjawab sayangnya tidak ada. “Tapi di lantai atas pasti ada ruangan yang agak sepi yang bisa kamu pakai untuk ibadah”, begitu kira2 jawabannya.

Saya pun tersenyum dan berlalu. Ya, tempat ibadah ada di terminal internasional T1, tapi tidak di T3. Naik ke lantai dua adalah ruang tunggu keberangkatan. Ramai orang di pintu 21-25, di sana tertulis tujuan adalah Melbourne dan Adelaide. Mayoritas kulit putih, hanya saya mungkin yang berkerudung dan orang Indonesia.

Sebelumnya, saya wudhu di kamar kecil dan memilih untuk sholat di ruang menyusui, menggeser kursi sedikit. Terdengar ada suara pria mau masuk, tp tidak jadi setelah lihat saya sholat. Lalu berselang beberapa waktu ada ibu muda masuk mengganti popok bayinya. Selepas sholat, saya langsung minta maaf dan beralasan cuma tempat ini yg saya temukan agak sepi.

image

Duduk saya di pesawat tipe Boeing A320 itu di kursi 17E. Di tengah. Berkenalan dengan Elizabeth asal Tanzania yang sudah 4 tahun di Perth dan ingin pindah ke Adelaide saja berkumpul dengan keluarganya.

Perempuan berkaca mata ini sangat ramah. Ia bercerita tentang pekerjaannya di Perth. “Saya kerja di rumah jompo (age care) dan juga child care,” katanya.

“In this country, if you want a good job, you have to study.”

Elizabeth sudah mengantongi sertifikat 3 age care, sertifikat 3 child care, dan segera di Adelaide ia ingin sekolah asisten suster karena lowongan pekerjaannya sangat banyak, ujarnya. Saya sempat menyanggah. Bukankah di Perth sedang ada pemangkasan anggaran sehingga pekerja medis pun berkurang lowongannya? Ia terlihat agak bingung, mungkin tidak pasti apa yang harus menjadi jawabnya.

Di sela-sela obrolan kami, Elizabeth sempat menunjukkan foto2nya dalam balutan baju tradisional Afrika.

“Lihat. Kami orang Afrika suka pakai baju tradisional kami. Tidak suka pakai celana apalagi celana pendek.”

Perempuan yang baru menikah 4 tahun itu mengaku telah 5 kali mengalami keguguran, dan yang terakhir sebulan lalu keguguran terjadi di pekan ke 32. Perutnya buncit di foto yang dia tunjukkan. Sedih sekali.

Sementara itu, duduk di sebelah saya adalah seorang pria kulit putih yang diam saja. Dia memesan bir, ketika saya super senang makan kue mufin pisang yang besar dilengkapi dengan sajian coklat panas nan lezat. Semua itu cuma lima dolar, tunai. Kayaknya lebih murah di pesawat daripada di bawah haha…

image

Tak ingin “mati gaya” di perjalanan 3 jam di udara, saya membuka laptop merah dan mencoba menambah transkrip wawancara dengan narasumber di Jakarta. Awalnya fokus, tapi lama2 terasa mual di perut dan pening di kepala. Saya stop, dan mengatur nafas sembari mencoba tidur meski akhirnya gagal.

Perjalanan rupanya lebih lama dari jadwal, kawan saya yang mau menjemput sampai parkir di dekat bandara menunggu saya berada di pick up point. Jadi kalau dijemput, rata2 orang biasanya berdiri di pick up point, bukan dijemput benar2 di lobi kedatangan. Setelah mendarat, ada perjalanan yang agak jauh ke ban berjalan tempat tas-tas penumpang bisa diambil. Ada seorang ibu berjalan dengan dua anaknya, yang ternyata salah satunya memiliki daya lihat yang rendah. Ia berjalan memegang tongkat ke arah depan kakinya bergerak, sambil tangan lainnya digandeng sang bunda. Mereka tampak lelah sekaligus bahagia, dan ekspresi pertemuan di bandara memang sungguh khas! Suami membawa mobil, membukakan pintu buat anak2 dan istrinya. Mereka berciuman beberap detik, dan ketika semua koper masuk ke bagasi mobil dengan stiker bertuliskan Red Army di kaca belakang, si ibu dan si bapak kembali berciuman penuh kebahagiaan, bahkan sempat ada teriak kecil saat tubuh perempuan dipeluk diangkat sedikit ke udara. Ekspresif!

image

Saya pun masih menunggu ketika adegan keriangan itu berlalu. Tinggal saya dan beberapa petugas keamanan di ruas sepi. Dan tak lama adik kelas di UGM pun tiba dengan mobil sedannya. Elizabeth juga sdh dijemput adiknya. Malam ini saya mulai menginap, adaptasi dengan keasingan, tapi semoga besok hariku menyenangkan!

Advertisements

Menyusun “Buku” Baru

Malam ini saya sama sekali tidak bisa tidur. Rasanya sulit memejamkan mata untuk beberapa alasan yang mungkin saya saja yang bisa mengerti. Berbeda dengan malam-malam sebelumnya, Safiyya yang mengeluh sembari menangis merintih dan baru bisa terlelap jam 12 malam, dilanjutkan saya yang membaca-baca unggahan kawan di Facebook, sehingga saya terdampar di sebuah blog yang super menggugah.

Blog itu membangkitkan kembali kebiasaan saya yang sudah agak lama tenggelam, kebiasaan apalagi kalau bukan menulis blog! Dulu saya sudah menulis di blog. Mulai dari curhat gak penting, sampai materi bahan berita. Di blog lama saya itu, saya menjalin komunikasi dengan orang-orang yang dekat dengan saya.

Metode ini terbukti efektif karena ketika saya ke luar negeri untuk liputan misalnya, saya bisa unggah perkembangan saya di sana, dan mendapat respon dari sahabat-sahabat dekat saya (yang akhirnya salah satunya menjadi suami saya). Saya bahkan berkenalan dengan orang yang tidak pernah saya jumpai di keseharian, tapi dia sangat rajin komentar di setiap materi dan sering juga kami akhirnya bertelpon membahas secara “offline”.

Persoalan dengan blog lama saya itu klasik. Saya sakit hati. Atau patah hati, entah mana yang lebih pas. Saya merasa si penyedia layanan blog itu demikian kejam “merampas” dan “memusnahkan” semua memori yang saya simpan karena secara sederhana layanan itu tiba-tiba diumumkan akan segera dihapus secara permanen! Siapa sangka? Dan akhirnya di akhir 2008 berkenalan dengan media sosial, yang jujur tidak akan pernah sehebat blog untuk urusan-urusan seperti yang dijabarkan Pak Romi.

Saya sangat percaya malam ini adalah momennya. Saya mau menyusun “buku” baru, membangun jejak-jejak yang disusuri dengan harapan semua ini menjadi ikhtiar saya mengikat sedikit ilmu yang saya pelajari dan alami, siapa tahu bermanfaat bagi pembacanya. Kalau tidak berguna untuk pengunjung, minimal masih ada gunanya bagi saya sebagai penyimpan “celoteh” 🙂

Bismillah, semoga blog ini menghibur!

Perth,

Selasa 19 April 2016