Keputusan bulat

Saya telah mempertimbangkan ide berhenti mengakses Facebook sejak beberapa bulan lalu. Bahkan selentingan ide–yang tadinya liar–itu muncul setelah nonton film dokumenter Edward Snowden di London pada tahun 2014. Saya terusik dengan pertanyaan terkait dengan siapa yang menuai manfaat dari keberadaan saya di Facebook? Saya-kah? Atau orang-orang lain yang entah di mana mereka berada, dan keuntungan apa saja yang telah mereka rengguk ketika saya aktif kirim foto, dokumen, komentar, bahkan memberikan jempol terhadap info di dinding kawan.

Saya benar-benar berhitung. Mengingat lagi betapa banyak waktu dan energi dihabiskan untuk satu situs itu. Bagaimana selama 8 tahun terakhir saya menghabiskan hidup saya tidak secara bijaksana dan efektif. Tambah absurd lagi ketika politik, SARA, dan narsisme menjalar seperti rambatan pohon liar di musim panas! Sekali lagi, apa sih gunanya Facebook? Sebagian untuk etalase? Atau kamuflase barangkali?

Lalu saya memutuskan untuk benar-benar udahan. Saya nonton beberapa video tentang mengunduh foto, video–dan data lain dari akun Facebook saya–sebelum nanti saya matikan. Riset kecil-kecilan saya menunjukkan hasil yang menarik! Faktanya adalah, cuma ada dua aplikasi yang benar-benar bisa membantu saya mengunduh segala data (berupa foto dan video), di luar opsi yang ditawarkan Facebook (yakni resolusi foto yang sangat menyusut dan tentunya kualitas sudah sangat berkurang jauh!)

Kenapa hanya ada dua aplikasi? Kenapa orang tidak membuat aplikasi yang sangat bermanfaat ini? Kalau kita kirim foto ke Facebook, seperti saya, kualitas dan ukuran foto kira-kira minimal 2000×3000 piksel. Tapi ketika diunduh, tersisa hanya sekitar 400×500 piksel saja. Jelas ini merugikan saya sebagai pemilik foto, terlebih bila saya tidak punya cadangan di komputer atau tercetak di koleksi album.

Seharian tadi saya mengunduh semua foto dan video, ukuran sudah berkurang tapi ada aplikasi yang bisa masih lumayan daripada kualitas unduhan Facebook. Saya sedikit berlega. Malamnya, ketika saya mencoba “membunuh” akun saya secara permanen, berkali-kali saya mendapat bujukan seperti ini:

waktu-mau-keluar

Dan ketika saya mencoba menghapus:

hapus-akun-saya

Berkali-kali saya ditolak dengan alasan sandi dan nama akun saya tidak sesuai. Jadi hingga menit ini, saya baru bisa deaktivasi akun, belum benar-benar bisa menghapus akun itu.

Hidup saya bersama Facebook sedikit lebih lama dibandingkan dengan usia pernikahan saya dengan suami. Menjelang resepsi nikah, saya masih pakai Blogger saat itu. Tiba-tiba kolega, mantan mentor, memuji-muji Facebook demikian rupa. Dibilanglah “bagus untuk kumpulin lagi teman-teman lama” atau “lebih luas jangkauannya”. Dan saya pun tergoda. Saya mulai menggunakan situs itu sejak 2008. Dan selama delapan tahun itu, saya mengunggah lebih dari 6.000 foto dan video. Dan kehidupan saya seperti tidak lepas dari Facebook. Ini aneh, karena sudah menjadi semacam adiksi yang sama sekali tidak saya sukai. Saya tipe orang yang cenderung merasa tidak nyaman dengan segala bentuk adiksi, karena saya selalu melihat candu membuat saya ceroboh, tidak cermat dan tidak bijaksana.

Dibilanglah “bagus untuk kumpulin lagi teman-teman lama” atau “lebih luas jangkauannya”. Dan saya pun tergoda. Saya mulai menggunakan situs itu sejak 2008. Dan selama delapan tahun itu, saya ternyata sudah mengunggah lebih dari 6.000 foto dan video. Dan kehidupan saya seperti tidak lepas dari Facebook.

Ini terasa sangat janggal sekaligus tidak nyaman buat saya. Facebook menjadi semacam adiksi yang sama sekali tidak saya sukai, sebab saya tipe orang yang cenderung merasa tidak nyaman dengan segala bentuk adiksi. Candu membuat saya ceroboh, tidak cermat dan tidak bijaksana.

This part of life is what I call as a new day. Let us hope this path is easier that expected! And I hereby proudly declaring, “Good bye, Facebook!” 🙂

Advertisements

CD murah

Kalau suka baca, suka nonton, dan suka beli barang di harga murah seperti saya pasti suka dengan perpustakaan di Australia. Menjadi anggota adalah gratis, asalkan bisa menunjukkan bahwa Anda memang penduduk sekitar (barang bukti yang diterima antara lain surat kontrak rumah/lease atau surat tagihan atas nama kita).

[Tintin dan Asterix, video buat nonton sama anak-anak]

Fasilitasnya? Meminjam buku, VCD, CD, mainan anak selama 3 pekan. Semua gratis dan bisa diperpanjang via Internet. Kita juga boleh pesan buku dari perpustakaan lain bila di perpustakaan tempat kita terdaftar tidak mengoleksinya.

Kalau pengalaman saya hari ini adalah membeli barang cuci gudang, istilahnya. Koleksi CD lawas perpustakaan di harga 50 sen saja.Alias setara Rp5.000. Pilihannya tidak banyak, tapi ada The Corrs, Andrea Bocelli (kesukaannya Niken), Lighthouse Family, dan satu CD musik klasik. Empat CD ditebus dengan satu koin saja. Ah.. sweet!

Metode berhitung

 

Untuk menjawab sebuah pertanyaan, kita memiliki banyak metode untuk menunjukkan jawaban. Di riset yang sedang saya garap, saya beruntung secara tidak sengaja berkenalan dengan seorang profesor marketing dari Amerika. Dia di Perth selama tiga bulan dan mengajarkan metode berhitung yang asik. Di hari pertama dia ngasih pelatihan, dia bilang bahwa riset yang bagus itu gak selalu menggunakan bahan atau data yang kita ambil sendiri (semisal wawancara, survei dll). Kalau mau taktis dalam menggunakan masa studi, gunakan saja data yang sudah dibuat lembaga berkompeten di bidangnya, dan kamu mainkan dengan teknik yang berbeda-beda.

Untuk metode penelitian, saya dikenalkan dengan sedikitnya 15 jenis dan disarankan agar mencicipi minimal 3-4 dari yang banyak itu agar lebih kaya pendekatannya. Biar gak sempit metodenya.

Dan itulah rencana saya dengan riset S3. Kombinasi tiga metode yang semuanya akan menjadi penguat dalam penyusunan argumen. Dimulai dengan kualitatif yang menggunakan data wawancara salah satu negara yang dikaji. Lalu pendekatan kuantitatif dengan memanfaatkan metode fuzzy set Qualitative Comparative Analysis (fsQCA) serta metode multiple regression analysis (MRA). Dengan data yang sama, dua metode (fsQCA dan MRA) akan saling melengkapi kajian yang memiliki kekuatan complexity theory.

Kira-kira, saya akan memulai dengan gambar per variabel atau per kondisi yang diamati seperti ini:

female-participation-in-labor-force-countries

 

Lalu bergerak ke meracik recipe prediksi seperti yang berikut:

 

women-in-parliament-and-all-socioeconomic-development-indicators

Lanjut ke mari…..

mra-on-screen

Semoga bisa menuliskannya menjadi riset yang patut menjadi acuan. Amiien!

Ungu

Satu lagi hari yang happy buat saya, melihat pemandangan ungu di banyak pohon dan mendengarkan Buble yang entah bagaimana selalu bisa bikin saya merasa cantik (merasa doang sik! hehehe).

Gedung Faculty of Arts di Crawley (6009)

Sebuah gedung di seberang halte bus kampus Curtin di Bentley (6102)